Oleh : Noni Apriliani Yulia Putri
Mahasiswi Universitas CIC Cirebon


Kelompok-kelompok sayap kanan telah mengambil keuntungan dari ketakutan orang-orang terhadap pandemi covid-19 (virus corona), melalui teori konspirasi dan disinformasi dengan menjelek-jelekkan kaum muslim dan menyebarkan propaganda islamofobia Di Inggris, polisi kontra terorisme telah menyelidiki puluhan kelompok sayap kanan yang dituduh memicu insiden anti-muslim selama beberapa pekan terakhir.

Sementara di Amerika Serikat, situs website sayap kanan telah menyebarkan propaganda anti-muslim secara daring. Mereka menyebarkan teori konspirasi palsu bahwa gereja-gereja di negara itu akan dipaksa untuk tutup selama pandemi, sementara masjid akan tetap terbuka untuk beribadah di bulan Ramadan.

"Sayangnya, yang kami lihat yakni virus corona sebagai alasan untuk rasis dan xenofobik yang ada didorong ke depan dan tengah," kata Direktur First Draft News AS, sebuah organisasi nirlaba yang didedikasikan untuk menangani disinformasi, kata Claire Wardle, dilansir dari Huffpost, Sabtu (11/4). (republika.co.id, 19/04)

Di tengah-tengah pandemi covid, umat muslim di berbagai negeri menjadi korban tindakan diskriminasi dan kebencian warga nonmuslim. Muslim dituduh menjadi sumber sebaran wabah (kasus Jamaah Tabligh) dan sengaja menyebar virus untuk membunuh kaum nonmuslim (#coronajihad).

Kelompok-kelompok sayap kanan di berbagai negara menggunakan momen corona untuk menyerang umat Islam dan memicu islamofobia dengan rumor maupun hoaks. Islamofobia adalah penyakit akut masyarakat sekuler yang mengkampanyekan antidiskriminasi dan kesetaraan. 

Faktanya adalah kelompok radikal kulit putih di Amerika Serikat. K supremasi kulit putih AS mengembuskan rumor bahwa lockdown di kota-kota AS akan dicabut menjelang Ramadan agar muslim bisa ibadah di masjid. Padahal kata mereka, gereja-gereja saja ditutup saat Paskah. Hal tersebut telah menjadi bukti kerusakan masyarakat sekuler dan kegagalan sistem dalam menciptakan integrasi atau keharmonisan masyarakat.

Islamofobia sengaja dihadirkan oleh Barat untuk menjauhkan umat manusia dari Islam. Mereka mendudukkan seolah Islam dan kaum muslimin-lah sumber bencana di muka bumi hari ini. Keteguhan kaum muslimin memegang nilai-nilai dan aturan Islam-lah yang mereka pandang sebagai penghambat pembauran budaya di tengah umat.

Namun kini, di saat khilafah tengah diperjuangkan kembalinya di tengah umat, maka jalan satunya-satunya menghadapi islamofobia adalah istiqamah menapaki jalan dakwah agar terbuka mata umat akan kemuliaan Islam. Islam bukan agama teroris. Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. 

Hanya dengan Islam, kehidupan manusia akan mulia. Sejarah telah membuktikan, bahwa Islam telah membawa kemuliaan dunia selama 13 abad lamanya. Bahkan kemajuan peradaban Barat yang sekarang ada, tidak mungkin hadir tanpa adanya konstribusi besar dari Islam dan kaum muslimin.

Wallahu a’lam bishawwab.
 
Top