Oleh : Azizah Nur Hidayah
(Homeschooler, Aktivis Dakwah, dan Member Akademi Menulis Kreatif)


Berada di tengah kondisi wabah seperti sekarang, berbagai dilema kehidupan silih berganti menghampiri. Dilema ekonomi bagi rakyat kecil, pemenuhan kebutuhan yang tidak dipenuhi negara, penjagaan dan antisipasi dari segi kesehatan, bahkan sampai pada tataran pendidikan yang tak merata dan memadai di seluruh pelosok negeri. 

Proses belajar mengajar yang lazimnya dilakukan di sekolah, kini dialihkan ke dalam rumah. Tentu bukan tanpa tujuan adanya pengalihan proses belajar mengajar ini. Hal ini semata-mata dilakukan untuk mengantisipasi atau mencegah penularan pandemi Covid-19 di lingkungan pendidikan. Pembelajaran anak-anak pun dilakukan secara online menggunakan jaringan internet atau dalam jaringan. Mengerjakan PR, melakukan ujian sekolah, menyetor tugas, hingga kelas berbasis video bersama para guru. Semuanya dilakukan secara online.

Fitur-fitur online nan canggih yang mampu memiliki jaringan internet tentu hanya dapat diakses dengan teknologi-teknologi yang memadai. Gadget-gadget canggih dengan fitur yang lengkaplah yang dapat mengakses jaringan internet. Bahkan dengan benda kecil bernama telepon genggam, jaringan internet bisa diakses. Sehingga dinamakan smartphone lantaran mampu menyamai gadget-gadget besar lainnya seperti laptop.

Di tengah kondisi wabah, tentu smartphone merupakan teknologi yang amat diandalkan dalam proses belajar-mengajar. Dengan smartphone inilah, para murid dapat mengakses pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh guru mereka. Tapi di sisi lain, bagaimana dengan para murid yang orantuanya tidak memiliki ponsel pintar tersebut? Bagaimana cara mereka mengakses pelajaran-pelajaran yang diberikan bila alat yang diandalkan tidak ada? Lalu bagaimana dengan mereka yang hidup di daerah terpencil atau daerah yang tidak mendapat akses internet?

Dilansir oleh vivanews.com, 18 April 2020, tak semua siswa di Jawa Timur bisa mengikuti kebijakan pemerintah untuk belajar dari rumah akibat pandemi Coronavirus Disease atau Covid-19. Mereka yang mengalami itu kebanyakan berada di desa terpencil. Kendalanya adalah minim fasilitas untuk mengakses internet. Siasat pun dilakukan, di antaranya belajar dengan menggunakan layanan short message service atau SMS.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Wahid Wahyudi, di Gedung Negara Grahadi Surabaya pada Jumat malam, 17 April 2020. Ia mengakui, ada sejumlah siswa sekolah (SMA/SMK/PK-PLK) di Jawa Timur yang tidak bisa mendapatkan akses internet di masa pandemi Covid-19, sehingga tidak bisa melaksanakan kegiatan belajar di rumah seperti tertera dalam SE Gubernur.

Tak berhenti di situ, Avan Fathurrahman, seorang guru SDN Batu Putih Laok, Kecamatan Batu Putih, Kabupaten Sumenep, menjadi perbincangan warganet. Guru ini rela mendatangi rumah muridnya satu persatu, setelah beberapa pekan tidak mengajar di sekolah karena pembelajaran dilakukan secara daring (online). Belajar dengan cara ini dirasa tidak berjalan lancar. Penyebabnya, banyak murid yang tidak memiliki smartphone. (kompas.com, 18/04/2020)

Miris. Satu kata yang dapat mewakili kondisi pendidikan bumi pertiwi hari ini. Akibat tidak meratanya kualitas pendidikan yang disediakan oleh negara, para penerus bangsa dan guru tanpa tanda jasa menelan kepahitan. Daerah-daerah terpencil yang tidak mendapat akses dan fasilitas memadai untuk menunjang proses belajar mengajar terabaikan oleh negara. Anak bangsa yang lahir di garis ekonomi menengah ke wabah terpaksa tidak mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas.

Ditambah lagi kurangnya perhatian negara terhadap para tenaga pendidikan. Banting tulang mereka mencerdaskan generasi bangsa, tetapi negara tidak memberikan upah yang layak diterima. Sudahlah mereka lelah mengajar dari pagi hingga sore hari, sampai di rumah masih ada tanggung jawab yang harus mereka penuhi. Yakni memenuhi kebutuhan keluarga mereka. Lantas, bila upah yang diberikan negara tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan, apa yang harus mereka lakukan? Berdiam diri membiarkan keluarganya kelaparan? 

Apatah lagi dalam kondisi wabah seperti ini. Semakin susahlah urusan pendidikan bagi rakyat kecil, daerah-daerah pelosok, dan para tenaga pendidikan yang mendapatkan upah kecil. Negara menghimbau dilakukannya distance learning, atau belajar jarak jauh, tetapi negara tidak memperhatikan, sudahkah seluruh daerah telah mampu mengakses pembelajaran secara online? Sudahkah seluruh murid memiliki gadget canggih untuk mengakses pelajaran di sekolah? Sudahkah para guru memiliki akses untuk mengajar muridnya secara online?

Sayang, negara sedikit pun tidak memperhatikan hal tersebut. Pendidikan berkualitas nyatanya hanya bisa didapatkan di wilayah-wilayah besar, dimana segala kemudahan dan akses pembelajaran terjangkau dengan sangat mudah dan lancar. Hanya murid-murid yang lahir dari keluarga yang mampu sajalah yang bisa tetap belajar di tengah kondisi wabah seperti sekarang. Dilema sekali bukan berada di negara dengan kualitas pendidikan yang tidak merata seperti di Indonesia? Ditambah lagi dengan kondisi wabah yang mengharuskan segala sesuatunya bergantung pada fasilitas yang diberikan negara. Tetapi bila negara abai, apa yang bisa dilakukan?

Beginilah potret pendidikan tak merata dalam sistem kapitalis. Negara abai terhadap kondisi pendidikan rakyatnya. Negara hanya fokus pada perihal-perihal yang menguntungkan mereka, urusan-urusan yang tak membuat mereka pusing dan kesusahan. Nampak jelas di kondisi wabah seperti sekarang, bahwa hanya orang-orang yang berduitlah yang dapat mengakses pendidikan berkualitas. Sedang mereka yang berada di ekonomi rendah, hanya bisa meneteskan airmata. 

Hal ini tentu berbeda dengan sistem Islam. Islam yang merupakan agama paripurna, dengan seperangkat aturan yang diturunkan langung oleh Sang Khaliq, begitu sempurna mengatur segala aspek kehidupan. Tidak terkecuali pendidikan. Berada dalam kondisi wabah, Islam memberikan solusi karantina wilayah sebagai bentuk penanganan wabah. Sebagaimana yang Rasulullah saw. ungkapkan:

“Apabila kalian mendengar wabah di suatu tempat, maka janganlah kalian memasuki tempat itu. Dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu sedang berada di tempat itu, maka janganlah kamu keluar dari tempat itu.” (HR. Imam Muslim)

Adanya karantina wilayah, tidak serta merta negara belepas tangan terhadap kondisi rakyatnya. Dalam Daulah Islam, negara sangat memperhatikan segala kebutuhan rakyatnya, sekecil apapun. Negara berperan penting dalam segala aspek kehidupan. Mulai dari ekonomi, politik, sosial, kesehatan, hingga pendidikan. 

Dalam sisi pendidikan, negara Islam menjamin kualitas pendidikan rakyatnya di berbagai wilayah. Negara akan memastikan, rakyat mendapatkan pendidikan berkualitas dan layak. Di mana pun mereka berada, lahir dari keluarga mana mereka, Daulah Islam amat memperhatikan pendidikan generasi Islam. Hal ini tersebab Daulah Islam menyadari bahwa negara adalah kunci utama penjamin dan penunjang kebutuhan pendidikan rakyat.

Negara akan sungguh-sungguh mempersiapkan dan memberikan pendidikan bagi rakyat. Negara berperan penting dalam menunjang segala fasilitas dan kebutuhan-kebutuhan rakyat selama berada dalam kondisi karantina wilayah. Negara akan memenuhi seluruh kebutuhan rakyat secara cuma-cuma. Negara juga memastikan fasilitas-fasilitas dan teknologi-teknologi canggih yang dibutuhkan oleh rakyat di tengah wabah, seperti halnya dalam proses pendidikan.

Tentu jaminan pendidikan berkualitas serta pemenuhan kebutuhan rakyat yang sempurna tidak bisa didapatkan dalam sistem kapitalis. Sebab dalam sistem ini, rakyat tidaklah penting dibandingkan urusan materi dan harta. Sistem ini akan mendorong pemeluk-pemeluknya menjadi sosok individualis yang hanya mementingkan urusan materi.

Satu-satunya sistem yang mampu memenuhi seluruh kebutuhan dan menjamin kesejahteraan rakyat hanya sistem Islam yang sempurna. Tegaknya Daulah Islam merupakan satu-satunya solusi tuntas dalam menangani segala problematika umat. Dan hanya dalam sistem inilah, Allah mencurahkan keberkahan tiada tara sebagai bentuk kasih sayangnya lantaran seluruh syariat-Nya diterapkan secara menyeluruh di muka bumi.

Wallahu a’lam bishshawab.
 
Top