Oleh : Adisa NF
Member AMK dan Pegiat dakwah

Dari kejauhan terlihat ada sebuah negeri yang sangat indah pemandangannya. Sungai yang melingkar, pepohonan hijau yang rindang, pesawahan dan pegunungan yang cantik menawan menambah kemegahan negeri itu. Negeri itu banyak diperbincangkan oleh orang-orang yang pernah berkunjung ke sana. Mereka menggambarkan bagaimana keadaan masyarakatnya yang ramah, sopan, solid dan saling menjaga agar semua yang ada di negeri tersebut aman, tenang dan tenteram. Demikian pula bagaimana sikap pemimpinnya bak rakyat biasa yang selalu berbaur, melihat keadaan negerinya setiap saat tanpa ada pengawalan, bukti negeri itu aman dari para penjahat. Itulah sebuah negeri dambaan yang sangat dikagumi, dihormati dan ditakuti negeri lainnya.

Sedikit gambaran pertanda kehidupan negeri itu menjalankan tata aturan mengikuti sistem aturan yang baik, perintah dari Yang Maha baik. Karena jika manusia mau menjadi yang terbaik disisi-Nya maka yang dijalankan harus sesuai perintah-Nya.

Saat ini, kondisi berbagai negeri sedang diliputi masa krisis di berbagai sektor. Salah satu yang menjadi sorotan dan sangat dirasakan oleh seluruh negeri adalah krisis ekonomi yang semakin buruk. Terutama terjadi di negeri yang kita cintai ini pada tahun 2020 ini. Menurut wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Eko Listyanto, Indonesia saat ini sebenarnya sudah bisa disebut mengalami resesi.

BPS mencatat perlambatan ekonomi Indonesia terjadi sejak kuartal I 2019 tercatat sebesar 5,07 persen, kuartal II 2019 sebesar 5,05 persen, kuartal III 2019 sebesar 5,02 persen dan kuartal IV 2019 hanya 4,97 persen. (cnbcindonesia.com, Senin/5/8/2019)

Krisis ekonomi ini ditengarai akan lebih parah ketimbang krisis ekonomi tahun 2008-2009 lalu. Penanganan kasus virus Corona yang tidak serius dan senantiasa lambat akan semakin memperparah kondisi ekonomi negeri ini.

Pun secara global, ekonomi dunia saat ini akan mengalami krisis yang cukup serius. Krisis global terlihat secara menyeluruh di berbagai negeri termasuk negeri-negeri penghasil minyak, karena harga minyak dunia terus mengalami kemerosotan. Wabah virus Covid-19 yang tidak menunjukkan tanda-tanda perlambatan ini memicu kekhawatiran sebagian pihak.

Krisis ekonomi global yang terus berulang terjadi sejatinya bukan karena adanya Corona. Tapi merupakan konsekuensi logis akibat penerapan aturan sistem ekonomi kapitalis secara global di seluruh dunia. Kerusakan sistem ekonomi kapitalisme juga dapat dilihat dari berbagai pola dan sistem untuk menopang kebebasan kepemilikan harta dan pengelolaannya dengan sistem ribawi. Misalnya, perbankan dengan suku bunga, berkembangnya sektor non-riil dalam perekonomian yang melahirkan pasar modal dan perseroan terbatas, utang luar negeri yang menjadi modal pembiayaan pembangunan, penggunaan sistem moneter yang diterapkan di seluruh dunia yang tidak disandarkan pada emas dan perak. Ditambah lagi adanya privatisasi pengelolaan sumber daya alam yang merupakan milik dan kebutuhan publik/umum.

Selama sistem ekonomi kapitalis yang digunakan, krisis akan terus berulang. Bahkan dengan waktu yang lebih singkat seperti terjadinya the great depression pada tahun 1930, tahun 1960-an. Siklusnya 30 tahunan. Krisis berikutnya terus berulang hampir tiap sepuluh tahun, seperti tahun 1970-an, dan 1998. Ini menunjukkan sistem ekonomi kapitalis memang sudah memiliki cacat bawaan sehingga krisis merupakan suatu keniscayaan.

Saat ini, sebelum ada wabah virus Corona, masyarakat sudah merasakan bagaimana dampak dari penerapan sistem ekonomi kapitalis ini. Bahan pokok kian melangit, listrik terus naik seperti tangga berjalan, sulitnya mencari mata pencaharian, biaya sekolah meroket, biaya kesehatan melejit bak satelit. Semuanya sudah dirasakan masyarakat secara umum. Kehidupan dirasa semakin sempit. Belum lagi, perhatian pemimpin penerap aturan kapitalis ini, lebih mendahulukan memenuhi kebutuhan keluarga dan para investor asing, dibanding dengan memperhatikan kondisi rakyat yang terus menjerit.

Bagaimanapun juga, untuk menyelamatkan negeri ini khususnya dan dunia secara umum dari krisis berulang, kita harus menghentikan penerapan sistem ekonomi kapitalis yang hanya bisa dihentikan jika muncul negeri seperti yang dulu pernah Rasulullah saw. dan para khalifah sesudahnya contohkan. Yang hanya menerapkan sistem ekonomi Islam secara kaffah saja bukan yang lain.

Kembalinya Kekhalifahan berarti dimulainya kembali kehidupan Islam. Ini akan membuat semua manusia yang hidup di dalamnya akan berpikir dan berhukum dengan hukum Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Baik kehidupan ekonomi, politik, maupun kehidupan sosial serta aspek lainnya.

Dalam Kekhalifahan, menyelesaikan krisis ekonomi untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan rakyat ada hal penting yang akan dijalankan oleh khalifah, sebagai kepala negara.

Pertama, menjalankan politik ekonomi Islam dengan tujuan memberikan jaminan pemenuhan pokok setiap warga negara (muslim dan non-muslim) sekaligus mendorong mereka agar dapat memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier sesuai dengan kadar individu yang hidup dalam masyarakat tertentu.

Khilafah akan melaksanakan dan memantau perkembangan perekonomian dan pembangunan dengan menggunakan indikator yang menyentuh tingkat kesejahteraan masyarakat yang sebenarnya bukan hanya pertumbuhan ekonomi. Karena dikator ekonomi tidak bisa lepas dari indikator sosial dan hukum. Misalnya, terpenuhinya kebutuhan pokok (primer) setiap warga negara yang meliputi sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, keamanan, tingkat kemiskinan, ketenagakerjaan, pengangguran serta kriminalitas semua saling berkaitan. Jadi jika hanya pertumbuhan ekonomi tinggi tapi jumlah pengangguran dan gelandangan yang hidup di kolong jembatan banyak, putus sekolah tinggi, prostitusi menjalar, korupsi menggurita, narkoba dan penyakit berbahaya merajalela, sesungguhnya itu belum menyentuh tingkat kesejahteraan masyarakat yang hakiki.

Kedua, mengakhiri dominasi dolar dengan sistem moneter berbasis dinar dan dirham. Karena dinar-dirham merupakan alat tukar yang adil bagi semua pihak, terukur dan stabil. Selama ini dolar sering dijadikan alat oleh Amerika Serikat sebagai pencetak dolar untuk mempermainkan ekonomi dan moneter.

Ketiga, tidak akan mentolerir berkembangnya sektor non-riil. Selain diharamkan (mengandung unsur riba dan judi), juga menyebabkan sektor riil tidak bisa berjalan secara optimal.

Keempat, mengatur sistem kepemilikan sesuai dengan syariat Islam yaitu memilah mana kepemilikan individu, masyarakat (umum) dan negara. Sehingga tidak ada kasus individu yang diperbolehkan memiliki dan menguasai harta yang menjadi milik umum. Apalagi diserahkan hak pengelolaannya kepada swasta atau privatisasi.

Kelima, mengelola sumberdaya alam (SDA) secara adil. Negaralah yang akan mengelola SDA sebagai penanggungjawab dalam keamanan, penyediaan komoditas primer untuk keperluan pertahanan dan perekonomian khilafah. Dan menjadi sumber pemasukan negara yang melimpah pada pos harta milik umum.

Selain kelima hal tersebut, negara khilafah akan melarang dan menghentikan perjudian dan investasi di tempat hiburan, menjaga keseimbangan ekonomi masyarakat, dan sebagainya. Sehingga krisis bisa diakhiri dan dihentikan hanya dengan kembali kepada sistem aturan dari Pencipta aturan manusia. Dialah aturan yang sempurna dan paripurna. Yang mengalami kemajuan luar biasa, yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad. Inilah model negeri idaman setiap manusia yang mendamba.

Wa ma tawfiqi illa bilLah. Wallahu a'lam bishawab. [anf]
 
Top