Oleh: Tati Ristianti

Dalam pengantar rapat terbatas mitigasi dampak Covid-19, menyebabkan turunnya sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (16/4/2020). Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa pada 2021 akan terjadi booming di sektor pariwisata di seluruh Indonesia. Sebab, Jokowi meyakini wabah virus Covid-19 di Indonesia akan selesai di akhir tahun 2020.

"Saya meyakini ini hanya sampai akhir tahun. Tahun depan booming lagi di pariwisata. Semua orang ingin keluar, semua orang ingin menikmati kembali keindahan pariwisata, sehingga optimisme itu yang harus terus diangkat," kata Presiden Jokowi. Beliau tidak ingin adanya pesimisme terkait Covid-19 yang menyebabkan lonjakan pariwisata tahun 2021 tidak bisa dimanfaatkan dengan baik. Apalagi, pemerintah sudah menyiapkan destinasi wisata unggulan, seperti Danau Toba dan Labuan Bajo.

"Jangan sampai nanti kita terjebak pada pesimisme karena masalah Covid-19 ini sehingga booming yang akan muncul setelah Covid-19 ini selesai tak bisa kita manfaatkan secara baik," ujarnya. (detik.com)

Atas dasar apa mereka begitu yakin terhadap waktu tenggat selesainya covid-19. Padahal setiap manusia itu lemah, akal manusia tidak dapat menjangkau esok lusa maupun akhir tahun. Manusia hanya memiliki rencana dan Allah-lah yang akan membuat semua hal ini akan terjadi. Ucapankanlah “Insya Allah” pada setiap janji, sebagaimana dalam firman Allah SWT:

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: ‘Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi’, kecuali (dengan menyebut): ‘Insya Allah’. Dan ingatlah kepada Rabb-mu, jika kamu lupa, dan katakanlah: ‘Mudah-mudahan Rabb-ku akan memberiku petunjuk, kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini’.” (QS. Al-Kahfi: 23-24)

Ketika seseorang memiliki suatu kecenderungan emosional dan penuh kesombongan untuk mencapai sebuah tujuan, ia selalu berharap bahkan berkhayal agar segala sesuatu bisa terwujud. Tipe berpikir seperti ini menjadikan perasaan berkuasa penuh untuk menentukan dan memutuskan setiap perkara. Oleh karena itu, banyak orang yang menghalalkan segala cara agar tercapainya suatu tujuan. Cara yang tidak sesuai dengan kaidah Islam pun banyak yang melakukan. Hal ini disebabkan karena tidak diterapkannya syari'at Islam dalam seluruh aspek kehidupan khususnya dalam bernegara.

Sesungguhnya dari berbagai program yang dirancang seperti pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di bidang pariwisata hanyalah kedok untuk menutupi motif buruk yang terkandung di dalamnya yakni penjajahan. Jika negara menjadikan pariwisata sebagai sumber ekonomi maka segala sesuatu akan dilakukan demi kepentingan ekonomi dan bisnis walaupun didalamnya terdapat berbagai praktik kemaksiatan dan kemusyrikan yang tak terkendali.

Jika kita cermati, keanekaragaman budaya juga dimanfaatkan untuk mendongkrak pariwisata, tidak memperhatikan baik-buruknya. Eksploitasi perempuan menjadi sesuatu yang salah dalam kepariwisataan. Atas nama gender equality, perempuan menjadi pemandu wisata dengan mengabaikan keselamatan dan kehormatannya sehingga rentan terjadi kekerasan kepada perempuan. Sementara itu, jaminan keselamatan hanya diberikan kepada wisatawan saja.

Solusi ala kapitalis memang tidak akan pernah menguntungkan rakyat. Berbeda halnya dengan solusi yang diberikan oleh Islam. Dalam sistem ekonomi Islam, semua sumber daya alam harus dikelola oleh negara karena termasuk katagori milik umum yang wajib dikelola oleh negara dan haram diserahkan ke swasta apalagi asing.

Hanya dengan penerapan Islam dalam institusi Khilafah Islam yang menjadikan sumber daya alam bisa dinikmati oleh seluruh rakyat dengan baik dan penuh keberkahan. Maka, sudah sepantasnya pariwisata dijadikan sebagai sarana dakwah untuk menyebarluaskan ideologi Islam baik kepada mereka yang memasuki wilayah maupun rakyat negara kafir diluar wilayah.

Wallahu'alam bi Ash-shawab
 
Top