Oleh : Diana Romlah
Aktivis Dakwah,  Member Akademi Menulis Kreatif

Pandemi Corona atau Covid-19 belum berakhir, masih menghantui dan menjadi momok yang menakutkan bagi setiap kehidupan  manusia. Dampak yang terlihat dan terasa sampai saat ini sangat komplek, tidak hanya mengancam kesehatan dan nyawa manusia, tetapi juga turut memberi tekanan sosial, ekonomi, keamanan dan sebagainya. Dampak terbaru dari pandemi ini adalah adanya kekerasan dalam rumah tangga, dan yang menjadi korban umumnya para istri bahkan bisa dialami oleh anak-anak. 

Kebijakan pembatasan sosial (social distancing) dan pembatasan fisik (physical distancing) di berbagai belahan dunia memaksa banyak orang untuk bekerja, belajar serta beraktivas lainnya dari rumah. Banyak korban dari pemberlakuan kebijakan ini, karena menyebabkan orang kehilangan pekerjaannya yang akhirnya berefek perekonomian keluarga menurun. Hal tersebut memungkinkan terjadinya tindak kekerasan lantaran tekanan atas kebutuhan ekonomi disatukan dengan tingkat stres tinggi karena terjebak di rumah. Wanita dan anak perempuan pun menjadi kelompok yang paling terancam karena situasi ini, dimana ancaman terbesar yang justru datang dari tempat di mana seharusnya mereka paling aman, yakni rumah. 

Kasus KDRT merupakan  fenomena gunung es karena jumlah kasus yang tidak tertangani dimungkinkan lebih banyak terjadi dari pada yang dilaporkan.

Dilansir dari Dara, Bandung. Satu bulan terakhir ini kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, meningkat tajam. Suami yang kehilangan mata pencaharian karena dampak pandemi virus corona (Covid-19) diduga sebagai penyebabnya. Kapolresta Bandung, Kombes Pol Hendra Kurniawan, mengatakan di Mapolresta Bandung, Soreang, Kabupaten Bandung, Jumat (24/4/2020).

Saat kondisi normal biasanya dalam satu bulan pihaknya hanya menerima satu laporan kasus KDRT. Namun selama pandemi virus corona ini, jumlahnya meningkat hingga tujuh kasus. Pandemi corona membuat banyak masyarakat yang terpaksa dirumahkan atau kerja di rumah, sehingga pendapatan mereka menurun. Di sisi lain kebutuhan rumah tangga cukup tinggi. Ditambah seringnya suami-istri berinteraksi selama di rumah, potensi konflik menjadi meningkat. Akibatnya, banyak terjadi penganiayaan terhadap istri atau suami.

Jika kita telaah kekerasan  dalam rumah tangga (KDRT), sebuah perkara yang sering kali menghiasi kehidupan pernikahan. Terkadang perceraian terjadi karena suami melakukan KDRT atau sebaliknya istri membangkang dan tidak mau mentaati suaminya. KDRT tak hanya identik dengan tindakan yang menjurus pada kriminalis nyata seperti pemukulan, penganiayaan, intimidasi dan hal yang melukai badan. Namun perkara yang sifatnya spiritual emosional, dan perkara-perkara yang tidak kasat mata juga dikategorikan sebagai KDRT. Di dalam negara yang mengusung sistem kapitalis hal ini sudah menjadi hal yang dianggap biasa. Sebelum pandemi pun sudah banyak kasus KDRT, ditambah lagi dengan cobaan wabah dan pemberlakuan aturan sosial atau fisical distanchingnya, tidak sedikit para suami kehilangan pekerjaan. Sementara negara tidak memberi jaminan keselamatan, keamanan dan kesejahteraan pada setiap individu masyarakatnya. Maka setiap masalah yang terjadi menjadi beban derita bagi rakyat.

Sangat berbeda dengan sistem pemerintahan Islam. Islam adalah agama yang mengusung perdamaian dan anti kekerasan. Allah Swt. telah menurunkan Islam sebagai sistem hidup manusia yang sempurna dan paripurna yang mampu menyelesaikan seluruh problem kehidupan manusia di dunia, termasuk pandemi Covid-19 yang saat ini sedang terjadi. Didalam sistem pemerintahan Islam, syariatnya menegaskan bahwa Allah telah mewajibkan negara untuk melindungi dan menjamin kesejahteraan rakyatnya, laki-laki dan perempuan, sepanjang masa, dalam kondisi aman maupun krisis. Oleh karena itu, berbagai persoalan yang muncul sekarang ini  merupakan dampak penerapan sistem kapitalis, dengan berbagai ide kufurnya. Syariat Islam memandang laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama sebagai manusia, dan menjadikan ketakwaan sebagai ukuran kemuliaan manusia. 
Syariat Islam juga mewajibkan laki-laki untuk mencari nafkah, dan menjamin nafkah perempuan dengan berbagai mekanisme sesuai tuntunan Allah Swt. Dengan demikian perempuan dapat dengan tenang dan aman menjalankan perannya sebagai istri, ibu, dan pendidik generasi. Islam  menjamin keamanan perempuan dari berbagai kekerasan karena kekerasan adalah kemaksiatan yang ada sanksinya dunia maupun akhirat. Islam memiliki mekanisme sempurna dalam mengatur peran perempuan dan laki-laki dalam kehidupan sesuai dengan kodrat masing-masing.

Dari semua paparan di atas sudah waktunya kita kaum muslimin bersama memperjuangkan  penerapan Islam secara kaffah dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyah, yang tidak saja melindungi perempuan sepanjang masa, namun juga umat manusia secara keseluruhan. 

Wallahu a’lam bishawab.
 
Top