Oleh : Imayanti Wijaya
Ibu rumah tangga

Maria, seorang ibu dari siswa SD di Depok mengungkap kesulitan dirinya membimbing anaknya belajar karena merasa tidak mengerti mata pelajaran yang sedang dipelajari. Ia mengaku kewalahan saat anaknya diberikan tugas untuk membaca dan mengerjakan tugas.

Itulah salah satu fakta yang dirasakan oleh para ibu saat ini, menyusul kebijakan dirumahkannya aktivitas belajar di sekolah. Semakin merebaknya wabah Covid-19 beberapa pekan terakhir ini memaksa semua pihak untuk rela menghentikan aktivitas rutinnya. Seruan untuk di rumah saja, mau tidak mau harus dipatuhi untuk memutus rantai penyebaran virus. Hal ini tentu berimbas pada seluruh aspek, dari mulai perekonomian hingga interaksi sosial. Bahkan bidang pendidikan pun merasakan dampak penyebaran wabah ini.

Ya, kebijakan social distancing yang ditetapkan pemerintah, menyebabkan para siswa harus menjalani home learning. Orangtua pun mulai kelabakan dengan aktivitas baru yang semakin menambah kesibukan keseharian. Karena orangtua otomatis harus mengawasi dan membimbing anak-anaknya untuk belajar dan mengerjakan PR sekolahnya. Tentu hal ini tidak mudah dilakukan, karena tidak sedikit orangtua yang merasa kesulitan dalam membantu anak-anaknya belajar. Tidak  sedikit yang mengeluh karena merasa terbebani dengan tugas baru tersebut. Hal ini wajar terjadi karena perkembangan dunia pendidikan yang semakin melesat dengan kecanggihan teknologi yang kian maju. Sementara tidak sedikit para orangtua yang gagap teknologi, sementara mata pelajaran pun kian rumit hingga menyulitkan para orangtua dalam memahaminya.  Disisi lain kerepotan yang dirasakan  adalah karena orangtua saat ini terbiasa menyerahkan masalah pendidikan putra putri mereka kepada sekolah. Terima beres tanpa mau ikut pusing dengan segala kerumitannya.

Tidak hanya orangtua, para siswa pun bukan tanpa keluhan dengan kebijakan home learning ini. Mereka merasa stress, bosan, dan tertekan karena tugas yang diberikan guru terus menumpuk tanpa mendapatkan penjelasan. Siswa dituntut belajar sendiri dan mampu menyelesaikan seluruh tugas yang diberikan. Siswa pun merasa selalu dikejar deadline dan merasa tidak nyaman dan tertekan.

Namun nyatanya tidak hanya orangtua dan siswa saja yang tidak merasa nyaman dengan situasi seperti ini. Para guru pun merasa stress dengan situasi ini, karena faktanya tidak semua guru memiliki kompetensi memadai dalam sistem kerja dalam jaringan (daring). Karena selama ini kesempatan untuk meningkatkan kemampuan ke arah sana tidak difasilitasi negara. Mirisnya, para guru menjadi pihak yang banyak dikritik dan disalahkan. Keluhan dan kritikan dari orangtua sering dilontarkan pada para guru. Padahal mereka hanyalah korban dari sistem yang tidak jelas yang telah ditetapkan.

Jadi saat ini semua pihak tengah merasakan ketidakjelasan arah tujuan pendidikan di negeri ini. Entah mau dibawa kemana?  Karena asas yang sekularistik, kurikulum, sistem administrasi dan standar keberhasilan pendidikan yang berubah-ubah, telah membuat arah pendidikan semakin kacau. Bagi para guru kerumitan pun seolah bertambah dengan adanya program sertifikasi, standarisasi kompetensi dan ketuntasan pelajaran hingga sistem ujian nasional.

Inilah potret buram dunia pendidikan di negeri ini, pelaksanaannya yang karut marut semakin menghambat pencapaian target keberhasilan pendidikan yang notabene merupakan pilar pengokoh negara dan umat. Karena hanya melalui pendidikanlah generasi penerus negeri akan dipersiapkan.

Adanya sekularisme yang menjauhkan peran agama dalam kehidupan, semakin jauh pula arah dan tujuan dalam menghasilkan kepribadian mulia yang didamba. Lemahnya instrumen pendidikan semakin mempertegas tipisnya kemungkinan lahirnya generasi cerdas, beriman dan bertakwa, karena kapitalis hanya akan menuntunnya menjadi generasi materialistis dan individualis

Lemahnya fungsi keluarga dan masyarakat juga berperan besar dalam menciptakan generasi penerus berkualitas. Kapitalis telah mengarahkan orangtua untuk menyerahkan sepenuhnya masalah pendidikan anaknya kepada pihak sekolah, dan memaklumi keawaman yang mereka miliki terhadap pendidikan anaknya. Sehingga ketika terjadi wabah seperti saat ini, anak dipaksa mengikuti pelajaran sekolah tanpa mendapat arahan dari siapapun. Mereka lupa bahwa madrasah pertama bagi anak adalah di rumah.

Inilah fakta dunia pendidikan berlatar belakang sekularisme, penuh dengan kesemrawutan. Padahal Islam memiliki konsep pendidikan yang layak diterapkan. Islam tidak hanya mengarahkan dunia pendidikan supaya menghasilkan output yang mumpuni dalam sains dan teknologi, tapi juga menjadi pribadi beriman yang paham betul apa tujuan penciptaan dirinya sebagai hamba. Adanya keimanan yang kuat akan mendorong seluruh elemen masyarakat menyadari tanggung jawab yang akan ditanya oleh Sang Pemilik Kehidupan kelak di hari penghisaban.

Negara menjadi pihak yang bertanggung jawab penuh terhadap urusan rakyatnya, dengan memberi perhatian yang cukup pada semua unsur pendidikan mulai dari keluarga, sekolah, dan masyarakat agar mampu menjalankannya fungsinya masing-masing.

Sistem Islam akan mampu melahirkan generasi berkepribadian khas dan kuat yang akan mampu menjelang peradaban gemilang di masa hadapan. Semua itu tidak mungkin terwujud jika Islam masih diabaikan dalam keseharian. Saatnya kembali pada Islam dengan menegakkannya di seluruh aspek kehidupan. Agar seluruh permasalahan yang dihadapi masyarakat mampu tersolusikan. Wallahu a'lam bishawwab
 
Top