Oleh : Rina Tresna Sari, S.Pd.I
Praktisi Pendidikan Dan Member Akademi Menulis Kreatif

Dilansir oleh BBC News.com pada tanggal 5/03/2020 bahwa Hari Perempuan Internasional 8 Maret kali ini, dihebohkan dengan maraknya pro dan kontra terhadap unggahan foto aktris Tara Basro yang menampilkan dirinya tanpa busana.

Tara Basro melakukan hal itu menurutnya, dalam rangka mengampanyekan ' body positivity'  sebagai respon terhadap banyaknya body shaming kepada perempuan. Akibat pembakuan ukuran kecatikan sebagaimana yang selama ini dihadirkan oleh media .Tak ayal, apa yang dilakukan Tara Basro ini seolah menjadi pesan kebebasan berekspresi bagi perempuan. Dimana kaum hawa harus bangga dengan bentuk asli tubuhnya tanpa harus rendah diri, di samping harus percaya diri memperlihatkan aksi dan penampilan ‘berani’.

Sekilas kampanye ini tampak bermaksud positif, karena body shaming sendiri pada dasarnya berkonotasi negatif. Yakni sebuah perilaku mengolok-olok bentuk tubuh orang lain, baik dengan tujuan bercanda atau benar-benar menghina. Kebanyakan perempuan menjadi korbannya tapi tak jarang juga terjadi pada kaum pria. Body shaming sering terjadi di media sosial yang kemudian menjadi cyber bullying, yang akan berdampak pada masalah psikolagis korbannya.

Rupanya kasus body shaming memang cukup pelik di tengah derasnya arus sekularisasi muslimah di Indonesia. Dimana seorang wanita disukai karena kemolekan dan kesempurnaan fisiknya, oleh karena itu angka body shaming selalu meningkat dari tahun ke tahun. Menurut data survei yang diperoleh pada akhir 2019 lalu, dengan 2.000 orang dewasa, sekitar 56% dari mereka mengatakan pernah menjadi korban body shaming dalam setahun terakhir.(liputan6.com,06/11/2019)

Begitupun di tahun 2018, tercatat ada 966 kasus penghinaan fisik yang ditangani polisi dari seluruh Indonesia sepanjang 2018. Sebanyak 347 kasus di antaranya selesai. Baik melalui penegakan hukum maupun pendekatan mediasi antara korban dan pelaku. (detik.com, 28/11/2018)

Kasus body shaming memang meningkat dari tahun ke tahun namun tindakan Tara sebagai seorang pesohor melalui foto tanpa busananya  juga tak dapat dibenarkan. Hendaknya publik tidak menelan pesan sang aktris secara mentah-mentah.

Di kalangan pengusung ide liberal yang selalu vokal menyuarakan kebebasan perempuan, apa yang dilakukan Tara adalah bagian dari seni. Bagi mereka, bidang seni adalah ruang yang terbuka lebar bagi perempuan untuk bebas berekspresi. Apakah mereka hendak berlenggak-lenggok gemulai, berdandan menor, beraksi dan beradegan tak senonoh, hingga berpose tanpa busana sekalipun, menurut mereka semua itu bagian dari seni, dan tentu saja perbuatan-perbuatan itu sangat dibolehkan.

Mencermati hal ini, jelas semua isu yang mereka usung  bermuatan liberal, serba bebas, dan serba boleh. Termasuk boleh menampilkan segala bentuk aksi bebas maupun ekspresi asasi si makhluk manis perempuan, tanpa batas. Ini benar-benar cara pandang khas kaum liberalis. Atas dalih apa pun, cara pandang ini tak layak dibenarkan, kendati untuk melawan body shaming. Lebih-lebih kasus body shaming ini terjadi di negeri muslim terbesar di dunia.

Perempuan, sebagai salah satu pelaku kehidupan  bagaimana pun mereka adalah salah satu jenis makhluk ciptaan Allah Swt. Yang berdasarkan konsekuensinya, harus terikat dengan aturan yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. bagi mereka.

Allah Swt. berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (TQS an-Nisa [4]: 136)

Dan melalui lisan Rasul-Nya ﷺ, juga disebutkan aturan bahwa: “Sesungguhnya seorang anak perempuan jika telah haid (balig), tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali wajah dan kedua tangannya hingga pergelangan tangan.” (HR. Abu Dawud)

Beriman kepada Allah adalah suatu keharusan. Maka wajib bagi setiap muslim untuk beriman kepada syariat Islam secara total. Termasuk di dalamnya wanita, Karena seluruh syariat ini telah tercantum dalam Alquran dan dibawa oleh Rasulullah ﷺ. Apabila tidak beriman, berarti seseorang itu telah kafir. Iman kepada syariat Islam ini tidak cukup dilandaskan pada akal semata. Melainkan harus disertai sikap penyerahan total dan penerimaan secara mutlak terhadap segala yang datang dari sisi-Nya.

Demikian halnya firman Allah Swt.:
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (TQS al-Ahzab [33]: 36)

Oleh karena itu, penolakan seseorang terhadap hukum-hukum syara’ secara keseluruhan, atau hukum-hukum qath’i secara rinci, dapat menyebabkan kekafiran. Baik hukum-hukum itu berkaitan dengan akidah, akhlak, ibadah, muamalat, ‘uqubat (sanksi), makanan, minuman, maupun pakaian. Ingkar pada satu ayat, sama saja kufur kepada ayat yang lain.

Demikianlah, baik aktivitas pornoaksi maupun body shaming, keduanya sama-sama produk kehidupan serba bebas yang bertentangan dengan akidah dan aturan Islam. Pornoaksi atas nama seni adalah tindakan fasad (rusak). Sedangkan body shaming tak lain adalah upaya pembakuan ukuran kecantikan sebagaimana yang selama ini dihadirkan oleh media sekuler yang serba bebas. Karenanya baik pornoaksi, pornografi maupun body shaming, semuanya wujud perendahan terhadap kehormatan wanita. Wallahu a'lam bish-shawab
 
Top