Oleh : Sri Gita Wahyuti, A.Md.
Aktivis Pergerakan Muslimah dan Member AMK

Ibu, sebuah kata yang begitu bermakna bagi seluruh manusia karena tidak ada yang lahir ke dunia tanpa melalui ibu. Sosoknya selalu dirindu oleh putra-putrinya, oleh umat dan siapa saja yang ingin memeroleh kemuliaan.

Ibu memiliki peran yang sangat penting bagi terbentuknya generasi suatu bangsa karena ia adalah sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya. Bahkan sejak anak masih dalam kandungan sosok ibu sudah memengaruhi fisik dan mentalnya. Saat anak lahir ke dunia maka ibulah yang hadir mewarnai lembar-lembar kehidupan sang anak.

Tepat sekali jika Islam memberi kedudukan mulia kepada kaum perempuan yang bersedia menjadi ibu. Rasulullah Saw. pernah bersabda, "Surga di bawah telapak kaki ibu". Ini bukti bahwa Islam menempatkan posisi dan peran ibu sebagai tugas utama kaum perempuan. Namun nampaknya tidak banyak perempuan bersedia mengambil peran yang mulia ini.

Saat ini, ideologi kapitalisme tengah mendominasi kehidupan kaum muslimin. Pahan ini telah merasuki kehidupan sebagian kaum perempuan termasuk di dalamnya adalah muslimah. Nilai segala sesuatu diukur dengan materi. Kebahagiaan bermakna berlimpahnya materi. Karena terpengaruh standar nilai materi inilah kaum perempuan merasa perlu untuk menyerbu sektor publik agar bisa menghasilkan uang.

Selain mengejar materi, mengejar kebebasan individu juga merupakan salah satu sebab mengapa perempuan mengabaikan peran ibu. Dia mau melahirkan tetapi tidak sempat mendidik anak dengan baik.

Saat ini, banyak kaum ibu yang lalai memenuhi hak anak, seperti kewajiban memberi kasih sayang, asupan gizi yang terbaik, pendidikan, penanaman akhlak, perlindungan, rasa aman dan nyaman. Ini karena banyak kaum ibu yang tercerabut dari perannya sebagai manager rumah tangga.

Para ibu memilih menjadi wanita karir, TKW, cerai dan tidak mendapat hak pengasuhan anak. Ibu seperti ini harus disadarkan untuk kembali kepada tugas kodrati yang diserahkan Allah Swt. kepadanya yakni sebagai ummu warabbatul bait. Ibu seperti ini juga harus diingatkan bahwa esensi keberadaannya di dunia adalah untuk beribadah kepada Allah Swt. Ini artinya mau tidak mau ia harus patuh kepada aturan Allah Swt. sebagaimana firman-Nya dalam surat al-Ahzab (33) : 36 yang bunyinya,

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِين

"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya dia telah benar-benar tersesat."

Menyadari fitrahnya sebagai perempuan, dimulai dari pemahaman akan kewajiban sebagai ummu warabbatul bait atau ibu pengatur rumah tangga, bagi seorang ibu masa depan anak adalah prioritas.

Dengan naluri lemah lembut, ibu menjadi pelindung dan pengayom bagi anaknya. Dan dengan nalurinya sebagai pendidik, ibu menjadi guru pertama dan utama. Seorang ibu akan memilih sekolah terbaik bagi anak dilihat dari sisi kualitas maupun lingkungan yang kondusif bagi pembentukan karakternya.

Kriteria ibu berkualitas dalam mencetak generasi yang juga berkualitas, antara lain:

1. Seorang ibu harus memiliki aqidah dan syakhsiyyah Islamiyyah.

Jika seorang ibu memiliki aqidah dan syakhsiyyah Islamiyyah, dia akan meyakini bahwa anak adalah amanah dari Allah Swt. yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat nanti. Dengan kepribadian Islam ibu hanya akan menerima dan mengembangkan pemikiran-pemikiran yang sama sekali tidak bertentangan dengan nilai- nilai Islam. Ibu juga hanya akan menjadikan hukum Syara' sebagai standar perbuatannya, mengerjakan sesuatu sesuai dengan perintah dan larangan Allah Swt.

2. Seorang ibu harus memiliki kesadaran mendidik anak sebagai aset politik.

Umat Islam adalah umat terbaik. Julukan ini merupakan julukan langsung dari Allah Swt. sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur'an surat al-Imran ayat 110 yang bunyinya,

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik."

Namun fakta berbicara lain. Kaum Muslimin tidak lagi nampak sebagai umat terbaik. Kita justru menyaksikan bahwa kaum Muslimin saat ini sedang dalam keadaan menyedihkan didera berbagai masalah. Untuk itu yang dibutuhkan oleh umat saat ini adalah pemimpin yang tangguh dalam perjuangan untuk mengembalikan kemuliaan Islam sebagai khoiru ummah yang sudah lama hilang.

Pemimpin yang tangguh hanya akan lahir dari rahim seorang ibu yang meyakini bahwa anak adalah aset perjuangan umat sehingga dia akan berusaha agar jiwa kepemimpinan tumbuh dalam diri anak dan akan membekali anaknya dengan sifat-sifat terpuji yang menjadi keharusan untuk dimiliki oleh seorang pemimpin.

3. Seorang ibu harus memiliki kesadaran politik Islam.

Seorang Muslim tentunya memahami bahwa ajaran Islam begitu sempurna dan menyeluruh. Karena Islam mengharuskan seorang Muslim untuk masuk ke dalam Islam secara kaffah, jelas hukum-hukum yang berkaitan dengan masalah politik pun harus diimani dan diamalkan.

Jika ibu memiliki kesadaran politik yang baik, menguasai hukum-hukum Islam dalam pengaturan urusan umat dan mengikuti perkembangan peristiwa politik dalam dan luar negeri, ia akan memiliki kemampuan untuk membina anaknya menjadi kader politik.

Demikianlah kriteria ibu berkualitas yang akan mampu mengantarkan anak-anaknya sebagai aset berharga bagi keberlangsungan perjuangan umat untuk mencapai kesejahteraan dalam naungan ridha Allah Swt. Wallahu a'lam bishshawwab.
 
Top