Oleh : Tutik Haryanti ( Aktivis Dakwah Islam )

Makin merebaknya wabah virus corona di tengah masyarakat, yang berawal dari negeri tirai bambu. Kini semakin meluas sampai berbagai negara belahan dunia. Tak lepas negeri kita Indonesia, yang bermula diketahui yang terjangkit baru 2 orang saja, kini sudah mencapai ribuan orang. Dan setiap harinya korban terus bertambah.
Dengan kondisi pandemi seperti ini pemerintah mengambil kebijakan dengan melakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), peraturan yang diterbitkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam rangka Percepatan Penanganan COVID-19 agar bisa segera dilaksanakan di berbagai daerah. Aturan PSBB tercatat dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 Tahun 2020.
Pembatasan tersebut meliputi peliburan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan, pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum, pembatasan kegiatan sosial budaya, pembatasan moda transportasi, dan pembatasan kegiatan lainnya.
Situasi ini sangat berdampak terutama rakyat kecil, mengingat masyarakat Indonesia lebih banyak berasal dari kalangan ekonomi yang sulit. Rakyat buruh lepas dan para pedagang pun merasa serba salah, mereka tetap saja keluar rumah berjuang meski harus berhadapan dengan wabah covid 19, berharap mendapatkan penghasilan demi mencukupi kebutuhan sehari-hari. Itupun terkadang pulang tak membawa hasil apapun.
Sungguh miris, ditambah dengan pemberlakuan PSBB yang diperpanjang membuat rakyat semakin resah. Rakyat berharap bantuan dari pemerintah segera datang namun hingga kini belum juga tersalurkan. Dan situasi semakin bertambah mencekam dengan dibebaskannya para napi, yang sekarang kembali berkeliaran melakukan aksi kriminalitas di tengah masyarakat. Sehingga jaminan keamanan sudah tidak didapatkan lagi.
Lengkap sudahlah penderitaan rakyat di era kapitalisme. Terbukti carut marutnya Pemerintah dalam mengatasi wabah covid 19. Notabene Indonesia yang kaya sumber daya alamnya tidak mampu mengelola untuk kesejahteraan rakyat. Namun semua itu hanya dimanfaatkan oleh para penguasa dan para elite politik demi kepentingan mereka. Malah saat ini semakin bertambahlah hutang negara untuk penanganan covid 19, yang akan menjadi beban rakyatnya. Lagi-lagi rakyat yang menjadi korban ! Dimanakah hati nuranimu wahai kau penguasa negeri !
Sungguh berbeda di era Islam yang menjadi pedoman dalam memimpin suatu negeri. Khalifah sebagai pucuk pimpinan akan menjadi perisai dan pelindung bagi rakyatnya. Kesejahteraan dan keamanan umat sangatlah diutamakan. Rasulullah bersabda :
الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya” (HR al-Bukhari).
Dalam hadis tersebut jelas bahwa para Khalifah, sebagai para pemimpin yang diserahi wewenang untuk mengurus kemaslahatan rakyat, akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT kelak pada hari kiamat, apakah mereka telah mengurusnya dengan baik atau tidak. Wallahu 'alam bishowab
 
Top