Nur Mariana, M.sos
Aktivis Dakwah & Guru Tahfidz

Ramadhan kali ini berbeda dengan ramadhan-ramadhan sebelumnya, umat Islam menjalankannya bersama mewabahnya virus corona yang mematikan. Tentunya hal ini menjadikan kita lebih fokus dalam menjalankan Ibadah Ramadan tahun ini. Ibadah kita lebih fokus dilakukan, dalam waktu yang sangat senggang.

Momen ini sangat langka dimana kita bisa benar-benar siap menjalankan ibadah Ramadan, dimana hati kita sedang fokus kepada Allah. Ujian ini membuat kita banyak waktu untuk bermunajat karena pekerjaan yang biasa kita lakukan tidak begitu banyak menyita waktu.

Ujian ini mungkin cara Allah untuk menjadikan kita lebih fokus dengan Ramadan tahun ini, sekaligus menebalkan iman kita agar Ramadan tahun ini sukses menjadikan kita hamba bertakwa yang utuh.

Bukankah begitulah nasihat hamba soleh bernama Lukman yang diabadikan dalam Al-Qur’an, bukan karena dia Nabi tapi setiap perkataannya ada taburan hikmah. Saat dia berkata pada anaknya,
يا بني الذهب والفضة يختبران بالنار والمؤمن يختبر بالبلاء
“Wahai anakku, ketahuilah bahwa emas dan perak diuji keampuhannya dengan api sedangkan seorang mukmin diuji dengan ditimpakan musibah.”

Walaupun wabah telah melanda khususnya umat Islam seiring datangnya bulan yang penuh berkah ini membuat aktivitas ibadah umat Islam yang melibatkan orang banyak di sebagian tempat (zona merah) harus ditiadakan dulu. Melihat seriusnya bahaya virus ini. Virus dengan daya penuralarannya begitu cepat.

Angka postif corona setiap harinya meningkat signifikan. Berbagai negara dirundung duka yang mendalam bahkan negara yang tergolong maju apalagi yang tergolong berkembang (seperti Indonesia). Bagaimana nasib Indonesia ditimpa wabah ini? Seperti "sudah jatuh ketiban tangga pula". Kondisi perekonomian Indonesia sebelum wabah telah mengalami babak belur ditambah adanya wabah menambah kesulitan yang bertumpuk-tumpuk.

Pemerintah masih terkesan timbang-timbang dalam menyikapi semakin merebaknya wabah ini. Di satu sisi harus mengutamakan nyawa rakyat, sedangkan di sisi lain perekonomian berada di titik paling buruk.

Wabah ini benar-benar menguji Indonesia dari segala sisi. Pemerintah mengambil langkah setahap demi setahap, langkah yang diambil pertama kali social distancing. Langkah yang tidak totalitas ini pun menuai banyak permasalahan.
Keluhan rakyat pun bagai bola salju. Mereka harus berhenti bekerja di tengah kebutuhan hidup yang menanti. Tidak dipungkiri kondisi ini menambah angka kemiskinan. Terjadi kelaparan di mana-mana.

Di sektor pendidikan, biaya SPP tetap utuh, sementara para orang tua telah menanggalkan pekerjaannya. Proses belajar-mengajar online menambah biaya lagi kepada peserta didik.
Inilah alasan mengapa pemerintah tidak mengambil langkah totalitas (lockdown), konsekuensi lockdown mengharuskan pemerintah menanggung setiap kebutuhan rakyatnya. Konsekuensi ini amat sangat berat bagi pemerintah untuk diambil. Alhasil penyebaran virus corona tak dapat dibendung. Karena rakyat tetap memilih keluar untuk bekerja demi memenuhi hajat hidupnya.

Meski demikian kondisi memilukan ini di depan mata kita, sebagai hamba yang beriman kepada Allah jangan pernah berputus asa dari rahmatNya. Dalam setiap apapun yang menimpa kita, baik yang menyenangkan hati ataupun yang tidak kita sukai, bagian dari Qadha Allah yang wajib kita terima dengan penuh rasa syukur dan sabar.

bersabar bukan berarti diam tanpa solusi bersifat manusiawi(ikhtiar). Disinilah urgensinya kita merujuk kepada para ahli untuk mengatasi wabah ini. Ketika ada wabah para ahli kesehatan menghimbau “social distancing” yaitu berusaha
meminimalkan interaksi, bertemu, berkumpul dalam jumlah massa yang banyak untuk sementara. Inilah yang paling efektif untuk mencegah wabah menular dan menyebar,sehingga sangat ditekankan agar tetap di rumah dan tidak keluar dahulu apabila tidak ada kebutuhan yang sangat penting.

Bahkan meminta pemerintah untuk melakukan lockdown atau karantina wilayah,yakni mencegah dan melarang orang masuk di suatu wilayah serta melarang orang keluar dari suatu wilayah untuk mencegah wabah masuk maupun keluar. Dan konsep ini adalah konsep Islam sejak dahulu kala di mana Rasulullah shalllahu ‘alaihi wasallam bersabda, Artinya: "Jika kalian mendengar tentang thoún di suatu tempat maka janganlah mendatanginya, dan jika mewabah di suatu tempat sementara kalian berada di situ maka janganlah keluar karena lari dari thoún tersebut." (HR Bukhari).

Tidak selamanya sesuatu yang tidak kita sukai adalah buruk. Justru kadang Allah menyelipkan kasih sayang di antara ujian. Kita tetap jalani Ramadhan Istimewa ini dengan penuh syukur.
Ramadhan telah kita ketahui sebagai bulan yang istimewa, bulan yang mulia, bulan penuh berkah, bulan dilipat gandakan pahala. Ujian wabah ini justru harus menjadikan bertambahnya semangat beribadah. Aktivitas kebaikan-kebaikan sekecil apapun dibalas pahala yang berlipat. Bila demikian, semakin semangat melakukan aktivitas ibadah yang besar pahalanya. Di tengah hadirnya wabah ini justru makin meningkatkan ketaqwaan agar segera datang pertolongan Allah.

Allah menguji manusia dengan wabah agar intropeksi diri. Menyadari betapa lemahnya manusia yang tak berdaya dengan makhluk Allah yang super kecil. Lalu kembali menjadi hamba yang patuh terhadap segala aturannya. Karena Allah tak menurunkan suatu ujian melainkan di dalamnya terkandung pelajaran bagi orang-orang yang menggunakan akalnya. Sebagai umat Islam, kitalah yang Allah pilih untuk mengemban amanah Islam,menyampaikan nasehat-nasehat Islam.

Setiap momen adalah peluang menyampaikan nasehat, terlebih momen adanya wabah ini saatnya saling mengingatkan untuk muhasabah diri. Setiap permasalahan yang menimpa negeri ini khususnya, dan seluruh negeri Muslim umumnya melainkan karena meninggalkan aturan dari Yang Maha Pengatur .
Dakwah kepada Islam sangat dibutuhkan di tengah-tengah umat, Dakwah tidak bisa sampai kecuali dari lisan-lisan orang yang telah mempunyai pengetahuan tentang Islam meski satu ayat.

Ramadhan kali ini peluang besar untuk meraih pahala dengan banyak mengkaji Islam lalu menyampaikan kepada sesama. Sejenak, mari kita refleksikan momentum ramadhan di tahun-tahun lalu. Kesibukan di luar rumah yang menjadi rutunitas kita, seperti bekerja, berbisnis, atau berpergian atau aktivitas lain yang sering kali menghabiskan waktu. Sehingga tak jarang juga melupakan atau meninggalkan amalan-amalan baik di bulan puasa ramadhan. Padahal sangat disayangkan melewatkan momentum per satu tahun sekali ini.

Akan tetapi ada hikmah di balik pandemi situasi pandemi ini. Apa itu? Yakni umat muslim bisa punya banyak waktu untuk menjalaknan amalan baik seperti membaca Al-Qur’an. Hal tersebut sering abai lantaran masyarakat disibukan dengan banyak aktifitas duniawi yang dilakukan di bulan puasa. Namun kali ini tidak, karena masyarakat dianjurkan untuk tetap dirumah saja.

Membaca Al-Quran bukan hanya berhenti di satu waktu. Setiap saat dan setiap hari tentunya kita diperintahkan Allah SWT untuk membacanya dan menjadikannya sebagai pedoman. Membaca Al-Quran di bulan Ramadhan tentu memiliki keutamaan tersendiri bagi seorang muslim.

Pahala bagi yang membaca Al-quran pun luar biasa besar dan dilipatgandakan. Sebagai mana sabda Rasulullah “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka ia akan mendapatkan satu kebaikan dengan huruf itu, dan satu kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku tidaklah mengatakan Alif Laam Miim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan Mim satu huruf.” (HR Tirmidzi).
Jika membaca Al-Qur’an akan menuai kebaikan dan pahalanya dilipatgabdakan, bagaimana jika dibaca di bulan yang penuh keberkahan ini? Tentu akan lebih banyak lagi kebaikan serta ganjaran yang akan diraih bagi siapa yang membacanya.

Kemudian selain membaca Al-Qur’an, situasi seperti ini justru memberikan kesempatan kepada umat islam untuk menjaga kualitas puasanya. Sebab ada beberapa hal yang membuat kualitas atau pahala puasa berkurang. Diantaranya adalah ghibah (gosip), menatap lawan jenis (yang bukan mahramnya) dengan syahwat dan berkata dusta.

Hal-hal yang membuat kualitas atau pahala puasa berkurang itu sering terjadi lantaran dipengaruhi aktifitas diluar rumah. Seperti berkumpul dengan teman, seringkali terlontar perkataan buruk secara spontan serta pembicaraan yang tidak penting. Bahkan tak jarang pula terlontar perkataan atau kalimat yang berbau porno.
Kemudian aktifitas diluar rumah pun membuat masyarakat bebas bertemu dan melihat siapapun, tak terkecuali lawan jenis yang tentu saja bisa menimbulkan hawa nafsu.

Dakwah bukti cinta agar selamat bersama-sama, meski dalam situasi wabah melanda tidak menjadi halangan bagi setiap kaum muslimin untuk tetap berdakwah. Karena dakwah tidak harus dilakukan dengan bertatap muka langsung namun bisa dilakukan dengan bantuan kecanggihan tegnologi sekarang, yaitu melalui media sosial seperti menulis on line, mengisi kajian di youtube( bagi seorang da’i), jika posisisnya seorang mad’u maka tugasnya adalah me-like, mengomentari dan membagikan kajian yang telah dia dapat, kemudian melakukan diskusi on line yang berisi konten Islam.

Tentunya dakwah tanpa tatap muka langsung pun sama pahalanya dengan dakwah melalui media sosial.
wassalamua'laikum warahmatullahi wabarakatuh
 
Top