Oleh : Ati Solihati, S.TP
Praktisi Pendidikan dan Pengamat Sosial


Sebuah sistem kehidupan, coraknya sangat dipengaruhi oleh ideologi (mabda) yang menjadi landasan sistem kehidupan tersebut.  Berjalannya sebuah kehidupan ditopang oleh tiga pilar, yaitu pilar individu, masyarakat, dan negara. Negara  merupakan pilar paling utama yang menentukan keberlangsungan sistem kehidupan berlandaskan pada suatu ideologi. Negara, dengan seperangkat kewenangan yang melekat dalam dirinya, dapat mewujudkan masyarakat yang kokoh, dan bahkan juga dapat menghadirkan individu-individu rakyat yang turut menopang kokoh dan utuhnya tatanan masyarakat dan negara tersebut. Ketika suatu ideologi telah menjadi landasan perikehidupan sebuah sistem, hal itu tampak dalam internalisasi ideologi dalam ketiga pilar tersebut.

Ideologi yang menguasai peradaban umat manusia saat ini adalah ideologi kapitalisme. Sehingga ideologi kapitalisme pulalah yang terinternalisasi di dalam diri ketiga pilar yang menjadi penopang sistem. Walaupun tingkat internalisasinya beragam antara satu wilayah dengan wilayah yang lain. Secara umum, ideologi kapitalisme akan mewujudkan sebuah negara yang dikendalikan oleh para pemimpin berjiwa ‘corpotocrate’, penguasa berjiwa pengusaha. Negara di bawah kewenangannya dipandang sebagai sebuah perusahaan yang selalu harus meraih keuntungan yang bersifat materi. Peran negara hanya sebagai regulator, dan itu pun lebih mewakili kepentingan kelompok para pengusaha saja.  Sementara abai dalam memenuhi kebutuhan rakyat secara umum.   Ideologi kapitalisme akan mewujudkan masyarakat yang antisosial. Masyarakat hanya sekedar sekumpulan individu, dengan sifat-sifat idividualisme yang sangat dominan. Setiap individu dalam sistem kapitalisme lebih mengutamakan kepentingan pribadi daripada kepentingan umum.  

Alangkah sangat berbeda tatkala ideologi Islam menguasai peradaban umat manusia. Selama hampir 14 abad lamanya, umat manusia hidup berlimpah kesejahteraan dalam naungan ideologi Islam. Umat manusia berada dalam peradaban yang maju dan mulia, pada tingkat yang belum pernah dicapai oleh ideologi manapun. Saat itu, ideologi Islam terinternalisasi dalam 3 pilar penopang sistem, yakni negara, masyarakat, dan individu. 

Kepala negara, peranannya sangat sentral. Dia hadir di hadapan rakyat sebagai junnah (perisai), sebagai penanggung jawab umum akan seluruh urusan rakyat. Dalam urusan domestik, dia bertanggung jawab penuh dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang terpenuhi secara sempurna kebutuhan primernya (pangan, sandang, papan), memberikan kemudahan agar terpenuhi kebutuhan sekunder dan tersiernya, dan menjamin terpenuhinya kebutuhan komunal rakyat (pendidikan, kesehatan, dan keamanan). Dalam urusan hubungan luar negeri, tidak terlepas dari dakwah untuk menyebarkan Islam.  Hubungan bilateral ataupun multilateral akan dijalin hanya dengan negara-negara yang tidak memusuhi umat Islam secara nyata. Hubungan berbagai muamalah akan dijalin, jika tidak ada sesuatu dibalik hubungan tersebut yang dapat membahayakan eksistensi institusi Islam, yang berpotensi institusi Islam berada dalam tekanan dan kendali negara lain. Hubungan luar negeri dijalin untuk kemuliaan Islam dan kaum muslimin, dalam rangka lebih meningkatkan kesejahteraan rakyatnya, dan melindungi rakyatnya dari kemungkinan adanya ancaman dari luar.  

Ideologi Islam yang terinternalisasi dalam diri masyarakat, mewujudkan masyarakat yang peka dengan kondisi yang ada. Masyarakat tidak akan rida dengan setiap penyimpangan yang terjadi di kalangan anggota masyarakat. Sehingga masyarakat pasti akan segera berupaya meluruskan penyimpangan tersebut. Terlebih lagi masyarakat tidak akan rida dengan setiap penyimpangan dan kezaliman yang dilakukan oleh penguasa. Sehingga masyarakat pasti akan segera melakukan muhasabah kepada penguasa. Nuansa amar makruf nahi munhkar demikian kental dalam masyarakat yang telah terinternalisasi ideologi Islam. Di samping itu nuansa saling berkasih sayang, saling mendahulukan kepentingan umum, peka dengan setiap permasalahan yang terjadi di lingkungan sekitarnya, dan memiliki kepedulian yang tinggi untuk melakukan upaya yang terbaik untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

Terinternalisasinya ideologi Islam dalam diri individu, nampak dalam  ketakwaan yang terhujam sedemikian kokoh dalam jiwanya.  Ketakwaan tersebut mewujudkan individu-individu ahli ibadah, sosok berakhlak mulia, pengemban dakwah, namun tetap memiliki etos yang tinggi dalam berkiprah mewujudkan masyarakat yang maju sekaligus mulia dengan nilai ruhiyah yang tinggi.

Sudah hampir lima bulan ini, penduduk bumi dihadapkan dengan sebuah wabah yang telah melumpuhkan hampir seluruh sendi kehidupan umat manusia. Bahkan karena demikian meluasnya wabah ini, hampir menimpa seluruh negara di dunia, dengan tingkat penyebaran yang demikian cepat, sehingga sejak tanggal 11 maret 2020, WHO menetapkan wabah ini sebagai pandemi.  Pandemi Covid-19, Corona Virus Disease (tahun) 2019, sesuai dengan awal tahun kemunculannya, yaitu 2019 (Desember). Kemajuan sains dan teknologi yang selama ini teramat disombongkan manusia atas capaiannya, dibuat tak berkutik. Tingkat perekonomian yang melesat yang menjadikan uang seakan menjadi tuhan baru, pun ambruk tak berdaya. Hingar bingar hiburan berbalut beragam aksi kemaksiatan yang kerap dipertontonkan, pun akhirnya tutup layar. Negara adidaya yang selama ini merasa paling jumawa, dan membuat mati kutu negara-negara lain saat menghadapinya, malah giliran dia sekarang yang mati kutu. Dimana sekarang jumlah kasus yang terjadi di Amerika Serikat jumlahnya adalah paling tinggi, melampaui kasus yang terjadi di China dan Italia.  Seluruh penduduk bumi tak berkutik. Padahal yang dihadapi adalah virus, makhluk hidup yang paling kecil, ukurannya saja dalam hitungan nano meter (10^-9 m). Saking super kecilnya, sehingga tidak dapat dilihat dengan mikroskop biasa, tetapi mesti dengan mikroskop elektron. Bahkan statusnya sebagai organisme pun masih diragukan, antara makhluk hidup atau benda mati, karena dia hanya akan hidup kalau ada inangnya. Artinya dia hanya akan hidup kalau menempel pada makhluk hidup.

Ulah si makhluk yang super mungil ini, telah membuat kelabakan seisi bumi. Para kepala negara pun gagap gempita menghadapinya. Tak terkecuali negara kita. Bahkan lebih tergagap-gagap. Jangankan pilar paling bawah. Pilar paling atas yang semestinya menjadi perisai yang melindungi pun, tak berdaya.  

Wabah yang melanda semakin membuka topeng akan buruk dan boroknya wajah kapitalisme. Wabah Covid-19, yang telah melumpuhkan semua sendi kehidupan umat manusia, semakin menampakkan, bahwa ideologi kapitalisme tidak memiliki konsep jitu untuk menghadapinya. Ideologi kapitalisme yang asas kehidupannya semata manfaat, semakin menajamkan aspek individualistis pada masyarakat. Hanya berpikir bagaimana caranya agar dirinya selamat dari wabah dan tetap berkecukupan dalam kondisi sulit akibat wabah. Bahkan tak sedikit yang mencari untung dan manfaat di atas penderitaan saudaranya. Muncullah fenomena panic buying. Ramai-ramai memborong beragam kebutuhan dalam jumlah yang fantastis. Yang membuat banyak barang kebutuhan menjadi langka di pasaran, dan masyarakat yang lain tidak dapat memperolehnya.  Muncul juga fenomena penimbunan barang-barang yang sangat dibutuhkan, seperti masker, sanitizer, thermometer, dan lain-lain. Kemudian ketika nampak semakin mendesaknya kebutuhan masyarakat akan barang tersebut, maka dia pun menjualnya dengan harga yang tidak rasional. 

Ideologi kapitalisme juga telah menyingkap jiwa pengusaha pada diri penguasa. Penguasa tidak hadir sebagai perisai untuk melindungi rakyat dari wabah. Penguasa tidak maju di garda terdepan untuk menyelamatkan rakyat dari infeksi wabah. Penguasa tidak mengerahkan segenap pikiran, tenaga, serta kepeduliannya untuk membuat kebijakan yang mampu menekan laju wabah, yang mampu meminimalisir penularan wabah, yang mampu menjaga imunitas tubuh rakyat tetap prima, dan mampu memberikan pelayanan kesehatan terbaik yang memungkinkan jaminan kesembuhan bagi yang terinfeksi. Pemerintah tak mampu menjamin pemenuhan kebutuhan rakyat yang menjadi serba sulit dalam kondisi wabah ini.

Di satu sisi, pemerintah menampakkan gagapnya dalam menghadapi wabah. Bahkan cenderung abai. Tatkala wabah pertama kali terjadi di Wuhan, China, pemerintah tidak langsung mengambil antisipasi untuk meminimalisir kemungkinan wabah tersebut pun sampai ke bumi nusantara ini. Karena bagaimana pun, dalam era globalisasi seperti saat ini, tidaklah mungkin ketika wabah terjadi di suatu negeri, maka kita akan terhindar darinya. Terlebih lagi wabah ini pertama kali munculnya di China, negara dimana pemerintah kita sangat berhubungan mesra. Bahkan ketika wabah tersebut terjadi pun, tetap dibuka keran arus kedatangan tenaga kerja asing dari China.  

Ketika kemudian secara resmi mulai ada korban yang terindikasi infeksi Covid-19, barulah mulai nampak ada kegusaran. Namun, sayangnya kegusaran tersebut tidak diwujudkan dengan menetapkan kebijakan strategis untuk melindungi rakyat dari wabah. Kalkulasi materi menjadi pertimbangan utama.  Ketika korban semakin bertambah setiap harinya, sekalipun banyak masukkan kepada pemerintah untuk segera melakukan ‘lockdown’ (karantina wilayah). Namun, pemerintah tak bergeming untuk mengambil strategi tersebut. Lagi-lagi pertimbangannya adalah materi. Karena dalam UU No.6 tahun 2018 tentang karantina wilayah, selama dalam karantina wilayah, kebutuhan hidup dasar orang dan makanan hewan ternak yang berada di wilayah karantina menjadi tanggung jawab pemerintah pusat.  Kemudian, Pasal 8 UU 6/2018 menegaskan bahwa setiap orang juga mempunyai hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dasar sesuai kebutuhan medis, kebutuhan pangan, dan kebutuhan kehidupan sehari-hari lainnya selama karantina.  Dan yang dimaksud dengan "kebutuhan kehidupan sehari-hari lainnya" antara lain, kebutuhan pakaian dan perlengkapan mandi, cuci, dan buang air.

Sikap gagap pemerintah pusat nampak dalam kebijakan yang berubah-ubah.  Pemerintah menetapkan strategi social distancing, dengan sistem ‘darurat sipil’, menggunakan acuan Perpu No.23 tahun 1959. Namun, kebijakan ini menuai penolakan yang keras dari masyarakat. Sebab, masyarakat sangat memahami betapa mencekamnya kondisi yang akan terjadi jika darurat sipil diterapkan. Selain membatasi orang keluar rumah, dan setiap orang berada dalam pengawasan, sementara secara payung hukum, pemerintah tidak berkewajiban memenuhi kebutuhan rakyat. Kemudian pemerintah pun mengganti strateginya. Pemerintah mengeluarkan Perpu No. 21 tahun 2020, tentang PSSB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Rakyat tetap dibuat kecewa, karena dengan kebijakan ini pun, pemerintah memiliki payung hukum untuk tidak berkewajiban memenuhi kebutuhan rakyat selama masa sulit karena wabah ini.

Semakin nampaklah wajah kapitalis dalam diri para penguasa kita. Alih-alih memiliki kepedulian terhadap wabah yang telah memakan korban demikian tinggi. Per tanggal 10 April, sudah di angka 3.512 kasus, dengan korban meninggal 306 orang, berarti tingkat kematian sekitar 9%.  Persentase kematian yang paling tinggi di dunia. Pemerintah malah tetap melanjutkan beragam proyek yang diprediksi akan meraup keuntungan. Pembangunan berbagai infrastruktur tetap berlanjut.  Padahal peruntukkan infrastruktur ini lebih mewakili kepentingan bisnis dan para pengusaha dari pada untuk kesejahteraan rakyat. Rencana pemindahan ibukota tetap berlanjut. Dengan alokasi dana yang fantastis. Yang angkanya cukup untuk memenuhi kebutuhan rakyat jika strategi lockdown dijalankan. Sebagai sebuah gambaran, alokasi anggaran untuk proyek-proyek infrastruktur mencapai jumlah 430 triliun rupiah, sementara perhitungan pendanaan kebutuhan pokok rakyat di saat lockdown kurang dari 200 triliun rupiah. Angka yang bisa dipenuhi, jika pemerintah lebih mengutamakan kepentingan rakyat daripada kerakusan terhadap materi dan kekuasaan. Bahkan DPR RI dikabarkan akan mengesahkan RUU Mineral dan batu Bara (RUU Minerba) Nomor 4 tahun 2009.  Dimana RUU ini memuat perubahan pasal 169 sebagai upaya pemutihan renegosiasi kontrak-kontrak Pemegang Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B), sehingga hanya akan menguntungkan para pengusaha tambang. Sungguh pemerintah kita telah kehilangan nuraninya.  

Demikianlah, buah dari cengkeraman sistem kapitalisme dalam kehidupan.  Ketika ideologi kapitalisme telah terinternalisasi dalam ketiga pilar sistem, negara, masyarakat, dan individu, maka semuanya menjadi kehilangan nuraninya, bahkan bukan mustahil telah hilang fitrahnya.

Wallaahu a’lam bishshawab.
 
Top