Oleh : Heni Andriani
Member Akademik Menulis Kreatif

Di tengah pandemi virus Corona atau Covid-19, tenaga medis mulai dari dokter hingga petugas kebersihan rumah sakit, menjadi pejuang di garda terdepan dalam menolong masyarakat. Namun begitu, rasa takut selalu dapat mempengaruhi nurani tiap orang.

Seperti yang dialami dokter dan perawat di Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta Timur. Paramedis tersebut justru mendapat perlakuan tak menyenangkan karena tiba-tiba diusir dari kosan yang disewa.

Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Harif Fadhilah, membenarkan adanya aduan dan keluh kesah dari paramedis tersebut.

"Iya ada. Ya mereka kan sejak Rumah Sakit Persahabatan ditetapkan sebagai rumah sakit rujukan itu, bukan hanya perawat, ada juga dokter, mahasiswa juga yang di situ, diminta untuk tidak kos di situ lagi," tutur Harif saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (25/3/2020).

Ketika kita mendengar berita di atas tentu merasa miris dan sedih. Bagaimana pun mereka adalah pahlawan yang berada di garda terdepan dalam menangani pasien Covid19. Sejatinya mereka seharusnya diberikan penghargaan dan santunan. Tidak layak bagi mereka di diskriminasi apalagi diusir seolah melakukan sesuatu kejahatan saja.

Bahkan kejadian serupa terjadi di daerah Jawa Tengah hingga Gubernur Jawa Tengah  Tengah Ganjar Pranowo merasa teriris hatinya tatkala mendengar kabar peristiwa penolakan pemakaman jenazah Covid-19. Penolakan tersebut dilakukan oleh sekelompok warga di daerah Sewakul, Ungaran, Kabupaten Semarang pada Kamis (09/04/2020). Ganjar mengaku terkejut dengan peristiwa tersebut, terlebih saat mengetahui bahwa jenazah yang ditolak pemakamannya itu adalah seorang perawat yang bertugas di RSUP Kariadi Semarang. Dengan sorot mata yang berkaca-kaca, Ganjar pun menyampaikan permintaan maaf. Hal tersebut seperti dilansir dari Kompas.Com.

Sedari awal wabah ini terjadi memang tidak dianggap sebagai hal yang serius makanya hal yang tidak aneh masyarakat tidak teredukasi dan memandang hal ini sebagai sebuah aib.
Padahal seharusnya hal ini tidak harus terjadi di masyarakat kita yang terkenal dengan rasa gotong royongnya.

Patut dipahami bahwa wabah ini merupakan sebuah musibah bukan merupakan aib. Karena siapapun bisa terkena virus corona yang terus menjatuhkan korban dari hari ke hari.

Bila kita mendengar banyak para pejuang kesehatan saat ini memang sangat kurang mendapatkan perhatian. Bahkan APD pun sangat kekurangan. Belum ditambah jumlah pasien terus meningkat seiring kurangnya kesadaran di masyarakat. Hal ini terjadi karena tidak ada jaminan kebutuhan pokok hidupnya dari negara.

Berbagai problem terus menimpa bangsa ini seolah tak pernah berakhir. Semuanya akibat diterapkan sistem Kapitalisme yang menjadikan materi sebagai standar hidupnya. Faktanya seperti sekarang ketika wabah terjadi yang dipikirkan adalah untung dan rugi. Tidak ada penanganan yang serius bahkan berbagai kebijakan pun kadang tidak relevan dengan kondisi masyarakat.

 Tengok saja  masyarakat pun tidak teredukasi bahkan dibiarkan berjalan tanpa sebuah arahan yang jelas tentang dampak akibat mengabaikan virus tersebut. Selain itu pula masyarakat tidak terlalu memahami bagaimana menangani mayat yang terkena virus tersebut. Pada akhirnya permasalahan pun di lapangan semakin banyak tanpa solusi tuntas.

Islam adalah Solusi Permasalahan Hidup

Di dalam sistem Islam nyawa manusia sangatlah berharga dibandingkan dunia seisinya. Makanya di dalam sejarah Islam sangat memperhatikan, menjamin kesejahteraan umat serta rasa aman yang harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya.
Bahkan ketika wabah tha'un melanda Rasulullah saw memberikan solusi jitu agar terhindar dari penyakit tersebut.

Hal ini pun dilakukan oleh para generasi sahabat, para khalifah setelahnya. Semua ini karena di landasi keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Rasa takut kelak semua perbuatan akan diminta pertanggungjawaban di akhirat kelak sehingga mereka menjalankan amanah sebagai pemimpin secara amanah.

Sesungguhnya di dalam Islam orang yang meninggal karena sakit perut ataupun kena wabah dimasukkan derajatnya sebagai mati syahid. Bahkan diserupakan pahalanya orang mati syahid di medan perang. Sebuah derajat yang mulia. Tentu tidak ada kesia-sian ketika meninggal karena wabah jika bersabar. Ini merupakan bentuk qodho qodar yang baik dan buruk harus diimani tanpa memandang sebagai sebuah aib apalagi didiskriminasi.

Hal ini tercantum di dalam riwayat Bukhari

عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال المبطون شهيد والمطعون شهيد

“Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah ia bersabda, ‘Orang yang mati karena sakit perut dan orang yang tertimpa tha’un (wabah) pun syahid." (HR. Bukhari).

Rasulullah juga memberikan metode penanganan wabah dengan istilah lockdown (berdiam diri) di masa kita sekarang . Artinya berdiam diri di rumah dengan penuh kesabaran dan keikhlasan serta meningkatkan kualitas keimanan. Serta memahami wabah yang terjadi sebagai ujian bagi kita semua.

Dari Abdullah bin Amir bin Rabi‘ah, Umar bin Khattab ra, menempuh perjalanan menuju Syam. Ketika sampai di Sargh, Umar mendapat kabar bahwa wabah sedang menimpa wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf mengatakan kepada Umar bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda,
‘Bila kamu mendengar wabah di suatu daerah, maka kalian jangan memasukinya. Tetapi jika wabah terjadi wabah di daerah kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.’ Lalu Umar bin Khattab berbalik arah meninggalkan Sargh,” (HR. Bukhari dan Muslim).

Selain itu pula  peran negara memberikan bantuan berupa jaminan kebutuhan pokok hidup, memberikan fasilitas kesehatan yang memadai dan lengkap kepada para tenaga medis sebagai pejuang di garda terdepan.

Betapa saat ini kita mendambakan sistem yang bisa memberikan perlindungan terhadap rakyat. Oleh karena itu saatnya kita membuang sistem demokrasi kapitalis yang menyengsarakan rakyat. Sehingga tidak ada lagi penolakan, pengusiran terhadap jenazah Covid 19 saat wabah terjadi seperti sekarang ini.

Wallahu a’lam bi bishowwab







 
Top