Oleh : Sri Gita Wahyuti A. Md
Aktivis Pergerakan Muslimah dan Member AMK


Mayoritas masyarakat menilai bahwa sikap Pemerintah dalam menangani pandemi corona terlalu lamban, bahkan terkesan meremehkan. Saat dunia melakukan berbagai upaya termasuk kebijakan lockdown, pemerintah justru membuka pintu lebar-lebar untuk para wisatawan, terutama dari Cina untuk masuk ke Indonesia. 

Kelambanan Pemerintah dalam menangani wabah menyebabkan   kasus corona jumlahnya meningkat, bahkan Indonesia menjadi juara untuk kasus kematian sebagai dampak corona. Dengan alasan untuk kepentingan rakyat, Pemerintah tidak memberlakukan kebijakan lockdown, karena dianggap akan membawa banyak resiko. Ekonomi akan mandek. Dan ujung-ujungnya, rakyatlah yang akan menderita. 

Mengamati fakta tersebut, tampak bahwa sikap Pemerintah seperti itu memang terkait dengan paradigma kepemimpinan dan sistem pemerintahan yang diterapkan. Bukan rahasia jika negeri ini sangat bergantung pada dunia luar utamanya Cina dan Amerika. Maka jika menyangkut kepentingan keduanya, Indonesia seolah tak bisa berbuat apa-apa. Apalagi di tengah kondisi ekonomi yang kian hari kian anjok. Untuk mengambil  keputusan lockdown saja, galau luar biasa, serba dilema. Padahal Pemerintah memiliki peran sentral untuk menjaga kesehatan warganya. Apalagi saat terjadi wabah penyakit menular. Tentu rakyat butuh perlindungan optimal. Pemerintah tidak boleh abai.

Sangat berbeda dengan Islam. Para penguasa Muslim pada masa lalu, seperti Rasulullah Saw. dan Khalifah Umar bin al-Khaththab ra, telah mencontohkan bagaimana seharusnya penguasa bertanggung jawab atas segala persoalan yang mendera rakyat, termasuk dalam menghadapi wabah penyakit menular.

Pada masa Rasulullah Saw. pernah terjadi wabah kusta yang menular dan mematikan. Untuk mengatasi wabah tersebut, upaya Rasulullah Saw. adalah menerapkan karantina atau isolasi terhadap penderita. Ini berarti metode karantina untuk mencegah wabah penyakit menular agar tidak menjalar ke wilayah lain, sudah diterapkan sejak zaman Rasulullah Saw. Beliau memperingatkan umatnya agar tidak mendekati wilayah yang sedang terkena wabah dan melarang keluar dari tempat yang terkena wabah bagi mereka yang sedang berada di tempat wabah. Beliau bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

"Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu." (HR al-Bukhari).

Pada masa Kekhalifahan Umar bin al-Khaththab juga pernah terjadi wabah penyakit menular. Diriwayatkan: 

أَنَّ عُمَرَ خَرَجَ إِلَى الشَّأْمِ. فَلَمَّا كَانَ بِسَرْغَ بَلَغَهُ أَنَّ الْوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِالشَّأْمِ، فَأَخْبَرَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ‏ ‏إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْه‏

Khalifah Umar pernah keluar untuk melakukan perjalanan menuju Syam. Saat sampai di wilayah bernama Sargh, beliau mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengabari Umar bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, "Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meningggalkan tempat itu." (HR al-Bukhari).

Demikianlah, Islam selalu menunjukkan keunggulannya sebagai agama sekaligus ideologi yang lengkap. Islam mengatur semua hal dan memberikan solusi atas segenap persoalan. Islam telah lebih dulu dibanding masyarakat modern dalam membangun ide karantina untuk mengatasi wabah penyakit menular. Pemerintah harus mencontoh Rasulullah Saw. dalam mengatasi wabah virus corona yang melanda negeri ini. Wallahu a'lam bishshawwab.
 
Top