Oleh : Sri Mardiantini
Muslimah Peduli Umat

Fakta di Indonesia terjadi wabah penyakit yang disebabkan oleh corona virus atau juga disebut Covid-19. Wabah ini pertama kali muncul di kota Wuhan Provinsi Hubei Cina. Fakta ini lumayan mengejutkan masyarakat dan pemerintahan Indonesia, karena kita semua tidak menyangka jika wabah tersebut akan sampai ke Indonesia, karena sebelumnya wabah SARS dan MERS tidak sampai ke Indonesia.

Awalnya kita merasa tenang, karena Indonesia memiliki iklim tropis yang bagus yang tidak memungkinkan virus ini bertahan di cuaca panas. Tapi Allah berkehendak lain, Covid-19 ini adalah virus yang cepat beradaptasi dengan lingkungan. Dan proses inkubasi dalam tubuh manusia terhitung lama, yakni 14 sampai 20 hari. Tapi jika sudah masuk ke paru-paru, dia akan berkembang dengan sangat cepat hanya hitungan hari langsung bisa mengambil nyawa seseorang. Virus ini belum ada vaksinnya. Obatnya adalah imun manusia itu sendiri. Jika manusia memiliki daya tahan tubuh yang kuat insyaallah akan sembuh dengan sendirinya. Namun, jika imunnya jelek maka tak sedikit yang meninggal.

Sebenarnya, menurut data di WHO, orang yang sembuh jauh lebih banyak dari yang meninggal. Yang meninggal hanya sekitar 7 % dari total yang terinfeksi. Masalahnya adalah karena Covid-19 ini kemampuan menularkannya ke orang lain sangat tinggi. Maka dalam waktu singkat akan terjadi pelonjakan pasien yang terinfeksi Covid-19 yang sangat tinggi. Yang akan memungkinkan terjadinya penumpukan pasien Covid-19 di rumah sakit dan itu akan membuat rumah sakit tidak mampu menampung orang-orang sakit. Dan terbatas alat, ruangan dan tenaga medis.

Maka perlu negara atau pemerintahan pusat untuk mengisolasi atau bahasa kerennya lock down atas masyarakat. Untuk mencegah atau menjaga terjadinya orang yang terinfeksi Covid-19 secara berbarengan.

Tapi ternyata pemerintahan pusat melarang lock down, tapi memberlakukan sosial distance, yaitu himbauan agar masyarakat tetap di rumah, meliburkan yang sekolah dan kursus. Dan menghimbau agar kafe dan tempat hiburan tutup. Tapi ternyata banyak tempat hiburan malam masih beroperasi. Akibatnya banyak dari masyarakat yang pulang kampung, karena di kota mereka tidak ada income atau pemasukan, sedangkan biaya hidup begitu tinggi. Sehingga banyak orang yang terinfeksi Covid-19 dan virus ini menyebar ke seluruh Indonesia.

Di saat para ahli meneriakkan menyuruh agar presiden menetapkan status lock down, pemerintahan malah menerapkan darurat sipil. Kenapa? Karena jika pemerintahan menerapkan status lock down atau karantina dalam undang-undang yang ditandatangani Presiden Jokowi, ditulis bahwa jika statusnya karantina biaya hidup masyarakat ditanggung pemerintahan. Namun, jika diterapkan darurat sipil maka pemerintahan tidak perlu menanggung biaya hidup masyarakat.

Berbeda dengan penanganan wabah dalam Islam. Dalam aturan Islam sesuai dengan hadis Nabi, bahwa jika di suatu daerah terdapat wabah, maka orang-orang dari luar tidak boleh masuk dan orang-orang di dalam tidak boleh keluar. Maka wajib pemerintahan menerapkan lock down atau karantina, dan biaya hidup ditanggung oleh pemerintah. Yang sakit dipisahkan dengan yang sehat. Diterapkan juga sosial distance, yaitu tidak boleh ada perkumpulan atau menghindari keramaian dan jika tidak ada keperluan tetap tinggal di rumah, ini bertujuan agar wabah tidak keluar dari daerah tersebut. Dan dengan sosial distance maka wabah akan cepat tertangani. Ketika daerah yang terkena wabah dikarantina, maka daerah yang tidak terkena wabah menjalankan kehidupan seperti biasa. Sehingga roda perekonomian negara tidak akan goyang dan daerah wabah cepat teratasi.

Itulah yang dimaksud dengan lock down dalam aturan Islam. Ini menunjukan bahwa peradaban Islam adalah peradaban tertinggi yang dicapai oleh manusia. Maka mari kita kembali pada peradaban Islam yang merupakan peradaban emas yang ditinggalkan.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top