Oleh : Rosmita
Aktivis Dakwah Islam dan Member AMK


Manusia memiliki 3 kebutuhan dasar yang harus terpenuhi, yaitu pangan, kesehatan, dan rasa aman. Apabila salah satunya tidak terpenuhi, maka manusia tidak bisa hidup tenang. Contoh, saat manusia kehilangan rasa aman.

Rasa aman adalah perasaan dimana kita tidak khawatir atau terhindar dari berbagai macam ancaman bahaya yang datang kepada kita.

Menurut Moslow, kebutuhan-kebutuhan akan rasa aman ini diantaranya adalah rasa aman fisik, stabilitas, ketergantungan, perlindungan dan kebebasan dari daya-daya mengancam seperti kriminalitas, perang, terorisme, penyakit, takut, cemas, bahaya, kerusuhan dan bencana alam.

Saat ini negara kita sedang dilanda wabah virus corona. Pertama kali diumumkan 2 orang yang terjangkit virus corona awal Maret lalu, hingga kini tercatat sudah seribu orang lebih PDP. Bahkan yang meninggal sudah lebih dari 500 orang. Penyebarannya yang begitu cepat dan mudah (dari orang ke orang) membuat kita harus lebih waspada. Anjuran pemerintah untuk tetap di rumah aja pun dijalankan. Sekolah-sekolah diliburkan, para pekerja dirumahkan. Ibadah pun dianjurkan di rumah saja. Namun belum bisa menghentikan wabah yang terus meluas.
Rasa khawatir dan ketakutan pun menghampiri. Takut kalau salah satu orang yang kita sayangi atau diri kita terjangkit virus tersebut.

Belum lagi keadaan ekonomi yang menurun drastis, menyebabkan banyak orang kehilangan pekerjaan atau pendapatan, akibatnya rasa takut akan kelaparan tak bisa dihindarkan.

Apalagi sejak Menteri Hukum dan Ham, Yasonna Laoly menerbitkan Keputusan Menteri (Kepmen) mengenai pembebasan napi demi mencegah penyebaran virus corona di penjara. 35 ribu lebih napi dibebaskan membuat rakyat semakin cemas dan kehilangan rasa aman.

Sebab, khawatir napi yang dibebaskan kembali berbuat kejahatan. Benar saja, baru beberapa hari dibebaskan para napi kembali ditangkap karena berbuat kejahatan. Seperti yang terjadi di Bali, pria bernama Ikhlas alias Iqbal (29) kembali ditangkap karena menerima paket ganja seberat 2 kilogram. Lalu di Sulawesi Selatan, pria bernama Rudi Hartono kembali mendekam dalam penjara karena hendak mencuri rumah warga. Selanjutnya di Blitar, pria berinisial MS diamuk Massa karena kepergok mencuri motor. (Kumparan.com, 9/4/2020)

Begitulah ketika solusi yang diberikan setengah hati dan tidak sesuai dengan apa yang telah Rasulullah ajarkan, maka tidak akan memberikan hasil yang memuaskan. Justru masalah semakin runyam. Pada akhirnya rakyat yang menjadi korban. Terjangkit virus corona, kehilangan pekerjaan, kelaparan, kehilangan rasa aman, dan menjadi korban kejahatan. Miris.

Padahal Rasulullah sudah mengajarkan bagaimana cara mengatasi wabah penyakit menular yaitu dengan karantina wilayah wabah. Lockdown.

"Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah tersebut. Sebaliknya jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu." (HR. Bukhari)

Saat diterapkan lockdown, maka negara bertanggung jawab memenuhi kebutuhan dasar rakyat. Memberi makan, menjamin kesehatan, dan menciptakan rasa aman. Dengan demikian membebaskan para napi bukanlah solusi yang tepat karena tidak ada korelasinya dengan penyebaran virus corona. Bukankah mereka lebih aman di dalam penjara daripada berkeliaran di jalan? Membebaskan mereka justru malah membuat mereka rentan terjangkit corona. Apalagi tanpa pengawasan dan tanpa diberi pekerjaaan mereka akan kembali mengulangi perbuatannya.

Hal ini menyebabkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Padahal tugas pemerintah adalah menciptakan rasa aman bagi seluruh rakyat. Sebagaimana Pasal 30 UU HAM yang berbunyi: “Setiap orang berhak atas rasa aman dan tentram serta perlindungan terhadap ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.”

Inilah bukti bahwa hukum buatan manusia lemah, mereka membuat hukum mereka pula yang melanggarnya. Berbeda dengan hukum Allah apabila diterapkan sudah pasti akan membawa berkah dan menimbulkan rasa aman.

Sebagaimana firman-Nya,
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS. an Nuur : 55)

Wallahu a'lam bishshawwab.
 
Top