Oleh : Ummu Rasyid
Ibu Rumah Tangga

Covid-19 atau virus Corona masih menyebar dan menginfeksi lebih dari 1 juta orang di seluruh dunia, kemunculan virus Corona mulai terdeteksi pertama kali di negara Cina pada awal Desember 2019. Kala itu, sejumlah pasien berdatangan ke rumah sakit di Wuhan dengan gejala penyakit tak dikenal. Kemudian Dr. Li Winliang menyebarkan berita mengenai virus misterius tersebut di media sosial. Diketahui, sejumlah pasien pertama memiliki akses ke pasar ikan Huanan yang juga menjual binatang liar.

Dilansir dari laman ayobandung.com (10/4/2020), anggota DPRD, Erwin Gunawan mengatakan bahwa  masyarakat di beberapa daerah diminta agar mengikuti imbauan dari pemerintah mengenai penerapan social distancing dan physical distancing. Menurutnya,  kedua langkah tersebut dinilai bisa memutus mata rantai penyebaran dan penularan Covid-19, sangat penting masyarakat disiplin dalam menerapkan dua langkah tersebut, sebab dengan begitu bisa menekan angka korban positif Covid-19 hingga menyebabkan kematian dan masyarakat tidak nekat melakukan kegiatan yang melibatkan banyak orang seperti berkerumun, biasakan cuci tangan, menjaga stamina, menjaga kebersihan lingkungan bekerja dan beribadah di rumah.

Dunia pun semakin tersadar akan bahaya wabah ini, virus yang menyerang berbagai negara termasuk Italia. Beberapa pejabat dunia tak luput terpapar, publik mulai tersentak saat Saudi larang jamaah umrah dari Indonesia masuk ke negerinya. Artinya negara itu tidak percaya dengan klaim pejabat Indonesia, tentu bukan tanpa alasan jika Dirjen WHO Thedros Adhenom meminta Presiden Jokowi lakukan sejumlah langkah termasuk mengumumkan darurat nasional Covid-19.

Begitulah sekelumit kisah tentang upaya memutus pandemik Corona. Dari penanganan pribadi, kelompok serta negara sibuk mencari cara agar wabah segera berlalu namun semuanya berakhir parsial di dalam suasana kapitalistik. Wabah merajalela tapi tak menggubris asa negara serta penguasa, malah gagap dan lamban cara kerja.
Penguasa di negara demokrasi kapitalis memang seperti itu wataknya, tidak akan pernah serius bahkan tidak tulus menyayangi rakyatnya. Pemerintah dinilai kurang perhatian dan tidak sigap menghadapi wabah ini.

Sebelumnya, sebagaimana diketahui publik, pemerintah telah membebaskan turis asing (terutama Cina) masuk ke beberapa wilayah Indonesia. Bahkan diduga tenaga asing dari Cina, masuk leluasa di Kendari. Kondisi tersebut membuat banyak rakyat kecewa. Kepercayaan masyarakat pun semakin pudar, ditambah lagi  banyaknya pernyataan yang simpang siur dari pejabat negara di samping ada informasi yang sengaja  disembunyikan.
Wallahu a'lam.

Rezim kapitalistik seolah bertaruh dengan nyawa rakyat, semakin lambat kebijakan diambil, apa lagi keliru dipastikan semakin membahayakan jiwa rakyat. Belum lagi pelayanan kesehatan yang karut marut semua ini menunjukkan pemerintah tidak serius menangani kepentingan rakyat.
Penguasa yang  tidak memperdulikan jiwa rakyatnya, mengabaikan kehidupan serta kesejahteraan mereka akan dimintai pertanggungjawabannya kelak. Satu nyawa manusia lebih berharga ketimbang dunia dan seisinya. Rasulullah saw. bersabda:

"Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibanding terbunuhnya seseorang mukmin tanpa hak." (HR an- Nasai, at-Turmudzi)

Wabah Corona saat  ini sudah seharusnya memberikan banyak pelajaran bagi umat manusia.  Sebab, musibah dan  bencana tidak bisa dilepaskan dari kemaksiatan manusia. Bencana juga bisa merupakan ujian dari Allah swt. untuk melihat seberapa besar ketakwaan manusia terhadap Sang Pencipta.

Untuk itu kita harus bersabar, seandainya bencana ini menimpa manusia.
Rasulullah saw. juga memperingati umatnya, jauh berabad silam yang lalu  untuk melakukan isolasi  (lockdown) saat terjadi wabah di suatu tempat. Siapapun dari luar tidak boleh masuk, yang ada di daerah yang terkena wabah dilarang keluar. Semua upaya dan ikhtiar itu dilakukan tanpa mengurangi sedikitpun keyakinan tentang qadha dan qadar Allah Swt. Juga keyakinan tidak ada satupun yang menimpa dibumi ini kecuali dengan seijin-Nya, sebagaimana dalam firman Allah:

"Tidak ada suatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan ijin Allah." (TQS. al-Taghabun 64: 11)

Demikian jelas Allah mengungkapkan dalam firman Nya tersebut  bahwa musibah datang karena sesuai kehendak-Nya. Namun, sesempurna apapun rekomendasi sistem dan aturan kufur dalam mengatasi musibah tetap tidak sebanding dengan kesempurnaan Islam dan syariahnya. Pun saat aturan itu diterapkan dalam kondisi pandemi. Sebab ideologi yang lahir dari aturan selain Islam  telah menafikan peran Allah swt, sebagai pencipta, pengatur, dan pemberi peringatan.
Dalam pandangan Islam,  virus yang menyerang dunia secara global adalah ketetapan Allah yang tidak bisa ditolak meski tak bisa diingkari ada kezaliman  manusia pada awal mulanya virus itu muncul.

Hanya orang beriman lah yang mampu memahami bahwa skenario Allah harus disikapi dengan sabar dan tawakal. Setiap penyakit pasti ada obatnya, setiap ujian pasti ada jalan keluarnya dan setiap musibah pasti ada kebaikan di dalamnya. Ini kesempatan manusia mengingat Allah dan bertaubat atas kelalaian dan keengganannya untuk taat kepada hukum Allah swt. Baik sebagai individu, masyarakat dan juga negara.

Dengan demikian upaya menyelamatkan Indonesia dan dunia  hanya bisa diterapkan dengan penerapan Islam dengan landasan aqidah Islamiyah yang kuat. Semua itu akan lebih sempurna manakala institusi Islam telah terwujud di tengah umat.
Institusi penerap syariat Islam akan berupaya maksimal menanggulangi krisis bencana dan dampak susulannya. Itulah al khilafah rasyidah ala minhajj an nubuwwah.
Wallahu a'lam bi ash Shawwab
 
Top