Oleh : Adisa NF
Member AMK

Hidup ini sepi sepi sepi saat engkau  pergi....

Rasanya dunia benar-benar akan sepi tanpa peran manusia di dunia ini. Allah Swt. telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik ciptaan. Diri manusia dihiasi dengan berbagai karakteristik yang menjadi potensi kehidupannya. Di antara potensi kehidupan tersebut adalah dihiasinya manusia dengan berbagai kebutuhan dalam rangka mempertahankan hidup yaitu berupa hajah al 'udhawiyah (kebutuhan untuk hidup). Dengan kebutuhan inilah manusia perlu makan, minum, istirahat, bernafas, buang hajat dan lain sebagainya.

Manusia dihiasi pula dengan ghara'iz (naluri-naluri) berupa gharizah attadayun/naluri untuk beragama, gharizah baqa'/naluri untuk mempertahankan diri dan gharizah an-naw'/naluri untuk mempertahankan jenis. Dengan karunia berupa gharizah an-naw' inilah Allah Swt. menyandarkan kelangsungan jenis manusia di muka bumi.

Salah satu bentuk dari dorongan gharizah an-naw' ini adalah rasa kasih, sayang dan cinta pada keluarga, serta usaha dalam membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah (samara) dalam bingkai pernikahan yang barakah.

Adapun persiapan menyambut pernikahan, ketika sudah ada keputusan dan menentukan hari pelaksanaan akad nikah, pastikan dulu bahwa kedua calon mempelai sudah memahami ikatan pernikahan di sisi Allah merupakan ikatan yang serius. Allah menyifati ikatan pernikahan itu sebagai perjanjian yang kuat (mitsaqan ghalizhan). Allah berfirman,

"Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat." (QS. an-Nisa' [4]:21)

Hal ini menunjukkan betapa seriusnya ikatan itu dih/ hadapan Allah.

Ada tiga hal sedikitnya yang penting terkait persiapan yang harus dimiliki dan diwujudkan untuk menyambut pernikahan. Pertama, persiapan yang bersifat fisik, yaitu persiapan jasadi dan materi. Persiapan jasadi (kedua calon pengantin) mempersiapkan jasad/tubuh untuk memikul tugas dan peran baru setelah pernikahan. Wanita siap untuk menjadi istri dan ibu bagi anak-anaknya nanti. Ketika harus menyiapkan dirinya untuk mengandung, melahirkan dan menyusui serta merawatnya memerlukan fisik yang sehat dan baik. Perlu persiapan seluruh tubuhnya untuk hal ini. Demikian pula pria, dia harus menyiapkan diri menjadi seorang suami beserta bapak. Yang keduanya harus menyiapkan tubuhnya agar tetap sehat.

Adapun persiapan materi adalah persiapan bekal harta untuk menjalani kehidupan rumah tangga. Sesuai kemampuan pria tentunya.

Kedua, persiapan yang bersifat psikologis. Setelah menikah seseorang akan menjalani kehidupan yang berbeda dengan kehidupannya ketika masih lajang. Kehidupan ini akan menjadi kompleks karena melibatkan banyak orang. Kehidupan yang menuntut kesiapan mental, kematangan berfikir, kelapangan dada, keahlian menata emosi dan sebagainya. Itu semua harus dipersiapkan.

Ketiga, persiapan keilmuan. Keduanya (calon mempelai) harus memahami pengetahuan tentang panduan Islam dalam berumah tangga.  Memahami hukum syariat sangat penting, karena sangat erat hubungannya dengan tugas dan tanggungjawab dan kewajiban masing-masing. Termasuk pengetahuan tentang persoalan-persoalan yang biasanya muncul di awal pernikahan bagaimana mengelola dan menyelesaikannya. Bisa diperoleh dengan bertanya dan berkomunikasi dengan yang sudah berumah tangga. Bagaimana peran sebagai pengatur rumah tangga yang harus menjaga kesehatan keluarga (tempat tinggal yang nyaman, makanan bergizi, dan lainnya). Semua itu dalam rangka mencari hikmah dan pelajaran agar rumah tangganya kelak bisa berjalan harmonis.

Persiapan-persiapan itu semuanya merupakan persiapan yang berkaitan dengan kehidupan rumah tangga. Dan harus dipersiapkan sebelumnya dengan baik dan matang.

Contohnya apa yang terjadi dalam situasi saat ini, tidak sedikit calon pengantin yang sudah melakukan hitbah dan berkeinginan mewujudkan semua itu masih bisa dilakukan dengan menempuh cara dan kewaspadaan agar terhindar dari pandemi global (Covid-19) yang tengah "merajalela". Tanpa menunda niat yang mulia yaitu berkeinginan mewujudkan sebuah keluarga samara yang sudah diawali dengan proses jalan menuju pernikahan yang barakah dengan ikhtiar yang maksimal agar semua bisa saling memahami bahwa penjagaan yang baik di saat situasi kurang baik.

Meskipun kondisi dunia secara umum sedang diserang wabah Covid-19 (C-19) sebagai pandemi global. Yaitu sebuah epidemi (kasus penyakit secara tiba-tiba) yang telah menyebar ke beberapa negara bahkan benua, dan umumnya menjangkiti banyak orang namun tetap lakukan ikhtiar maksimal.

Karena mau tak mau negeri ini yang kita cintai pun mengalami hal serupa. Wabah menyerang siapa saja yang dekat dan mendekat padanya. Meskipun demikian, adanya wabah tidak bisa diambil pemahaman sederhana, tapi mesti memahami apa dan bagaimana cara mengatasi dan menghindari agar terlepas dari serangan wabah tersebut. Sehingga, ketika ada maklumat yang dikeluarkan di masing-masing daerahnya untuk dijalankan himbauannya. Misalnya, masyarakat harus menjaga jarak saat melakukan transaksi, tidak berkumpul lebih dari sepuluh orang dalam satu tempat.

Berkaitan dengan pelaksanaan pernikahan pun jika sudah tidak sanggup menundanya, maka cukuplah diadakan akad nikah terlebih dahulu dan hendaknya -terpaksa- menunda resepsinya.  Karena dalam situasi seperti ini yang lebih utama dan harus segera dilakukan adalah akad nikahnya. Hal ini agar kedua calon mempelai selamat dari berbagai fitnah dan segera dihalalkan hubungannya. Hendaknya pula tetap mengikuti ketetapan yang sudah dibuat sebagai maklumat yang berlaku. Syarat-syarat yang ada dalam maklumat tersebut wajib dipatuhi demi terhindarnya dari ancaman Covid-19 yang ganas. Aturannya, yang boleh hadir dalam akad nikah tersebut hanya kurang dari sepuluh orang yakni, kedua calon pengantin, wali, kedua orang tua dari calon pengantin, dua orang saksi, penghulu yang menikahkan, ustaz yang memberikan khutbah nikah dan pengarah acara. Tidak boleh ada hal-hal yang mengarah pada berkumpulnya orang. Semuanya tetap menjaga jarak kecuali mempelai pria, wali dan penghulu yang duduk agak berdekatan dengan tetap menggunakan  masker dan sarung tangan serta pelindung agar mampu menghindari dan memutus mata rantai virus tersebut.

Meskipun dengan berbagai keterbatasan, diharapkan acara tetap berlangsung hingga selesai akad nikah secara sempurna. Kedua calon mempelai pun sah sudah menjadi suami isteri.

Inilah anugerah yang luar biasa dari Zat Yang Maha Menciptakan manusia. Dalam situasi apapun manusia punya potensi untuk selalu berikhtiar dalam melangsungkan tujuannya agar tercapai, tanpa membahayakan diri dan orang lain. Tanpa harus melanggar aturan Allah Swt. dan aturan yang dibuat manusia secara teknis (selama aturan manusia itu tidak bertentangan dengan aturan Allah). Wallahu a'lam bishawab.
 
Top