Oleh : Asti Marlanti
Member Akademi Menulis Kreatif

Corona sudah mewabah ke seantero negeri. Tak terkecuali negeri kita Indonesia. Angka positif COVID-19 pada Senin (16/3) adalah 134 kasus. Angka positif COVID-19 yang diumumkan pada Selasa (17/3) ini menjadi 172 kasus. Berarti ada lonjakan 38 kasus positif COVID-19 dalam sehari. Sedangkan 7 orang dinyatakan sudah meninggal (detiknews.com). Hal inilah yang membuat pemerintah memutuskan untuk melakukan semi lockdown. Langkah ini diambil guna meminimalisir penyebaran virus corona COVID-19 yang semakin menakutkan. Akibatnya, kota menjadi sepi dengan berkurangnya aktivitas warga. Begitu pun anak-anak sekolah belajar di rumah selama 14 hari ke depan.

Wabah adalah musibah yang ditimpakan kepada siapa pun termasuk orang yang beriman dan tidak beriman. Yang membedakannya adalah sikap dalam menyikapi wabah ini. Bagi orang yang beriman, akan meyakini bahwa semua wabah ini adalah makhluk Allah, tentara Allah, maka sikap pertama adalah menguatkan keimanan kepada Allah. Dengan berserah diri kepada-Nya. Introspeksi, bertaubat hingga terus meningkatkan hubungan dengan Allah. Selain itu juga memaksimalkan ikhtiar. Nabi menyatakan, “Jika kamu melihat bumi tempat wabah, maka jangan memasukinya. Jika kamu berada di sana, maka jangan keluar darinya.” Hal ini seperti kebijakan lockdown. Dengan upaya ini, kita berharap dapat berperan dalam mengurangi dan memutus rantai penularan virus di tengah umat.

Patut dipahami bahwa semua upaya dan ikhtiar itu dilakukan tanpa mengurangi sedikit pun keyakinan tentang qadha dan qadar Allah Swt. Juga keyakinan bahwa tidak ada satu pun yang menimpa di bumi ini kecuali dengan seizin-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya:
مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗ
"Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah." (QS. at-Taghabun [64] : 11)

Aktivitas lockdown ini bersifat sementara. Hal ini adalah bagian dari upaya dan ikhtiar kita untuk menyelamatkan diri dari segala dharar. Sebuah tindakan yang juga diperintahkan oleh syariah. Ini juga bukan karena kita pengecut, dianggap lebih takut kepada virus yang juga merupakan makhluk Allah Swt. Sama sekali tidak. Sebab, secara sunatullah, virus itu memang membahayakan manusia. Sebagaimana bahayanya tertabrak mobil, terjatuh ke jurang, tersetrum listrik, terkaman binatang buas, dan sebagainya. Dalam menghadapi semua bahaya itu, diperintahkan untuk menghindarinya. Syara’ juga memerintahkan ini. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw. bersabda:
« فِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ فِرَارَكَ مِنَ الأَسَدِ »
"Jauhilah penyakit kusta sebagaimana engkau lari dari kejaran singa." (HR. Ahmad)

Wabah corona ini memang mengerikan. Sehingga ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika lockdown ataupun social distance ini. Pertama, bagi kita sebagai individu. Perlu dipahami bahwa kita tidak boleh takut berlebihan, apalagi stres dengan hal ini. Justru hal itulah yang bisa melemahkan daya tahan tubuh kita, tetapi juga tidak boleh meremehkan dan menganggap enteng penyebaran virus ini. Yang harus kita lakukan adalah meningkatkan kehati-hatian, kewaspadaan, menjaga imun dan meningkatkan keimanan pada Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Penyayang terhadap hamba-Nya yang beriman. Kedua, kita sebagai anggota masyarakat harus paham bahwa keputusan lockdown atau social distance membuat masyarakat harus diam di rumah. Mungkin akan ada rasa bosan dan sebagainya. Namun itu semua agar potensi penularan wabah terkendali. Semua itu butuh dukungan masyarakat. Dan harus dipahami bahwa ini adalah syari'at yang harus dilakukan ketika terjadi wabah.
Yang ketiga adalah peran negara. Negara harus melakukan isolasi. Menahan masyarakat yang ada di sekitar wabah untuk keluar wilayahnya dan melarang masyarakat untuk masuk ke wilayah wabah tersebut. Namun yang harus dipahami bahwa isolasi bukanlah penjara. Sehingga negara tidak boleh abai dengan masyarakat yang terisolasi. Negara harus mempersiapkan pasokan makanan yang cukup. Sehingga masyarakat di sana kesehatannya terjaga. Jangan sampai terjadi penjarahan dan kriminalitas lainnya. Karena hal inilah yang dilakukan Rasulullah, para sahabat dan tabi'in saat terjadi wabah.
Oleh karena itu, kita harus perkuat iman saat melakukan ikhtiar. Baik itu lockdown, semi lockdown atau pun sosial distance. Perbanyak do'a agar wabah segera berakhir dan kita semua bisa melaksanakan Ramadan dengan nyaman tanpa lockdown.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top