Oleh: Tati Risti 


Di tengah keprihatinan isu pandemi Corona yang melanda Indonesia, masyarakat terus berjuang melawan corona. Namun sangat disayangkan, di balik kegelisahan masyarakat ada sebuah event yang menampilkan tarian erotis dan disaksikan oleh ratusan laki-laki. 

Tarian erotis muncul di acara Garut Culture Festival dan divideo oleh seseorang, lantas diunggah di banyak media sosial, sontak video tarian erotis di Garut menjadi viral. Event Garut Culture Festival merupakan rangkaian acara perayaan Hari Jadi Garut (HJG) ke- 207 pada hari Minggu, 15 Maret 2020.

Sejumlah para tokoh di garut menyesalkan akan adanya tarian erotis yang dibawakan oleh sejumlah penari wanita bercelana pendek yang menari-nari di atas panggung. Para kaum adam pun menyaksikan goyangan itu dari bawah panggung dan di atas panggung menyawer para penari. Bahkan anak-anak di bawah umur pun ikut menyaksikannya, sungguh sangat miris.

Ketua MUI Garut, KH Sirodjul Munir yang merupakan penanggung jawab terhadap acara tersebut menyatakan bahwa tarian erotis tidak sesuai dengan kultur Garut, "Itu jelas  haram (tarian erotis) sudah bergeser aqidah dan moralitas warga Garut" kata Munir di kantor MUI Garut. (20/3/2020)

Padahal visi dari Kabupaten Garut adalah bertaqwa, maju, dan sejahtera. Visi tersebut menjadi tanda tanya besar. Bagaimana bisa menciptakan ketakwaan di wilayah Garut, jika hal-hal semacam ini dibiarkan di tengah acara besar salah satunya Garut Culture Feat yang akan dijadikan acara rutin setiap tahunnya. (TRIBUNJABAR)

Ibarat nasi sudah menjadi bubur, banyak yang terlibat di dalamnya hanya bisa menyesalkan. Berbagai reaksi dari panitia, ketua MUI, wakil Bupati, dan dari organisasi Mahasiswa Islam yang ikut geram mengenai acara GCF.

Demikian fakta yang sejatinya buah dari kebebasan berekspresi yang lahir dari sistem demokrasi. Karena kebebasan berprilaku—berbuat mesum—tidak terhindarkan bahkan menjadi bisnis yang tumbuh meraksasa. Prostitusi dianggap sesuatu yang dibenarkan dalam sistem saat ini, bahkan melelang keperawanan pun sah-sah saja.

Sistem demokrasi-kapitalisme yang tegak atas dasar pemisahan agama dari kehidupan (sekuler) memberikan kebebasan kepada manusia dalam berperilaku. Manusia berperilaku tanpa melihat tolok ukur haramnya suatu perbuatan seperti pornoaksi, pornografi, dan kerusakan moral. Manusia boleh melakukan apapun yang diinginkannya dan manusia berhak menentukan corak kehidupan yang disukainya meskipun sangat bertentangan dengan tradisi dan adat istiadat di daerahnya. Hal ini menjadi kewenangan tersendiri yang menentukan, meskipun banyak kalangan yang mengkritik dan mengecamnya.

Berbeda dengan pengaturan Islam. Dalam Islam, ketika seorang perempuan keluar rumah, ia harus menutup aurat dan senantiasa terjaga dari pergaulan yang tidak syar'i. Di samping itu, dia tidak boleh meninggalkan kewajiban utamanya yakni menutup aurat yang merupakan identitas seorang muslim dan menghindari khalwat. (Berdua-dua di tempat sepi tanpa mahram)

Islam juga melarang menjadikan kecantikan sebagai modal perempuan dalam bekerja. Eksploitasi kecantikan dijauhkan sehingga perempuan semata-mata bekerja karena keterampilan dan ketinggian ilmunya. Rafi’ bin Rifa’ah ra. menuturkan,

نَهَانَا رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ كَسْبِ الْأَمَّةِ إِلَّا مَا عَمِلَتْ بِيَدَيْهَا وَقَالَ : هَكَذَا بَأَصَابِعِهِ نَحْوِ الْخُبْزِ وَالْغُزْلِ وَالنَّقْشِ

Rasulullah saw. telah melarang kami dari apa yang diusahakan budak perempuan, kecuali apa yang dihasilkan oleh kedua tangannya. Rafi’ berkata, “Yang dikerjakan tangannya misalnya adalah membuat roti, mencuci, dan memahat.” (HR. Ahmad dan al-Hakim).

Namun demikian, faktanya banyak perempuan yang berkubang dalam kehinaan dan mengeksploitasi diri dalam bekerja maupun dalam berperilaku. Hal ini dikarenakan buah dari penerapan sistem kapitalisme yang tidak mengenal kemuliaaan perempuan, tetapi hanya mengedepankan manfaat dan keuntungan semata.
Wallahu a'lam bishshawwab.
 
Top