Oleh : Luluk Kiftiyah
 Member  AMK

Ramadhan adalah bulan penuh berkah, didalamnya ada banyak keistimewaan seperti, bulan dikabulkannya do'a- do'a, di bukakannya pintu maaf, bulan terbaik untuk bersedekah, turunnya lailatul qodar dan masih banyak lagi.
Momen Ramadhan adalah penantian setiap umat Islam, yang datangnya hanya setahun sekali. Karena itu kaum muslimin berlomab-lomba melakukan kebaikan di bulan yang mulai ini.
Seperti sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Salam :

لاَ تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ، وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ
 “Tidak akan bergeser kaki manusia di hari Kiamat dari sisi Rabb-Nya  sehingga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya dalam apa ia gunakan, tentang masa mudanya dalam apa ia habiskan, tentang hartanya darimana ia peroleh dan dalam apa ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari yang ia ketahui (ilmu),” (HR. At-Tirmidzi dari jalan Ibnu Mas’ud. Lihat Ash-Shahihah, no. 946).
Tidak  ada jaminan tahun depan masih dipertemukan lagi dengan bulan Ramadhan. Mengingat datangnya ajal tidak ada yang tahu, karena hal itu adalah rahasia Allah Swt .
Dalam hadis lain beliau bersabda, "Sebaik-baik diantara kalian ialah orang yang panjang umurnya dan baik pula amalannya". (HR At-Tarmidzi).
Sungguh beruntung jika seorang hamba mampu menggunakan usianya untuk beramal kebajikan. Akan tetapi sungguh merugi dan celaka seseorang jika ia tidak mampu menggunakan nikmat waktu dalam usianya untuk beribadah.
Namun, Ramadhan kali ini  suasananya nampak berbeda, karena Allah sedangmenguji hamba-Nya dengan virus covid-19. Mungkin ini bala' untuk hamba-Nya yang sudah terlalu banyak melakukan kemaksiatan di bumi Allah ini.
Sebagai contoh maraknya kasus aborsi, LGBT yang semakin eksis di tengah masyarakat, perzinahan, perekonomian yang bertumpuh pada ekonomi ribawi dan masih banyak lagi.
Tak lepas dari itu semua, kini umat kembali di buat bingung oleh keputusan Menteri Agama, Fachrul Razi yang menerbitkan surat edaran terkait Panduan Ibadah Ramadan dan Idul Fitri 1 Syawal 1441H di tengah Pandemi wabah corona (Covid-19). Surat edaran yang bernomor 6 tahun 2020 itu salah satu poinnya adalah mengatur mengenai pelaksanaan Salat Tarawih agar dilakukan bersama keluarga inti di rumah masing-masing.
(cnnindonesia.com, 6 April 2020)
Hal ini tentu membuat masyarakat dilema. Apakah mau mematuhi intruksi Menag dengan sholat terawih dirumah masing-masing atau sholat berjama'ah di Mushola atau di Masjid terdekat.
Jika membaca dari surat edaran tersebut, seolah aturannya disama ratakan di semua tempat. Baik tempat yang dinyatakan zona merah ataupun zona hijau.
Selain itu, Menag menginstruksikan agar pelaksanaan Salat Idul Fitri yang biasanya dilaksanakan secara berjamaah di masjid atau di lapangan untuk ditiadakan. (cnnindonesia.com, 6 April 2020)
Mengamati fakta yang terjadi di masyarakat saat ini, menunjukkan betapa umat sudah jauh dari pemahaman Islam. Seharusnya, dalam memutuskan permasalahan tidak boleh di 'gebyak uyah' (disamakan ratakan) antara keadaan di daerah terdampak dan di daerah yang tidak terdampak. Kebingungan yang berlarut-larut ini seolah menggambarkan umat Islam seperti ayam yang kehilangan induknya.
Hal ini akan berbeda, jika kaum muslimin memilki seorang khalifah. Dengan hukum Allah yang dipakai, sehingga mampu menyelesaikan problematika umat ditengah masyarakat.
Ketaatan Total kepada Allah
Dengan dorongan iman, seorang mukmin tak akan memilah-milah hukum Allah Swt . Meyakini dan menerima jika hukum Allah ditegakkan dalam institusi khilafah. Dia akan menjalankan ketaatan total kepada Allah Swt dan Rasul-Nya
Adanya wabah ini, wajib bagi kaum muslim untuk bersabar. Sabar bukan berarti diam, tetapi terus menunjukkan ketaatan kepada Allah Swt dan berusaha mengubah kemungkaran yang ada.
Bisa jadi melalui ujian ini,  jika umat lulus menghadapinya akan menjadi wasilah untuk menjemput pertolongan-Nya. Insya Allah dalam waktu dekat pandemi covid-19 ini berakhir dan menjadi Ramadan terakhir tanpa Khilafah.
Aamiin.
Wallahu a’lam bi bishowwab
 
Top