Oleh : Tati Ristianti 
Ibu Rumah Tangga, pegiat dakwah

Merosotnya perekonomian akibat pandemi Covid-19 dapat dirasakan oleh para pedagang yang pendapatannya makin menurun. Namun, ada yang diuntungkan dibalik pandemi Covid-19.

Adanya pandemi ini dimanfaatkan oleh Bank Keliling atau biasa disebut dengan Bank Emok yang bertempat di Pasar Sehat Cileunyi (PSC), Kabupaten Bandung-Jawa Barat. Untuk memberikan pinjaman kepada para pedagang yang tengah terpuruk. (galamedianews.com, 17/04/2020)

Salah satu dari para pedagang di PSC, Lia Rosmalia (31) membenarkan, memang sudah hampir tiga pekan ini para pedagang di PSC mengeluhkan penurunan pendapatan. "Sudah ada tiga minggu pasar sepi. Pendapatan kami berkurang. Jualan semakin lesu pembeli. Apalagi kami hanya memanfaatkan pendapatan dari penjualan untuk kebutuhan sehari-hari," imbuhnya.

Lia menambahkan, untuk mencukupi kebutuhan akibat penurunan pendapatan, banyak pedagang yang memanfaatkan pinjaman dari Bank Emok. Terlebih, Bank Emok selalu berkeliaran setiap hari di pasar untuk mencari nasabah. "Banyak teman-teman saya yang pinjam uang ke bank keliling dengan pinjaman dua juta karena memang kebutuhannya mendesak," tambahnya.

Seandainya masyarakat sadar bahwasanya seorang muslim tidak boleh menghalalkan segala sesuatu yang diharamkan Allah maka pasti hal seperti ini tidak akan pernah terjadi. Di dalam pinjam-meminjam kepada Bank Emok terdapat sesuatu yang Allah benci, yakni riba. Riba yang diharamkan oleh Allah merupakan salah satu dosa besar yang berakibat buruk terhadap diri sendiri, masyarakat, maupun perekonomian.

Rasulullah saw. melaknat sesiapa yang melakukan riba sebagaimana diriwayatkan oleh Jabir radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah saw. pernah bersabda:

"Rasulullah Saw. mengutuk orang yang memakan harta riba, orang yang memberikan riba, penulis transaksi riba, dan kedua saksi transaksi riba. Mereka semuanya sama (berdosa)."
(HR. Muslim)

Para pedagang di pasar banyak yang telah terperosok ke dalam kubangan riba dan terjerat oleh lintah darat. Hal ini menyebabkan mereka rela terisap darah tanpa rasa belas kasih. Pekerja Bank Emok/Bank keliling tidak memperdulikan isak tangis dan rintihan para nasabah, bahkan serta-merta menyita rumah tanpa memedulikan kondisi.

Tak ada seseorang yang dapat dimintai pertolongan baik kepada petugas pasar maupun penguasa. Meminta pertolongan kepada panguasa merupakan kemustahilan. Bahkan saat ini, penguasa tengah bergantung kepada utang luar negeri, baik melalui APBN maupun melalui BUMN. Dengan demikian, negeri ini akan terjerat ke dalam utang yang makin banyak.

Hal ini akan berdampak kepada masyarakat yang tak tahu menahu tentang utang dan dampak lainnya akan menghambat laju pertumbuhan ekonomi dan merosotnya perekonomian.

Tidak ada solusi yang pasti bagi para pedagang yang telah terjerat riba selama sistem ekonomi kapitalisme masih bercokol di negeri ini. Maka dari itu para pedagang di seluruh indonesia harus mencari alternatif untuk mengubah diri sendiri dan menjadikan Allah Swt. sebagai sebaik-baik pelindung.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (TQS. ar-Ra’d ayat 11)

Walhasil, dalam waktu singkat, perkembangan masyarakat lebih-lebih memberikan gambaran bahwa umat Islam makin merindukan pemimpin muslim yang akan menerapkan syari'ah Islam secara kaffah.

Wallahu a'lam bi ash-shawab
 
Top