Oleh: Sri Mulyati

Mahasiswi dan Member AMK

Rupanya mewabahnya Covid-19 menyisakan dampak yang luar biasa di berbagai aspek, penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB menjelang Ramadhan kemarin menimbulkan tindakan kriminalitas, pencurian, perampokan, dan sejumlah tindakan kejahatan lainnya. Mengingat pemenuhan kebutuhan hidup sangat tinggi menjelang Ramadhan. Sehingga, bukan hal yang tabu lagi jika kejahatan kian menambah terlebih dimasa pandemi seperti sekarang ini. “Sementara itu kepala bagian penerangan umum (Kabagpenum) Polri Kombes Asep Adi Saputra mengatakan peningkatan angka kejahatan selama masa Pandemi Corona Sekitar 11.8 persen”. (25/04/2020, Cnnindonesia.com).

 Hal ini pastinya menimbulkan kecemasan dan keresahan warga, terlebih baru-baru ini, pemerintah mengeluarkan para Napi melalui kebijakan Asimilasi yang dilakukan Yasonna Laoly yang kini banyak pihak yang menggugatnya terkait kebijakan yang dikeluarkan tersebut. Seperti, gugatan yang didaftarkan oleh Yayasan Mega Bintang Indonesia 1997, Perkumpulan Masyarakat Anti Ketidakadilan Independen dan juga Lembaga Pengawasan dan Pengawalan Penegakkan Hukum Indonesia. Mereka menyebut bahwa kebijakan tersebut telah menimbulkan keresahan bagi masyarakat saat Pandemi Corona (Covid-19) saat ini.
 “Untuk mengembalikan rasa aman. Kami meminta menarik kembali Napi Asimilasi dan dilakukan seleksi dan psikotest secara ketat jika hendak melakukan Asimilasi lagi,” Kata ketua umum Yayasan Mega Bintang Indonesia 1997, Boyamin Salman melalui keterangan resmi. (26/04/2020,Cnnindonesia.com)

Sejak awal, pembebasan nara pidana sebanyak 38.822, termasuk anak binaan melalui program Asimilasi dan Integrasi  untuk mencegah penularan Covid-19, dinilai tidak tepat untuk dilakukan saat ini. Tidak hanya test psikotest atau seleksi yang ketat, semestinya pemerintah melakukan pembinaan dan bimbingan nilai-nilai Islam yang baik sebagai upaya kuratif yang harus ditempuh. Jika didalam diri para napi telah tercermin nilai-nilai tersebut sehingga mereka mampu mengimplentasikan di dalam kehidupan. Negara pun dapat menjamin bahwa mereka benar-benar tidak akan berulah kembali. Barulah program ini bisa dijalankan.

 Sayangnya, tidaklah demikian pembebasan para napi hanyalah akal-akalan pemerintah yang berlepas diri dari pemenuhan pokok para napi selama berada di lapas dan program tersebut bertujuan untuk menekan pembiayaan yang dialokasikan untuk napi. Pembinaan pun tidak dilakukan dengan baik, jangankan pembinaan mengingat sebagian tempat tinggal para napi tidak layak dan jauh dari rasa kemanusiaan, hingga tidurpun harus bergantian. Berbeda dengan para napi korupsi kelas kakap yang memiliki sejumlah fasilitas yang memadai layaknya kamar hotel, hingga fasilitas olahraga pun tak ketinggalan. Fokus kepada kebijakan.

 Pada akhirnya, kebijakan ini dilakukan tidak tuntas dalam penangan pandemi ini. Setelah pembebasan para napi, mereka pun dibiarkan untuk mengurusi dirinya sendiri dan di serahkan kepada keluarganya masing-masing.

 Sehingga kerusakan sosial pun mulai tejadi tatkala mereka dituntut untuk mengisi perut keroncongan apalagi di masa pandemi. Ini merupakan bukti kelalaian sang penguasa dalam mengurusi rakyatnya. Pantas, kebijakan ini banyak yang menilai tidak tepat, mereka dibiarkan keluyuran tanpa diberikan pekerjaan atau pemenuhan kebutuhan pokok yang pada akhirnya mereka melakukan aksi atau tindakan kriminal, semata-mata untuk mengganjal perut kosong mereka. Keputusan pragmatis yang mereka ambil. Di masa pandemi ini, jangankan para napi yang memiliki latar belakang pernah melakukan tindakan serupa dan melanggar hukum. Sesorang yang sebelumnya memiliki pekerjaan, karena mewabahnya Covid-19  yang terkena dampak kehilangan pekerjaan dan kena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) menimbulkan stres dan depresi berat. Pada akhirnya sikap putus asa telah merasuk kedalam dirinya dan memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan jalan bunuh diri di sebabkan terlalu berat beban yang ia pikul.

Dilansir Cnnindonesia.com. Seorang pria yang berinisial JT ditemukan meninggal dunia karena gantung diri di sebuah kamar kost yang berlokasi di Kembangan, Jakarta Barat. Berdasarkan penuturan sang adik korban dapat diperoleh keterangan.
“ Kalau penyebab persisnya kami enggak tahu, tapi menurut adiknya memang sebulan lalu korban dirumahkan atau PHK.” (21/04/2020. Cnnindonesia.com)

Kerusakan sosial ini terjadi bukan tanpa sebab. Jika seluruh permasalahan ini terjadi karena adanya wabah. Sesungguhnya tidak seluruhnya demikian. Hal semacam ini terjadi disebabkan lambannya negara dalam melayani kepentingan rakyatnya. Pengambilan kebijakan pun hanya berorientasi menyelesaikan dampak fisik semata seperti sekarang ini yang terjadi dinegeri yeng menganut sistem Sekulerisme. Negara semestinya harus mampu menghadirkan masyarakat yang kuat iman dan memiliki ketahanan mental  dan fisik untuk menjalani hidup saat kondisi pandemi. Adanya wabah ataupun tiadanya wabah keruskan sosial, kerap kita dapati di sistem Sekuler. Kita harus meyakini bahwa adanya Covid-19 merupakan bagian dari Qadha yang telah ditetapkan oleh Allah Swt.
ولبلونكم بشء من  الخوف ولجوع ونقص من الأمول ولأنفس والثمرت وبشرالصبرين.الذ إذ أصبتهم مصيبة قالو إنالله وإناإليه رجعون. ألئك عليم صلوت من ربهم ورحمة وألئك هم المهتدون
“Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang apabila ditimppa musibah mereka mengucapkan ‘Innalillahi wa innailahi raji’un’ mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan.” (TQS.al-Baqarah [2]: 155-157)

Selain ikhlas terhadap qadha Allah Swt, seorang mukmin harus memiiki sikap yang sabar tanpa batas hingga Allah Swt memberikan pahala tanpa batas. Seperti apa yang telah Allah Firmankan.
إنما يوفى الصبرون أخر هم بغير حساب
 “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (TQS.az-Zumar [39]: 10). Keimanan yang kokoh ini akan hadir secara sempurna tatkala negara menjadikan Islam sebagai satu pemikiran, satu perasaan dan satu peraturan yang sama yakni menerapkan Islam secara Kafah. Tanpa diterapannya Islam Kafah maka kerusakan sosial akan semakin rusak baik adanya wabah maupun terhindar dari wabah. Keimanan yang kokoh hadir secara sempuna manakala masyarakat benar-benar terjamin ekonomi, pendidikan, kesehatan dan keamanan. Mengingat seperti kisah Umar Ibn Khathab yang telah mencontohkan kepemimpinan yang baik dalam mengatasi wabah.

 Dengan penuh kesungguhan beliau melayani rakyatnya dengan setulus hati dalam menjamin kesejahteraan rakyatnya hingga beliaulah yang langsung turun tangan memberikan bantuan kepada rakyat tanpa pilih kasih. Sehingga, dalam kondisi ada wabahpun tidak didapatkan rakyatnya bunuh diri akibat lalainya peran negara. Sang khalifah berusaha semaksimal mungkin hingga Allah menurunkan pertolongan dan keberkahan di negeri yang terkena wabah dan mengangkat wabah tersebut.

Wallahu a’lam  bisshawab
 
Top