Oleh: Neneng Sriwidianti
Pengasuh Majelis Taklim dan Member AMK

Terkait virus Covid-19 yang melanda Indonesia, pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk meliburkan anak-anak dari tanggal 15-30 Maret 2020. Walaupun demikian, masa ini bisa ditambah, sesuai situasi ke depannya.

Sontak, ini membuat para ibu harus berjibaku untuk mendampingi anak-anaknya belajar di rumah. Sebab, pihak sekolah memberikan PR yang banyak yang harus dikerjakan oleh anak selama dua minggu. "Aduh stres bu, PR nya banyak banget, apalagi harus online otomatis harus banyak kuota mendingan anak sekolah." Begitu celetuk ibu-ibu tentang tugasnya yang baru.

Sejumlah provinsi mulai Senin (16/3) meliburkan sekolah, dari jenjang TK, SD, SMP, dan SMA hingga Senin (30/3). Langkah ini diambil untuk mengantisipasi penyebaran virus Corona jenis baru atau Covid-19 di lingkungan lembaga pendidikan. Republika.co.id, Senin (16/3)

Sistem Kapitalisme yang diterapkan hari ini dan sudah mengakar kuat. Sehingga telah memalingkan fungsi utamanya sebagai ibu, pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya. Ditambah serangan feminisme yang dilancarkan barat, telah menjadikan para ibu, berlomba-lomba untuk keluar dari rumahnya, keluar dari tabiatnya.

Himpitan ekonomi yang semakin mencekik, semakin memperkuat para ibu untuk keluar dari rumahnya dengan alasan ekonomi. Akhirnya, mereka sibuk bekerja untuk membantu perekonomian keluarga. Jadilah anak-anak mereka diserahkan kepada para pembantu rumah tangga tanpa memperhatikan, apakah pendidikannya terjamin atau tidak.

Akhirnya, peran ibu sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya tidak berjalan dengan optimal. Sebab, kesibukannya bekerja di luar rumah, pendidikan anak-anaknya diserahkan kepada guru secara total. Kedekatan psikologis dengan anak pun menjadi kering. Peran ibu sebagai pendidik tenggelam oleh kesibukannya mencari tambahan materi sebagai penopang perekonomian keluarga.

Islam sebagai agama yang  paripurna, telah menempatkan wanita dalam posisi terhormat yaitu sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Sekalipun demikian, Islam membolehkan bagi seorang ibu untuk bekerja tetapi tidak meninggalkan kewajiban utamanya. Islam menjamin agar kaum ibu benar-benar dapat menjalankan tugas utama di rumah,  sebagai wujud ketaatan kepada Rabbnya.

Bahkan Islam juga memerintahkan kaum ibu untuk menimba sebanyak-banyaknya tsaqofah Islam. Sebagai bekal dalam mendidik anak-anaknya serta untuk menjalani hidup yang Allah Swt ridai. Sehingga, dengan tsaqofah tadi seorang ibu bisa mendidik anak-anaknya menjadi anak yang soleh dan solehah.

Di tangan seorang ibu, tonggak peradaban dunia bisa kita harapkan. Sebab, berkat didikan seorang ibu, generasi hebat pemimpin peradaban akan lahir. Sosok ibu yang lebih banyak di dalam rumah, mendidik anak-anaknya dengan akidah Islam adalah sosok yang kita harapkan saat ini.

Begitu pentingnya pendidikan generasi bagi keberlangsungan kehidupan umat manusia. Sehingga, Islam membebankan pendidikan generasi tidak hanya pada proses belajar di sekolah. Lebih dari itu Islam menyerahkan tanggung jawab pendidikan generasi (anak) secara komprehensif kepada keluarga, masyarakat, dan negara.

Dalam pandangan Islam, keluarga merupakan madrasah pertama bagi anak-anak. Keluargalah yang memiliki andil besar dalam mengenalkan dan menanamkan prinsip-prinsip keimanan. Keluarga pula yang punya kesempatan besar membentuk aqliyah dan nafsiyah yang islami. Pendek kata keluarga merupakan cermin keteladanan bagi generasi baru. Rasulullah Saw bersabda:

"Setiap anak dilahirkan atas fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang menjadikan anak itu beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi." (HR. Bukhari)

Masyarakat memiliki kewajiban untuk mengontrol jalannya penyelenggaraan pendidikan generasi oleh negara maupun swasta. Apabila dalam penyelenggaraan pendidikan generasi oleh negara menyimpang dari tujuan dan metode pendidikan generasi Islam, maka masyarakatlah yang menjadi motor utama mengoreksi dan meluruskan penyimpangan itu. Demikian pula apabila terjadi aktivitas pendidikan generasi di tengah masyarakat yang bertentangan dengan Islam, maka masyarakat wajib melaporkan kepada negara dan menuntut agar negara menjatuhkan sanksi.

Negara dalam Islam merupakan institusi yang paling bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan pendidikan generasi yang berasaskan pada akidah Islam. Untuk bisa mencapai pendidikan generasi dalam Islam, maka negara harus membuat aturan-aturan dalam penyelenggaraan pendidikan generasi, diantaranya:

1. Menyusun kurikulum yang sama bagi seluruh sekolah, baik sekolah negeri atau swasta, dengan menjadikan akidah Islam sebagai landasannya.

2. Negara melakukan seleksi ketat terhadap calon-calon guru. Pemilihan guru didasarkan pada ketinggian syakhsiyyah Islamiyyah dan kapabilitasnya dalam ngajar. Pendidikan dalam Islam bukan semata-mata transfer ilmu, tetapi juga unsur keteladanan dari guru sangat diperhatikan.

3. Menu pendidikan dalam Islam harus berpegang pada prinsip Al Fikri lil Amal (pemikiran yang diajarkan untuk diamalkan). Dengan mengacu pada prinsip di atas, maka dalam sistem pendidikan generasi Islam, pelajaran akidah dan tsaqofah Islam menjadi menu utama dalam semua level. Diharapkan, materi-materi agama yang diperolehnya tidak sekedar menjadi pengetahuan belaka. Namun, menjadi acuan untuk bersikap dan berperilaku berdasarkan akidah Islam yang dianutnya. Sementara  mata pelajaran umum diajarkan sesuai dengan kebutuhan pada tiap-tiap jenjangnya.

4. Makna pendidikan dalam Islam adalah pendidikan sepanjang hayat. Artinya tidak boleh ada pembatasan usia belajar dan lama belajar. Karena itu, negara mempunyai kewajiban menciptakan lingkungan yang kondusif dengan menyediakan fasilitas belajar-mengajar yang memadai tanpa memungut biaya dari pelajar.

Negara yang dapat menyelenggarakan sistem sempurna ini hanyalah Daulah Khilafah Islamiyah. Negara yang berdasarkan Islam, menerapkan syariat Islam secara utuh dan menyeluruh.

Wahai para ibu! Marilah kita jadikan masa physical distancing ini sebagai momentum mendekatkan diri pada anak (keluarga). Menanamkan nilai-nilai utama untuk pembentukan kepribadian Islam generasi. Mengembalikan fungsi ibu sebagai pendidik yang utama dan pertama.

Oleh karena itu, mengupayakan tegaknya khilafah Islam merupakan agenda utama kita umat Islam. Agar umat dapat hidup di bawah naungan syariat Islam dalam seluruh sendi kehidupannya. Umat Islam dapat terlepas dari jerat dan belitan sistem hidup sekuler yang telah nyata merusak dan memporak-porandakan umat Islam di seluruh dunia. Upaya tersebut tidak akan berhasil kecuali umat Islam bersama-sama berjuang dengan segenap daya dan kekuatan. Sehingga, Allah Swt. mendatangkan pertolongan-Nya. Allah Swt. berfirman:

" Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad [47] : 7)

Wallahu a'lam bishshawab
 
Top