Oleh : Imayanti Wijaya
Ibu Rumah tangga

Dunia dibuat panik dan guncang beberapa pekan terakhir ini, karena merebaknya virus Corona yang berkembang pesat dan telah memakan korban yang tidak sedikit. Sejak pertama kali diumumkan 31 Desember 2019 silam, kasus kematian akibat virus ini telah mencapai angka lebih dari 425 orang. Penyebarannya pun telah meluas ke berbagai negara seperti Amerika serikat, Australia, Filipina,Finlandia, India, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kamboja, Kanada, Korea Selatan, Malaysia, Nepal, Perancis, Rusia, Singapura, Spanyol, Srilanka, Swedia, Thailand, Vietnam dan lain sebagainya termasuk Indonesia. (Cnbcindonesia.com)

Kondisi ini tentu saja sangat mengkhawatirkan masyarakat, di dorong rasa khawatir tersebut. Untuk memutus rantai penyebarannya beberapa pihak mengusulkan, bahkan sebagian lain menekan Pemerintah Jokowi untuk segera melakukan Lockdown.

Lockdown serupa dengan isolasi, lockdown merupakan istilah bahasa Inggris untuk kata terkunci, jika dikaitkan dengan COVID 19. Lockdown berarti mengunci seluruh akses keluar masuk manusia dalam suatu wilayah tertentu, bisa sebuah kota, provinsi bahkan seluruh negara. Tujuannya adalah untuk mengurangi penyebaran virus berukuran 0,06 mikron dan memiliki bentuk seperti crown ini.

Jika sebuah wilayah di Lockdown maka seluruh kegiatan publik akan dihentikan, warga masyarakat tak boleh keluar dari bangunan. Segala mobilitas manusia praktis dihentikan kecuali untuk urusan pemenuhan kebutuhan pokok dan masalah kesehatan.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, pernah mewacanakan untuk melakukan lockdown di wilayah Jakarta. Walaupun kemudian hal ini dimentahkan oleh Presiden Jokowi, seperti yang ia ungkapkan dalam Konferensi pers yang dilaksanakan di Istana Bogor Senin (16/03/20) kemarin. Ia menyatakan bahwa pemerintahnya tak pernah terpikirkan untuk melakukan Lockdown di Indonesia baik di daerah tertentu secara lokal apalagi secara nasional. (Cnbcindonesia.com)

Menyikapi semakin meluasnya wabah, khususnya wilayah Jawa barat statusnya telah dinyatakan siaga 1 oleh Gubernur  Ridwan Kamil. Status ini kemudian ditindaklanjuti oleh Pemkab Bandung dengan menyiapkan ruangan khusus untuk penanganan pasien corona di tiga RSUD di Kabupaten Bandung.

Bupati Bandung, Dadang M Naser menyatakan bahwa ruangan tersebut dipersiapkan hanya untuk penampungan sementara terhadap pasien suspect C, untuk selanjutnya dirujuk ke RS Al Ihsan Baleendah dan RS Hasan Sadikin Bandung. Karena kedua rumah sakit tersebut dianggap memiliki peralatan yang lebih lengkap.

Lebih lanjut  Dadang mengimbau masyarakat agar tidak panik dan berlebihan  menyikapi tersebar luasnya virus ini, namun tetap harus meningkatkan kewaspadaan dan melakukan pencegahan  penularan penyakit tersebut.

Imbas dari wabah Corona yang melanda negeri ini menyebabkan proyek pembangunan Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) terpaksa harus dihentikan sementara. Dengan cara mencegah operator warga negara china untuk masuk ke Indonesia, sebagai antisipasi dan bentuk kewaspadaan akan mewabahnya virus Corona.

Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi juga turut bereaksi dengan melakukan pemantauan terhadap tenaga kerja asing. Pemantauan ini dilakukan guna mencegah penyebaran Covid-19. Disnaker kabupaten Bandung juga menyebarkan surat edaran ke Kemenaker dan Pemprov Jabar tentang pola hidup bersih dan sehat di lingkungan industri sebagai wujud kewaspadaan penyebaran virus di industri.

Penyebaran wabah yang pesat di negeri ini tidak bisa dilepaskan dari peran serta penguasa yang dinilai lamban bertindak. Bayangkan saja, sejak kemunculannya hingga akhir Januari 2020, pemerintah baru sekedar memiliki opsi untuk mengevakuasi WNI di provinsi Hubei yang berjumlah 243 orang, itupun belum mencakup logistik  karena baru akan dicarikan solusi 4 hari setelahnya. Anehnya pula, Menkes RI hanya mengimbau WNI yang berada di Wuhan agar tidak stress dan menyebut virus Corona bersifat swasirna, artinya pasien bisa sembuh sendiri ketika kondisi tubuhnya cukup baik. Padahal beberapa negara terus melakukan usaha evakuasi warganya dari Wuhan dengan mengirim pesawat-pesawat sewaan.

Sikap abai penguasa saat ini nampak dari lambannya pemerintah dalam melakukan tindakan lockdown. Dengan dalih agar tidak terganggu investasi negeri, hingga mengabaikan keselamatan rakyat yang dipimpinnya. Warga negara asing masih dibiarkan berdatangan, padahal mereka berpeluang terkontaminasi virus Corona. Inilah potret buruk demokrasi, yang meniscayakan penghalalan segala cara demi meraup keuntungan. Sekalipun rakyat dan kesejahteraannya adalah tanggung jawab penguasa, namun nyatanya itu semua harus dikorbankan demi meraup keuntungan materi dunia yang tidak seberapa.

Padahal sejatinya seorang penguasa berperan besar untuk melindungi dan menjaga keselamatan rakyatnya. Khususnya ketika terjadi wabah menular. Penguasa tidak boleh bersikap abai karena semua itu adalah tanggungjawabnya. Sebagaimana pernah dicontohkan oleh Rasulullah dan para Khalifah yang mencontohkan sikap bertanggungjawab mereka ditengah segala masalah yang menimpa rakyatnya. Karena mereka begitu memahami beratnya beban menjadi seorang penguasa dihadapan Rabbnya. Rasulullah Saw pernah bersabda:

"Siapa yang diserahi oleh Allah untuk mengatur urusan kaum Muslim. Lalu dia tidak mempedulikan kebutuhan dan kepentingan mereka, maka Allah tidak akan mempedulikan kebutuhan dan kepentingannya (padahari kiamat)." (HR Abu Dawud dan at Tirmidzi)

Adapun wabah penyakit menular yang pernah terjadi pada masa Rasulullah adalah wabah kusta yang menular dan mematikan dan belum diketahui obatnya. Yang Rasulullah lakukan pada saat itu adalah menerapkan karantina atau isolasi terhadap penderita. Rasulullah melarang untuk tidak  mendekati penderita. Beliau bersabda:

" Janganlah kalian terus-menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta." (HR al Bukhari)

Metode karantina ini dimaksudkan untuk mencegah agar wabah tidak meluas penyebarannya. Rasul juga memerintahkan umatnya untuk tidak mendekati wilayah yang terkena wabah, dan sebaliknya bagi yang berada di wilayah wabah tidak diperkenankan untuk keluar. Beliau bersabda:

" Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya  jika wabah itu terjadi di tempat tinggal kalian, janganlah kalian meninggalkan tempat itu." (HR al-Bukhari)

Khalifah Umar juga pernah hendak berangkat menuju Syam, namun di perjalanan Ia mendengar kabar adanya wabah di wilayah tersebut, Abdurahman bin Auf mengingatkan Khalifah tentang hadits Rasul terkait wabah, dan ia pun akhirnya mengurungkan niatnya.

Demikianlah sempurnanya sistem Islam, aturan yang ditetapkannya mampu menjadi solusi atas seluruh permasalahan manusia. Saatnya meninggalkan aturan rusak yang telah banyak memberi kerusakan dan kesengsaraan, untuk kemudian berpaling pada hukum Allah yang telah begitu lengkap memberi jalan keluar bagi seluruh urusan manusia.

Wallahu a'lam bishawwab
 
Top