Oleh : Ummu Qonita
Ibu Rumah Tangga dan Pemerhati Publik

Kementerian Hukum dan HAM telah mengeluarkan dan membebaskan 30.432 narapidana dan anak melalui program asimilasi dan integrasi berkenaan dengan virus corona. Program asimilasi tersebut tidak berlaku bagi pelaku kejahatan tindak pidana luar biasa seperti teroris dan korupsi sebagaimana Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012 tentang Syarat dan Tatacara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan yang mengatur pengetatan remisi.(cnn Indonesia, 05/04/2020)

Terkait dengan pembebasan narapidana umum, Kementerian Hukum & HAM (Kemenkumham) RI mengklaim telah menghemat anggaran negara untuk kebutuhan warga binaan pemasyarakatan hingga 260 miliar. Penghematan itu terjadi setelah 30 ribu narapidana mendapatkan asimilasi di rumah serta mendapat hak integrasi berupa Pembebasan Bersyarat, Cuti  Menjelang Bebas dan Cuti Bersyarat. (tirto.id, 01/04/2020)

Kebijakan pembebasan narapidana ini membuat sebagian kalangan masyarakat was-was. Pasalnya sudah menjadi rahasia umum, jika narapidana yang dipenjarakan dalam sistem hukum sekuler kapitalis, ketika keluar dari Lapas (Lembaga Pemasyarakatan), kemampuannya dalam berbuat kriminal menjadi semakin lihai. Sebenarnya ini menunjukan kegagalan sanksi hukum dalam sistem sekuler kapitalis. Yaitu hukuman penjara yang dialami narapidana tidak dapat membuat narapidana memahami kesalahannya sehingga menjadi jera, dan narapidana berpeluang melakukan tindakan kriminal serupa dengan alasan kondisi ekonomi yang memburuk, serta Lapas gagal membina para narapidana menjadi manusia yang lebih baik dan bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya. Hal ini disebabkan sistem kehidupan yang saat ini digunakan adalah sistem sekuler-kapitalis. Di mana dalam sistem ini masyarakat dibuat menjadi masyarakat yang egois materialistis. Masyarakat yang di dalamnya tidak peduli dengan orang lain, individualistis. Masyarakat yang di dalamnya terbentang kesenjangan ekonomi yang sangat lebar antara si miskin dan si kaya. Di dalam sistem ini pun, kehidupan menjadi sulit karena aturan yang digunakan tidak sesuai dengan fitrah manusia, menjauhkan peran agama dalam kehidupan. Sehingga yang terjadi adalah kekacauan. 

Berbeda dengan sistem hukum Islam dalam menindak pelaku kriminal. Hukum yang digunakan begitu jelas dan mudah. Syariat Islam sangat jelas dalam mengatasi setiap pelanggaran hukum, di antaranya hukum pidana, seperti mencuri, membunuh dan sebagainya. Ketika hukum syariat ditegakkan, negara tidak akan menanggung banyak kerugian, karena harus memenjarakan individu-individu yang lainya bisa diputuskan segera tanpa harus dipenjara. Semisal mencuri atau membunuh. 

Hukum dalam syariat Islam begitu sederhana prinsipnya. Tidak ada prinsip untung rugi dalam menetapkan hukuman. Yang ada adalah bahwa setiap muslim akan dimintai pertanggungjawabannya masing-masing di hadapan Allah kelak. Maka, setiap hakim akan bersungguh-sungguh berijtihad sesuai tuntunan syariat bukan berdasarkan untung rugi materi. Oleh sebab itu, ketika hukum Islam diberlakukan, penjara tidak akan mengalami over capasity, karena penghuni lapas yang terlalu banyak. Karena setiap kasus kriminalitas diselesaikan dengan baik. Sebagai contoh, pencuri yang telah terbukti mencuri melebihi seperempat dinar dan ada empat orang saksi yang melihat langsung kejadian pencuriannya, akan dipotong tangannya. Maka, selesai kasusnya tanpa dipenjarakan. Bila tidak ada bukti dan pengakuan langsung dari orang yang dituduh, maka orang tersebut dibebaskan. Hukum Islam tidak memandang untung rugi, semua dilakukan karena ketundukan kepada syariat Allah Swt. yang pertanggungjawabannya sangat berat di akhirat. 

Bila pun ada yang harus menjalani masa hukuman, maka negara akan membina para narapidana dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah, diberikan skill keterampilan hidup, dan dipenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan, sehingga ketika keluar dari penjara, tidak ada rasa was-was yang menghantui masyarakat karena keberadaan mereka di tengah-tengah masyarakat. 

Inilah sistem hukum Islam yang ketika diterapkan, angka kejahatan dan kriminalitas menjadi sangat kecil. Sehingga penjara tidak akan mengalami over capasity, dan tidak akan buru-buru melepaskan napi tanpa dibina, tanpa diberikan skill hidup dan tidak dipenuhi kebutuhannya sebagai warga negara. 

Sistem Islam begitu memanusiakan manusia. Sistem Islam akan menjadikan mantan narapidana benar-benar berubah menjadi manusia yang baik dan  memberikan manfaat bagi masyarakat sekitarnya.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top