Oleh : Syarifa Ashillah
Pemerhati Pendidikan dan sosial

Sudah satu purnama Covid-19 berkunjung di bumi Pertiwi, hampir semua provinsi kedatangan tamu kecil berukuran 125 nanometer ini. Di Indonesia Covid-19 tak hanya berimbas pada kesehatan dan ekonomi tapi juga dunia pendidikan. Karena serangan covid-19 yang menggila pemerintah mengambil kebijakan merumahkan kegiatan belajar mengajar (home Learning). Selama 14 hari dan kemungkinan akan di perpanjang melihat jumlah korban yang kian meningkat hingga hari saja terhitung ada 1.414 jiwa (30/3).

Pembelajaran dalam jaringan (daring) di tempuh agar peserta didik tetap mendapatkan hak untuk belajar. Sehingga semua harus beradaptasi dengan cepat baik guru, murid dan orang tua dalam menjalankan metode ini. Namun bukan tanpa kendala ketika cara belajar ini di tempuh, mulai dari ketidaksiapan guru untuk menjalankan program ini, hanya membebani murid dengan tugas sehingga anak didik stres karena bertumpuknya tugas, tak adanya sarana dan prasarana yang memadai , belum lagi orang tua yang kebingungan untuk mengajari anak

Peran ibu di tengah pandemic sangatlah penting karena kini peran mereka adalah pendidik, agar anak tak ketinggalan pelajarannya namun saat ini para ibu sedang gelagapan menghadapi metode belajar di rumah, mereka tak siap secara teknis. Alasan mereka beragam misal mereka berdalih bukan basic guru sehingga sulit untuk mengajak anak belajar di rumah, kurangnya bahan pembelajaran bagi anak di rumah, penguasaan teknologi yang kurang dan ketidaksiapan ibu membagi waktu antara bekerja dan mengajari anak.

Saat ini kebanyakaan orang tua memang salah kaprah mengenai pendidikan buat hatinya. Menjadikan sekolah satu-satunya sarana anak dalam menimba ilmu. Mereka hanya menyerahkan  begitu saja pendidikan anak ke sekolah dan bimbangan belajar sehingga ketika di minta untuk mendampingi buah hati di rumah mereka gagap bahkan stress karena menganggap mendidik bukanlah kewajibannya. Sungguh bertolak belakang dengan islam, islam berpandangan bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya.

Namun di tengah arus sekuerisme saat ini perempuan tak lagi di tempatkan pada kodratnya. Karena himpitan ekonomi dan badai kemiskinan memaksa ibu keluar dari rumahnya untuk membantu perekonomian keluarga. Berangkat dari masalah ini (perempuan dan ekonomi), Deklarasi Dan Kerangka Aksi Beijing (BPfA) mereka merumuskan strategi masalah perempuan dalam peningkatan pemberdayaan ekonomi perempuan, mengangkat isu kesetaraan gender. Di mana perempuan tak lagi harus di rumah mengurusi urusan domestik (pekerjaan rumah tangga) tapi mengambil posisi yang sama dengan pria yaitu bekerja.

Namun yang terjadi ketika perempuan di sibukkan dengan aktivitas di luar rumahnya berimbas pada anak dan keluarganya, anak menjadi kurang pengasuhan  dan perhatian diperparah dengan sistem pendidikan berbau kapitalis yang orientasinya adalah nilai semata,dengan tujuan makin tinggi pendidikan seseorang maka makin mudah mendapat pekerjaan, namun di sisi lain siswa krisis nilai-nilai moral tak sedikit di dapati murid yang masih berkubang pada pergaulan bebas, lingkar setan narkoba, serta terlibat kriminalitas padahal seharusnya output pendidikan adalah menjadikan peserta didik beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa. Kenyataannya jauh panggang dari api. Begitu juga dengan masyarakat. Seharusnya masyarakat menjadi lingkungan pendidikan bagi anak namun tatanan masyarakat tak kalah bobroknya. Belum lagi tayangan media massa , gaya hidup bebas seperti tawuran, pornografi, sadisme menjadi santapan harian bagi generasi penerus bangsa.

Maka PR ibu amatlah besar tidak hanya mengurus rumah dan suami tapi juga anak. Ibu seharusnya  menjadi pendidik generasi di garda terdepan dengan memahami tujuan pendidikan yang di kolerasikan dengan misi penciptaan manusia oleh sang Khaliq, Allah SWT. Yaitu untuk beribadah kepada Allah SWT  sesuai dengan firmanNya dalam QS. Dzariyat:56. Menanamkan nilai-nilai keislaman dan kehidupan sebagai bekal awal menghadapi dunia. Seorang ibu haruslah kompeten dan handal dalam memdidik dan orang tua harus hadir dalam memberikan tauladan kepada anak.

Namun gagalnya negara mensejahterakan rakyatnya dengan tidak tersedianya lapangan pekerjaan yang cukup untuk ayah. Ayah tak hanya menanggung nafkah tapi juga biaya pendidikan dan kesehatan yang mahal membuat kaum ibu di negeri terpaksa turun tangan mengais rejeki, bahkan ada 13,91 % perempuan sebagai kepala rumah tangga dan tak sedikit menjadi pahlawan devisa bagi negara tapi harus menanggalkan peran utamanya yaitu mengurus keluarga.

Jika penggelolaan SDA sesuai dengan hukum ekonomi islam dalam hal kepemilikan, SDA termasuk dalam kepemilikan umum, bukan kepemilikan individu atau negara. Ketentuan ini didasarkan pada hadits Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam: "Kaum muslimin berserikat dalam tiga hal: yaitu air, padang rumput (gembalaan), dan api." (HR. Abu Dawud, Ahmad, Ibnu Majah).

Dengan landasan hadist ini negara harus mengelola SDA dan pengelolaanya tak di serahkan kapada individu baik swasta maupun asing dan dikembalikan untuk rakyat dalam bentuk kesejahteraan.

Namun peran tersebut tak akan berjalan pada suatu negara yang menerapkan sistem kapitalisme bercorak pada korporatokrasi, negara hanyalah pelayan untuk para pemilik modal sedang kepentingan rakyat dinomor duakan. Rakyat harus berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Maka dengan momentum ini kita gunakan untuk mengambalikan peran ibu ke pangkuan keluarga. Dan memperjuangkan aturan-aturan islam karena sejalan dengan nilai-nilai kehidupan.
 
Top