Oleh : Sartinah
Pegiat Opini, Member Akademi Menulis Kreatif

'Salus populi suprema lex' (Keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi). Pesan tersebut disampaikan oleh Presiden Joko Widodo melalui Juru Bicara Presiden, Fadjroel Rachman, dalam rangka kesiagaan pemerintah pusat, pemerintah daerah, tokoh-tokoh agama, dan masyarakat serta setiap warga negara Indonesia dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Fadjroel mengatakan, ada tiga program prioritas yang telah digariskan pemerintah. Pertama, menggerakkan semua sumber daya negara untuk mengendalikan, mencegah, dan mengobati masyarakat yang terpapar Covid-19. Kedua menggerakkan sumber daya negara demi  menyelamatkan kehidupan sosial-ekonomi seluruh rakyat. Ketiga, memfokuskan seluruh sumber daya negara agar dunia usaha baik UMKM, koperasi, swasta, dan BUMN bisa terus berputar. (mediaindonesia.com, 22/3/2020)

Mewabahnya Covid-19 jelas mengancam kelangsungan hidup masyarakat, baik secara ekonomi maupun jiwa. Korban terus berjatuhan, baik dari kalangan medis maupun rakyat biasa. Bagai buah simalakama rakyat kecil dibuat tidak berdaya. Bila bekerja di luar rumah berpotensi terpapar Covid-19, sebaliknya bila berdiam diri di rumah berpotensi kelaparan.

Belum lagi keluh kesah petugas kesehatan yang kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Retorika manis penguasa untuk mengutamakan keselamatan rakyat rupanya jauh panggang dari api. Sebab, hingga kini pun masih banyak rumah sakit yang kekurangan Alat Pelindung Diri (APD). Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ketua Satgas Corona Rumah Sakit Airlangga (RSUA) Surabaya, dr Prastuti Asta Wulaningrum yang mengklaim bahwa pihaknya kekurangan APD untuk menangani pasien Covid-19. (liputan6.com, 20/3/2020)

Pun demikian dengan kondisi para dokter yang semakin kelelahan. Mereka yang merupakan garda terdepan dalam penanganan pasien Covid-19 terus berjuang mati-matian nyaris tanpa penolong. Ibarat sedang berperang, senjata dan pasukan mereka tak sebanding dengan banyaknya jumlah musuh. Hal ini pun dikeluhkan oleh dr Fariz Nurwidya yang khawatir tidak bisa menjawab karena kelelahan saat diminta wawancara melalui panggilan telepon oleh CNBC Indonesia pada Selasa, (17/3/2020). 

Meskipun telah ada inisiatif dari sebagian masyarakat yang bahu-membahu menyumbangkan hartanya dalam rangka membantu rumah sakit dan petugas medis, tetapi langkah ini tidaklah cukup. Sebab, hal ini justru menunjukkan ketidakhadiran negara di tengah kesusahan rakyat. Sekali lagi, meski pemerintah mengklaim telah bekerja keras, tetapi banyak pihak yang menganggap bahwa pemerintah terkesan lambat dan setengah hati dalam menangani wabah. 

Buktinya, meskipun satu demi satu rakyat terus tumbang menjadi korban keganasan Covid-19, tetapi negara tak kunjung menetapkan lockdown untuk memutus rantai penyebarannya. Bahkan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan dengan tegas menolak lockdown. Menurutnya, Indonesia tak mengenal istilah lockdown. Adapun yang diberlakukan adalah karantina wilayah. (Cendekiapos.com, 2/4/2020)

Kondisi ini semakin menunjukkan bahwa pemerintah gagap dan tak siap dalam menghadapi wabah. Meski pandemi Covid-19 sudah sejak akhir Januari 2019  menyerang masyarakat Wuhan, tetapi hal itu tidak dijadikan sebagai bahan introspeksi diri untuk membuat persiapan menghadapi wabah. Pemerintah justru terkesan santai dan tidak serius merespon merebaknya Covid-19. 

Negara di bawah payung kapitalisme hanya beretorika tentang prioritas keselamatan rakyat. Namun, setiap kebijakan yang diambilnya ternyata tidak memberi jaminan secara nyata. Ketika berurusan dengan persoalan rakyat, negara masih berpikir untung-rugi. Negara seolah telah bertransformasi menjadi perusahaan yang tetap memprioritaskan keuntungan di tengah rakyatnya yang ditimpa kesusahan.

Bukan hanya itu, saat berbenturan dengan kepentingan rakyat, pemerintah terkesan rugi bila menggelontorkan dana besar guna memenuhi hajat hidup rakyat. Sebaliknya, sangat bersemangat ketika mengeluarkan biaya untuk membangun ibu kota baru. Tak heran jika membangun citra lebih diutamakan ketimbang menyelamatkan nyawa rakyat. Tentu saja hal ini tak lepas dari pandangan 'sesat' kapitalisme yang mengarahkan manusia dalam setiap aktivitasnya hanya untuk mendapatkan materi sebanyak-banyaknya. Karena itu, semanis apa pun retorika penyelamatan rakyat oleh penguasa takkan berbuah manis bila solusi yang diambil dari kacamata kapitalis.

Semua persoalan yang menjerat negeri ini termasuk dalam hal penanganan wabah hanya mungkin diselesaikan jika menjadikan Islam sebagai sumber solusi. Sebab, beda ideologi, berbeda pula cara menyelesaikan masalah. Hal ini pula yang membedakan bagaimana Islam dan kapitalisme ketika mengurus rakyatnya. Dalam pandangan Islam, negara berfungsi sebagai pengurus dan pelayan rakyat. Sehingga jika terjadi bencana, negara akan melindungi rakyat dengan segenap daya dan upaya, serta sumber daya yang ada.

Pun ketika kondisi wabah melanda seperti saat ini. Negara tidak akan berpikir panjang untuk membuat kebijakan lockdown sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. dalam menangani wabah. Sebab, dalam kondisi wabah pun negara tetap bertanggung jawab penuh untuk memenuhi kebutuhan umum rakyat dengan maksimal. Seperti, membangun fasilitas kesehatan yang memadai, menggaji para tenaga medis dengan layak, serta menyediakan sarana dan prasarana yang sangat dibutuhkan rumah sakit. Tentu saja dengan ditopang oleh ekonomi Islam yang mumpuni. 

Islam menjadikan keselamatan rakyat sebagai prioritas utama. Sebab, satu nyawa saja dalam Islam sangatlah berharga. Dalam menghadapi bencana, negara akan memberikan jaminan di daerah wabah dengan mengirimkan kebutuhan logistik dan obat-obatan kepada mereka. 

Lockdown dilakukan agar wabah tidak menyebar ke luar wilayah yang aman dari wabah. Sehingga, mereka yang berada di luar daerah tersebut dapat menjalankan aktivitas sebagaimana biasa. Karena itu, kepayahan rakyat saat bergelut menghadapi wabah sebenarnya akan mudah diselesaikan jika menjadikan Islam sebagai sistem kehidupan yang diterapkan secara kafah dalam kehidupan.

Demikianlah, Islam memberi solusi yang membawa kemaslahatan bagi seluruh rakyat. Islam datang sebagai cahaya,  bukan pemberi kegelapan. Menjadikan Islam sebagai pedoman hidup, sama halnya menjalani kehidupan di habitat manusia yang sesungguhnya.
Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top