Oleh: Zahra Azzahi
                        Member AMK

"Tidak ada kekuatan yang bisa mengguncang fondasi dari negara yang hebat ini, Tidak ada kekuatan yang bisa menghentikan rakyat Cina dan negara Cina untuk terus maju.” Begitulah cuplikan pidato Presiden Cina Xi jin Ping saat peringatan 70 tahun berdirinya Cina. Tak lama berselang dari pidatonya tersebut, virus Covid-19 mewabah di Negeri Tirai Bambu dan menyebar ke seluruh penjuru dunia. Mewabahnya pandemi virus Corona seolah menjawab kesombongan pemimpin Cina tersebut.

 Indonesia, virus Corona telah menyebar ke berbagai penjuru tanah air, untuk menghentikan penyebaran virus Corona pemerintah pusat mengambil langkah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Berbagai wilayah merespon kebijakan pemerintah dengan mengajukan penerapan PSBB di daerah mereka. Dikutip dari laman detik.com, Pemerintah Kabupaten Bandung mengajukan tujuh kecamatan untuk penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Tujuh kecamatan ini menjadi titik lokasi terjadinya kasus positif Covid-19.


 Bandung tidak menerapkan PSBB secara penuh, melainkan PSBB Parsial. Kabupaten Bandung akan mengikuti PSBB Bandung Raya bersama dengan empat kabupaten dan kota lainnya yakni Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Sumedang. Dalam PSBB Parsial tersebut Pemkab Bandung hanya ada beberapa kecamatan yang akan dibatasi. Kecamatan tersebut lokasi terjadinya kasus positif dan kecamatan yang menjadi penyangga atau berbatasan langsung dengan Kota Bandung.
"Hasil rapat gugus tugas hari ini, ini berkaitan tentang penerapan PSBB. PSBB itu tidak semua kecamatan tapi parsial. Beberapa kecamatan yang menjadi penyangga Kota Bandung," terang Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Bandung Yudi Abdurahman. Yudi mengungkapkan, tujuh kecamatan dari 31 kecamatan di Kabupaten Bandung yang diajukan adalah Kecamatan Margaasih, Margahayu, Dayeuhkolot, Bojongsoang, Cilengkrang, Cileunyi, dan Cimenyan. (detik.com, 15/4/2020)

Dampak dari merebaknya virus Corona sangat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama masyarakat menengah ke bawah. Maka penerapan PSBB parsial di Kabupaten Bandung harus memperhatikan segala aspek, terutama aspek ekonomi. Social distancing dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akan semakin mempersempit ruang gerak masyarakat dalam mencari nafkah. Masih beroperasinya perkantoran, pabrik, dan pusat perbelanjaan mengharuskan para karyawan keluar rumah dan tetap bekerja di tengah pandemi. Kehidupan yang sulit akan semakin terasa manakala harus memilih antara diam di rumah namun kelaparan atau nekat melanggar himbauan pemerintah dan terus bekerja dengan resiko tertular virus Corona. PSBB  terlaksana dengan baik jika ada kerja sama antara masyarakat, pemerintah pusat dan daerah, serta pihak swasta yaitu para pemilik perusahaan.

Seiring dengan meningkatnya pengangguran dan kemiskinan di tengah pandemi virus Corona, pemenuhan kebutuhan pokok rakyat terutama kebutuhan makanan, menjadi hal yang sangat penting yang harus diperhatikan oleh pemerintah. Dengan demikian rakyat tidak perlu khawatir kelaparan dan dengan suka rela mematuhi setiap himbauan pemerintah demi memutus penyebaran virus Corona. Penyaluran bantuan kebutuhan pokok dan bantuan langsung tunai pun hendaknya dilakukan secara transparan, dengan proses yang mudah dan tidak berbelit-belit sehingga seluruh bantuan pemerintah dapat segera dirasakan oleh masyarakat.

Bagi kaum muslim munculnya wabah penyakit menular bukanlah hal baru, dalam banyak literatur dan sejarah, Islam memiliki tuntunan serta memberikan solusi dalam menghadapi wabah. Jauh sebelum peradaban modern mengenal istilah lockdown atau karantina wilayah, Islam telah lebih dahulu membangun ide karantina untuk mengatasi penyebaran wabah penyakit menular. Pada masa Rasulullah saw. penyakit kusta yang menular dan mematikan pernah mewabah, dan salah satu upaya yang dilakukan oleh Rasulullah saw. adalah menerapkan karantina atau isolasi terhadap penderita. Ketika itu Rasulullah saw. memerintahkan untuk tidak mendekati atau melihat para penderita kusta tersebut. Rasulullah saw. juga memperingatkan umatnya untuk tidak mendekati wilayah yang sedang terkena wabah, sebaliknya jika sedang berada di tempat yang terkena wabah, mereka dilarang untuk keluar. Beliau bersabda:
“Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu” (HR. Muslim)

Islam telah memerintahkan kepada umatnya untuk senantiasa menerapkan pola hidup sehat, dimulai dengan mengonsumsi makanan yang halal dan baik. Islam pun memerintahkan untuk selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Hal ini dicontohkan oleh Rasulullah saw. dengan cara sering berwudhu, bersiwak, memakai wewangian, menggunting kuku dan membersihkan lingkungan sekitarnya.

Namun demikian penguasalah yang memiliki peran sentral untuk menjaga kesehatan rakyatnya. Terlebih saat terjadi pandemi virus Corona seperti saat ini. Rakyat membutuhkan perlindungan penuh dari negara berupa pelayanan kesehatan dan ketersediaan kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau, atau bahkan diberikan secara cuma-cuma oleh negara. Jika solusi Islam diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan, seperti yang telah dicontohkan oleh para pemimpin kaum muslim terdahulu, niscaya musibah sebesar apapun yang melanda negeri ini dapat terselesaikan dengan tuntas hingga ke akarnya.
Wallahu a’lam bi ash shawab.
 
Top