Oleh : Ummi Munib
Ibu Rumah Tangga

 Terinspirasi film, itulah kira-kira salah satu alasan NF, seorang  gadis berusia 15 tahun yang tega membunuh anak tetangganya berusia 5 tahun.  Sontak  jagat dunia maya dihebohkan atas kasus tersebut. Gadis itu mengakui perbuatannya tanpa rasa berdosa. CNN Indonesia  Sabtu, 07/03/2020  memberitakan, bahwa Kepolisian Resor Jakarta Pusat tengah mendalami kejiwaan  gadis berinsial NF. Kami tanya bagaimana perasaan setelah kejadian ini, dia katakan 'saya puas'. NF akan kami periksa sisi psikologisnya secara mendalam. NF mengaku membunuh karena hasrat yang muncul seketika, namun hasrat untuk  itu selama ini masih bisa ditahan. Puncaknya Kamis (5/3) lalu, NF tidak bisa menahan sehingga membunuh temannya.  NF biasa bermain dengan binatang dan diperlakukan dengan kasar. Seperti kodok ditusuk pakai garpu, kucing kesayangannya yang bisa dibuang dari lantai 2 (dua) ketika ia sedang kesal.

Berdasarkan pengakuannya, NF juga mengaku suka nonton film horor Chucky dengan karakter arwah pembunuh berantai yang masuk ke dalam tubuh boneka, sedangkan  tokoh favoritnya Slender Man, yaitu tokoh film horor tentang penculikan remaja. Slender Man mempunyai karakter supernatural fiksi yang digambarkan dengan sosok kurus tinggi dengan kepala tanpa wajah, kata Yusri Kabid Humas Polda Metro Jaya, saat jumpa media di Mapolres Metro Jakarta Pusat, Sabtu (7/3).
Sungguh mengerikan, nyawa manusia tak ada harganya. Sang pelaku gadis remaja dengan status  pelajar, mengaku  tak ada sesal didadanya.  Dimanakah empatimu wahai sang gadis? seolah-olah dalam kehidupannya ia tidak pernah merasakan belaian kasih sayang dari orang tuanya. Pendidikan disekolah pun seolah tak berbekas, sehingga sang anak tidak punya kontrol terhadap diri pribadinya. Dari fakta yang terungkap, gadis itu meninggalkan banyak jejak berupa coretan dikertas, yang berisikan kekecewaan, kesedihan dan amarah yang besar terhadap sang ayah. Bahkan ada kata-kata "keep calm and give me torture". yang artinya tetap tenang dan beri aku siksaan. Kasus ini menambah daftar panjang permasalahan negeri ini, dan menimbulkan kekacauan  yang semakin menjadi.
Apa yang dilakukan NF kita pahami bersama  bahwa semua ini buah dari penerapan sistem sekular liberal. Sistem  kehidupan yang memisahkan agama dari kehidupan dengan bumbu kebebasan. Salah satu buah dari kebebasan berperilaku adalah seperti  yang dilakukan NF terhadap korbannya. Jangankan mengingat dosa, rasa kasihanpun telah tercerabut dari nurani sang gadis. Paham liberal terbukti telah menghantarkan remaja semakin liar dan rusak. Aturan agama dibuang jauh-jauh sehingga perilaku seseorang mengikuti syahwat semata. Seharusnya remaja sebagai generasi yang secara fisik, akal dan mental memiliki potensi yang sangat optimal untuk kebangkitan peradaban negeri. Namun dengan ide liberal dalam  sistem sekular kapitalisme seolah telah meracuni generasi muda dan membuat mereka menjadi liar.

Dalam Islam, anak adalah amanah titipan dari Allah, mereka seperti kertas putih,  orang tuanya lah yang akan memberi goresan goresan tinta hitam atau putih. Maka  berhati hati saat memberi goresan tersebut, jangan  biarkan tinta hitam menggores jiwanya. Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu mengelompokan 3 fase  dalam cara memperlakukan anak. Pertama: Pada 7 tahun pertama, perlakukan anak sebagai raja (0-7 tahun). Yang dimaksud di sini, bukan berarti kita menuruti semua keinginan anak, melainkan memberikan perhatian penuh kepada anak, karena di usia inilah mereka mengalami masa emas. Saat maksimal pembentukan sel otak 70%, dan kemampuan anak menyerap informasi masih sangat kuat. Jangan serahkan sepenuhnya pada pengasuh kecuali jika memang terpaksa. Rawatlah mereka dengan tangan kita. Perhatian kecil yang sederhana tapi tulus dari lubuk hati pasti akan membekas pada mereka.  Kedua: Pada 7 tahun kedua, perlakukan anak sebagai tawanan (8-14 tahun). Ketika anak sudah menginjak tahap ini, maka orang tua harus mengubah cara mendidiknya dengan menekankan kedisiplinan pada anak. Rasulullah Saw memerintahkan  kepada setiap orang tua untuk mulai mendisiplinkan shalat, ataupun ibadah-ibadah lainnya dalam syari’at ketika berusia 7 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa usia tersebut bisa menjadi pijakan bagi orang tua untuk mengajarkan kedisplinan terhadap sesuatu. Ketiga: setelah 7 tahun kedua (14 tahun ke atas), perlakukan anak sebagai sahabat. Usia 15 tahun adalah usia umum saat anak menginjak akil baligh. Sebagai orang tua,  kita sebaiknya memposisikan diri sebagai sahabat dan memberi contoh atau teladan yang baik seperti yang diajarkan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu.

Sejarah emas Islam mencatat banyak pemuda yang harum namanya karena memuliakan Islam. Sejak generasi sahabat hingga Sultan Muhammad al-Fatih yang menaklukkan Konstantinopel yang menjadi gerbang tersebarnya Islam ke Eropa. Kejayaan Islam banyak  digerakkan oleh barisan kaum muda. Para ulama salafush-shalih mendidik kaum tunas muda ini agar kelak muncul generasi penerus umat. Mereka paham, menyia-nyiakan pembinaan kaum muda sama artinya dengan merencanakan kehancuran suatu bangsa.

Dengan demikian sudah saatnya kita buang jauh paham liberal, yang telah menghantarkan remaja menjadi sadis.  Hanya syariat Islam saja yang mampu menghantarkan remaja menjadi sosok yang berkepribadian Islam dengan  pemahaman Islam kafah. Remaja yang siap memperjuangkan tegaknya kalimat tauhid dimuka bumi ini. Tegaknya syariah akan menyelamatkan kita di hari kiamat kelak. Sebaliknya siapa saja yang mencampakkan syariah, di hari kiamat kelak akan berat sekali azabnya, antara lain akan dibutakan matanya oleh Allah SWT di Padang Mahsyar. Na’uzhu billah min dzalik. Allah SWT berfirman :
"...lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat [di dunia] dan tidak akan celaka [di akhirat]. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta." (TQS Thaha [20] : 123-124)
Wallahu a’lam bish-showab
 
Top