Oleh : Sri Astuti Am.Keb
Pegiat Literasi

"Kalau kami tidak keluar rumah,  kami akan mati di dalam rumah" Begitu keluhan rakyat dengan penghasilan harian lepas.

Tampaknya hal itu di alami pula oleh Yuli warga Kota Serang. Banten. Yuli meregang ngawa di duga karena kelaparan. (Tangerangnews.com, 22/4/2020)

Tidak ada makanan hanya bisa mengisi perut dengan minum air isi ulang, hal tersebut merupakan potret nyata kondisi rakyat yang terkena imbas ekonomi yang semakin buruk di saat pandemi.

Rakyat dengan penghasilan harian lepas pasti akan merasakan pengaruh besar untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarga.
Serba salah memang, di tengah wabah harus mengikuti anjuran pemerintah untuk tetap berada di rumah.

Kebijakan yang telah dibuat oleh negara untuk membantu rakyat yang terkena dampak Covid-19, tidak juga mengatasi kesulitan rakyat.

Bersamaan dengan hari kartini, seorang tokoh perempuan dalam sejarah. Memperjuangkan kehidupan perempuan yang tertindas oleh sistem kolinial pada masa itu, peran perempuan tidak menempati posisi penting pada kehidupan sosial.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, mengungakapkan bahwa negera telah menyiapkan anggaran sebesar 2.500 triliun untuk membantu 89 juta rakyat terdampak covid-19. (detikfinance, 20/3/2020)

Melalui progran Jaring Pengaman Sosial (JPS)  yang telah ditetapkan oleh pemerintah di indikasikan belum mencapai target yang sesuai. Karena keterbatasan sistem pendataan bagi pekerja informal, menjadi salah satu kendala ketidak jelasan harapan rakyat tidak mampu untuk mendapatkan bantuan sosial.

Miris memang,  di negara yang melimpah Sumber Daya Alam (SDA)  masih ada rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Terlebih karena pengaruh wabah, pendapatan pun menjadi susah.

Kekayaan SDA yang ada tidak juga bisa dinikmati oleh masyarakat, sistem kapitalistik yang menjadi aturan negeri ini menjadi sumber masalah yang terjadi diberbagai sektor kehidupan.

Terlebih meski kondisi sedang sulit, pembangunan Ibu Kota baru pun tetap di laksanakan. Berbagai kebijakan dalam sistem kapitalisme hanya bertumpu pada keuntungan bagi para pemilik modal, yang kaya semakin kaya.

Neoliberalisme dan neoimperialisme yang terus menggerogoti kehidupan, peran dan fungsi negara sebagai pelayan dan penjaga rakyat lenyap karena matinya kepentingan individu dan kelompok.

Saat pandemi pun masih bisa negara ekspor beras pandan wangi Cianjur, seharusnya di tengah wabah negara harus memastikan ketersediaan pangan rakyatnya.

Memahami nyawa rakyat lebih penting daripada hanya persoalan keuntungan semata, berbagai macam kebutuhan melangit harganya. Seperti, gula putih,  bawang putih dan kebutuhan pokok lainnya.
Sistem kapitalisme merenggut kehidupan sejahtera perempuan-perempuan Indonesia, hak-haknya menghilang karena kondisi.

Kondisi tersebut jauh berbeda bagaimana Islam mengatur segala sektor kehidupan. Bukan hanya kehidupan kaum perempuan,  namun semua rakyat tanpa memandang gender ataupun tingkat sosial dan pendidikan.

Dengan kepemimpinan seorang khalifah di bawah naungan sistem khilafah, pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat mampu diatasi dalam kondisi wabah.

Kebijakan-kebijakan yang diambil berporos pada kemaslahastan umat, baginya jabatan adalah amanah besar yang harus dijalankan sesuai dengan syariat islam.

Hak-hak rakyat diberikan dengan mudah, karea negara hadir untuk menjadi pelayan dan penjaga rakyatnya. SDA milik negara dikelola dengan baik oleh negara, kemudian disalurkan kepadaa rakyat.

Mempertahankan nyawa adalah yang penting bagi negara, Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Setiap kepemimpinan akan diminta pertanggung jawaban begitulah karakter pemimpin dalam islam. Takutnya pada siksa Allah yang pedih karena melalaikan amanah,  sebagaimana Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

"Barangsiapa yang diangkat oleh Allah untuk memimpin rakyatnya, kemudian ia tidak mencurahkan kesetiaannya, maka Allah haramkan baginya surge.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Solusi tuntas atasi wabah hanyalah dengan penerapan Islam secara kaffah dalam sistem khilafah.
 
Top