Oleh : Hj. Yeni

Wabah pandemic virus corona (covid-19) kian hari kian mencekam dunia selain belum ditemukan vaksin dan obatnya penyebarannya yang tak terduga membuat cemas dan takut seluruh dunia. Virus ini pertama kali ditemukan penyebarannya di kota wuhan cina yang masih erat kaitannya dengan virus SARS, yang diduga kuat berasal dari hewan liar yang banyak diperjualbelikan Huanan Seafood Market dipusat kota Wuhan. Selain di Cina korban terbanyak terdapat di AS. AS menjadi Negara dengan kasus corona terbanyak di dunia. tak ketinggalan di Negara kita Indonesia penyebarannya kian hari kian bertambah, penyebaran terbanyak terdapat di DKI Jakarta sebagai pusat ibu kota.

Wabah pandemic virus corona termasuk musibah yang Allah SWT timpakan kepada manusia. Bagi mukmin musibah ini adalah ujian kesabaran. Bagi kaum fasik musibah ini adalah peringatan agar segera sadar dan kembali ke jalan Allah SWT. Seorang mukmin akan menyadari semua mahluk yang ada dimuka bumi ini adalah ciptaan-Nya, termasuk virus mahluk yang tak bisa dilihat oleh mata dan tak ada satu makhluk pun ciptaan-Nya yang sia–sia dan tidak berguna (QTS Ali-Imran {3}:191)
Bagi seorang muslim kemunculan setiap wabah harus menjadikan lebih taat kepada Allah SWT dan makin menyadari betapa dekatnya kematian pada setiap diri manusia. Berbeda dengan orang fasik yang banyak mengeluh dan mengumpat mereka tidak yakin dan tidak sadar kalo semua yang menimpanya merupakan peringatan agar mereka bertobat dan kembali kepada Allah SWT. Bagi mereka semua itu hanya fenomena alam biasa tidak ada kaitannya dengan amal perbuatan manusia.

Kita bisa mengambil pelajaran dari wabah corona yang terjadi ini, bahwa begitu kecil dan lemahnya manusia, jangankan menghadapi Allah Yang Maha Besar, menghadapi mahluk-Nya aja yang begitu kecil sudah tak berdaya. Wabah ini terjadi akibat dari paham yang banyak meracuni masyarakat yang banyak melanggar syariat yang dianut kaum liberal.
Bagi kaum yang berakal harusnya menyadari kalo wabah corona yang mengerikan ini adalah peringatan dari Allah, agar tidak menomersatukan dunia dan tidak menjungjung tinggi hukum-hukum buatan manusia dan mencampakan hukum Ilahi. Bagi penguasa jika tetap berpaling dari Allah SWT dan menentang Syariah-Nya pasti akan menjadi manusia yang hina bukan hanya di akhirat, diduniapun, ketika pangkat dan jabatan sudah tidak dalam genggaman, tentu mudah saja bagi Allah sebagaimana mudahnya Allah SWT menggemparkan dunia dengan wabah corona saat banyak negara–negara adidaya bersifat pongah (QS.al-An’am: 124).
 
Top