Oleh : Siti Aisah, S.Pd
Praktisi Pendidikan dan Member Akademi Menulis Kreatif

Seluruh dunia panik akibat wabah virus corona. Hal ini sudah cukup membuktikan dan menegaskan bahwasanya manusia adalah makhluk yang lemah di hadapan Allah Swt. Data yang diperoleh saat tulisan ini dibuat, dari laman situs resmi covid-19 (16/04/2020, 09.30), Update Virus Corona di Indonesia sudah mencapai 5.136 dan di Jawa Barat terkonfirmasi 559. Data yang diperoleh sembuh 23 di Jawa Barat dan di seluruh Indonesia 446. Sedangkan untuk data yang meninggal di Indonesia tercatat sebanyak 469 orang dan di Jabar sendiri lebih besar yaitu 52 orang meninggal. 

Sejak awal, masyarakat ragu terhadap keseriusan pemerintah menangani corona yang lebih dikenal dengan covid-19. Hal ini membuat WHO pun mengirim surat kepada presiden +62 ini. Hingga akhirnya pemerintah memutuskan bahwa wabah covid-19 ini sebagai Bencana Nasional. Namun, keraguan masyarakat tidak hilang karena masih banyak hal yang terkesan ditutupi oleh pemerintah. Apalagi, lambatnya penetapan status dan menyerahkan langsung kebijakan yang diambil pada masing-masing daerah (bisa berbeda penanganan antar pemerintah daerah) terbukti membuat warga terjangkit covid 19 meningkat berlipat-ganda.

Maka, ada beberapa poin utama yang harus dilakukan pemerintah guna menanggulangi dan mitigasi corona ini, yaitu: Pertama, tes spesimen untuk menguji resiko corona tidak lagi dilakukan terpusat alias bebas tergantung kebijakan daerah masing-masing. Kedua, informasi rekam jejak pasien positif covid-19 yakni di mana dan kapan, bukan identitas sang pasien. Transparansi informasi itulah yang sudah dilakukan di negara lain seperti Singapura dan Korea Selatan, karena penyebaran virus itu dipengaruhi oleh mobilitas orang yang terinfeksi. Sayangnya, kondisi ini tidak bisa dilakukan pemerintah yang seolah berusaha untuk 'menyembunyikan' informasi ini. 

Alasannya ialah guna menghindari kepanikan di tengah masyarakat. Permintaan ketiga adalah pemerintah perlu memastikan jaminan mutu manajemen, respon darurat yang cepat, dan mudah bagi masyarakat Indonesia yang lebih populer dengan istilah warga +62, serta kapasitas ruang isolasi medis di seluruh wilayah. Terakhir, Jokowi harus memastikan jajaran di bawahnya tidak lagi menyampaikan pernyataan publik yang sembrono, dan tidak produktif. Jokowi, selaku kepala negara yang telah bersumpah melindungi seluruh Warga Negara Indonesia (WNI) tanpa kecuali, tidak boleh lagi membiarkan tanggap gagap corona setelah kesalahan premis yang demikian telanjang di mata publik. (cnnindonesia.com, 15/03/2020)

Dikisahkan dari Ummul Mukminin Zainab binti Jahsy ra bertanya kepada Nabi saw., “Wahai Rasulullah, mungkinkah kami binasa padahal di tengah-tengah kami masih ada orang-orang yang saleh?" Rasulullah pun menjawab, “Ya, apabila kemaksiatan sudah merajalela." (HR. Bukhari dan Muslim)

Sudah terjawab bagaimana posisi kita seharusnya. Berbondong-bondong orang masuk Islam, karena sudah tercerahkan. Bahwasanya ketika kemaksiatan terjadi, maka itu artinya mengundang azab Allah untuk singgah di tempatnya. 

Artinya untuk saleh saja tidak cukup membuat Allah menunda azabnya. Karena kesalehan individu tidak berefek kepada khalayak dan tak sanggup mencegah datangnya musibah. Yang seharusnya terjadi adalah kesalehan ini tidak hanya membatasi dari ibadah mahdhah saja, namun penyelamatan umat dari tindakan kriminalitas melalui dakwah Islam secara kafah. Artinya menyampaikan Islam dari bab thaharah hingga bab pemerintahan yang ada dibuku para ulama fikih. Pertaubatan ini seharusnya berlanjut kepada penerapan syariah Islam secara total. 

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top