Oleh: Widhy Lutfiah Marha
Pendidik Generasi dan Member Akademi Menulis Kreatif

Bulan mulia kunanti-nanti, penuh suka cita kita menyambutnya,
Bulan mulia kunanti-nanti, penuh bahagia, menanti karena cinta...

Penggalan syair lagu “Sambut Ramadhan”  yang dirilis oleh DNA Aditya di atas adalah gambaran kebahagiaan dan suka cita saat menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan. Marhaban yaa Ramadhan, selamat datang bulan Ramadhan 1441 H. Kaum muslimin kembali bergembira dengan datangnya bulan yang mulia ini. Setelah sebelas bulan menjalani kehidupan yang penuh warna-warni, maka inilah saat yang tepat bagi kita semua untuk membersihkan diri dari segala dosa yang mungkin tidak kita sadari.

Rasa suka cita dalam menyambut Ramadhan adalah cerminan ketakwaan yang ada dalam hati umat muslim. Sejatinya bulan Ramadhan adalah salah satu dari syiar dalam agama Islam, yang harus senantiasa kita muliakan.

Berbahagialah kita, di tengah musibah corona, shaum Ramadhan hadir menyapa. Bulan ini sangat istimewa, dan bagi kita yang menjalaninya dengan sungguh-sungguh akan mendapatkan limpahan pahala.

Ibnu Jarir Ath-Thabari mengatakan bahwa ibadah shaum diwajibkan pada tahun kedua Hijriyah, sebelum terjadi perang Badr.


“Telah datang kepada kalian bulan yang penuh berkah. Diwajibkan atas kalian berpuasa. Pada bulan itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka dikunci dan setan-setan dibelenggu. Pada malam ini terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barang siapa yang berhalangan dari kebaikan bulan itu, niscaya dia adalah orang yang merugi (HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi).

Oase di padang gurun, begitulah Ramadhan tahun ini. Bekal energi untuk sanggup melewati masa sulit. Di atas kesiapan fisik dan materi, musibah Corona ini membutuhkan kekuatan iman untuk melewatinya. Setelah nantinya kita melaksanakan ibadah shaum Ramadhan saat  Allah Swt membentangkan kasih sayang dan anugerah-Nya kepada kaum muslimin.

Mungkin pengalaman ini sama ketika orang tua kita di zaman perjuangan kemerdekaan. Jikalau  dulu melaksanakan ibadah shaum sambil melawan penjajah, saat kini  menghadapi pandemi Corona yang membutuhkan kekuatan lahir dan batin. Istimewa karena bagi seorang Muslim, shaum adalah energi spiritual dahsyat. Buahnya pun jelas bagi yang berhasil akan meraih predikat takwa, sementara bagi yang gagal hanya mendapatkan haus dan lapar semata.

Tidak sekedar bersifat individual tetapi nilai-nilainya meluas menjadi ketakwaan sosial. Keshalehan tak hanya bersifat vertikal (hamba dengan Tuhan), tapi juga bersifat horizontal (sesama manusia dan dengan makhluk lain yang juga merupakan ciptaan-Nya).

Istilah takwa, jika dirujuk ke makna awalnya, merupakan bentuk mashdar dari kata ittaqâ-yattaqi, yang bermakna menjaga diri dari segala yang membahayakan. Dalam Al-Quran, kata takwa disebut 258 kali dalam berbagai bentuk dan konteks. Makna umumnya dipahami sebagai upaya seorang beriman untuk menjalankan semua perintah dan menjauhi larangan.

Manusia bertakwa akan selalu menebar kebaikan kepada sesama dalam kondisi lapang dan sempit. Ruang memaafkannya luas. Mampu menahan kebencian dan berbuat baik kepada yang telah zalim kepada kita sekalipun.

 Bukankah ini merupakan energi hebat untuk melahirkan masyarakat yang saling percaya dan penuh cinta?

Al-Quran berulang kali menyebut orang yang bertakwa sebagai orang yang  dicintai Allah Swt. Mereka akan mendapatkan kebahagiaan abadi, mendapatkan kemenangan, di lindungi selalu oleh Allah Swt.

Tentu saja, butuh kesadaran kolektif untuk mendorong agar keshalehan individual menjadi keshalehan sosial, dari ketakwaan individual menjadi ketakwaan sosial. Karena demikianlah sejatinya pada hal yang sederhana saja, kita tidak disebut orang beriman bilamana tidak mencintai tetangga atau saudaranya seperti mencintai diri sendiri. Akidah yang personal, selalu tak terpisahkan dari dimensi sosial.

Sebagaimana dijanjikan Al-Quran, manusia bertakwa akan diberikan kelebihan dianugerahi petunjuk untuk membedakan yang benar dan salah. Mendapatkan jalan keluar pada setiap kesulitan yang dihadapi. Dimudahkan segala urusannya serta dilimpahi berkah dalam kehidupannya.

Saatnya kesadaran kolektif untuk mengimplementasikan kebaikan dalam kehidupan sosial di tengah pandemi Covid 19  menjadi kebutuhan. Semoga wabah ini tak menjadikan kita terpuruk, tapi naik kelas menjadi manusia mulia.

Datangnya musibah tidak akan mengubah kita dalam beristiqamah melakukan ibadah Ramadhan, dan tidak akan menghalangi kita sungguh-sungguh meraih keberkahannya. Persiapan yang saksama insyaa Allah akan membantu kita mengoptimalkan amaliah Ramadhan.

Hal  yang tidak boleh kita lupakan bahwa dalam musibah yang sedang menimpa semua belahan dunia ini, ada banyak hikmah yang bisa diambil. Diantaranya adalah fakta yang tidak terbantahkan bahwa betapa lemahnya manusia, kecanggihan ilmu dan teknologi belum bisa menundukkan makhluk ciptaan Allah.

Saatnya menunjukkan pada umat bahwa kemajuan ciptaan akal manusia tidak bisa diandalkan untuk menjamin keselamatan dan kesejahteraan manusia.

Istighfar dan tobat yang terus kita lantunkan semoga memberikan kesadaran bahwa di balik wabah ada peringatan yang disampaikan Allah Swt atas kemaksiatan yang dilakukan manusia. Baik pelanggaran yang dilakukan individu maupun yang dikerjakan bersama berupa akibat tidak diterapkannya syariat kafah sebagai sistem yang mengatur kehidupan.

Maka dari itu,  sudah saatnya kita bahu-membahu menyuarakan dengan lantang betapa pentingnya Islam diterapkan sebagai aturan di muka bumi ini. Hal ini supaya kebahagian kaum muslimin bertambah dalam menyambut Ramadhan,  seluruh manusia tidak ada yang panik karena wabah yang melanda,  karena rakyat merasa terlindungi oleh penguasa yang adil. Semoga Allah mengabulkan doa-doa kita dibulan yang penuh ampunan ini. Aamiin. 

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top