Oleh : Sri Mulyati
Mahasiswi dan Member Amk

Di tengah pandemi Covid-19 yang menggemparkan seantero dunia yang mengisahkan kegelisahan dan kekhawatiran  begitu mendalam bagi masyarakat Indonesia  khususnya. Sampai saat ini kasus belum terselesaikan secara tuntas. Berbagai cara telah dilakukan tetapi sikap penguasa terlihat santuy (baca: santai) mengenai situasi yang kini dialami negara sudah memasuki tahap genting.

Membicarakan tentang perempuan memang tidak pernah ada habisnya, sebab ia adalah makhluk yang Allah ciptakan begitu istimewa dengan kemuliaannya. Lewat rahimnya mampu melahirkan generasi terbaik di zamannya.  Namun, alih-alih perempuan yang hidup dalam sistem kapitalisme ini seakan tersendat untuk melahirkan generasi cemerlang itu. Mereka hidup dalam kungkungan sistem kapitalisme yang jauh dari kata aman. Berita tentang kekerasan seksual kerap kita dapati dan menoreh angka yang sangat fantastis dan naik drastis.

Dilansir oleh Tempo.co. Komisioner Komnas Perempuan, Mariana Amiruddin, mengatakan data kekerasan terhadap perempuan meningkat sebanyak 792 persen atau delapan kali lipat "Dapat diartikan bahwa dalam situasi yang sebenarnya, kondisi perempuan di Indonesia jauh mengalami kehidupan yang tidak aman". Kata Mariana dalam Rilis Catatan Tahunan 2020 Komnas Perempuan di Hotel Mercure Cikini. (06/03/2020)

Berdasarkan data statistik yang dicantumkan di atas merupakan kasus yang terlaporkan belum lagi yang tidak terlaporkan. Fakta dilapangan akan lebih mencengangkan. Dari kasus di atas, terbagi ke dalam beberapa kasus di antaranya: pelecehan seksual, tindakan pemerkosaan, kasus inses dan kekerasan seksual. Fenomena yang sangat mengerikan. Akan tetapi, tidak ada satu pun penyelesaian secara tuntas yang dihadapi para perempuan. 25 tahun proyek hak reproduksi dan kesehatan reproduksi demi kesetaraan  gender yang diaruskan Barat. Nyatanya, tidak mengusut tuntas persoalan semacam ini. Kasus pemerkosaan yang berdampak pada kerusakan organ reproduksi yang tidak sedikit berujung kematian. Selain itu, ide kesetaraan gender mengharuskan perempuan memiliki peran ganda, ia seorang ibu sekaligus berperan pencari nafkah. Mereka dipaksa keluar rumah untuk memenuhi hajat hidup. Padahal, hal demikian sangatlah membahayakan dirinya baik secara psikis maupun mental. Khusunya seorang ibu yang baru saja melahirkan dan memiliki kewajiban untuk memberikan Asi kepada bayinya terpaksa mereka urungkan demi tuntutan pekerjaan.
"Ada tiga masa reproduksi yang dianggap sebagai momen rentan pada perempuan yaitu saat menstruasi, saat kehamilan dan saat menyusui. Ketiga masa itu jadi masa yang rentan baik dari segi psikis maupun mental pada perempuan." Penjelasan Mariana Amiruddin. (Liputan6.com, 23/03/2020)

Bayangkan ketiga momen khususnya masa menyusui perempuan harus bekerja, sedangkan kondisi tubuhnya baik dari organ reproduksi, psikis dan mental belum membaik dan benar-benar butuh waktu untuk memulihkannya. Perempuan dipaksa melakukan pekerjaan sebagaimana biasanya, resiko bahaya untuk kesehatan dirinya tak ia gubris. Sistem kapitalisme melaui ide kesetaraan gender terbukti tidak memanusiakan manusia. Walaupun, mereka memberikan masa cuti oleh sebagian perusahaan. Hal demikian hanyalah solusi parsial. Ide kesetaraan gender sebagai solusi yang digaungkan Barat terbukti gagal mewujudkan janjinya di bidang kesehatan.

Penyelesaian Islam terhadap Perempuan  dan Kesehatan
dalam Pandangan Islam

Perempuan memilik kehormatan yang harus dijaga dan dimuliakan sama seperti laki-laki. Hal ini dipertegas oleh Allah Swt. melalui firman-Nya,

"Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam." (TQS. al-Isra [17]: 70)

Penjelasan ayat ini bahwa perempuan dan laki-laki kedudukannya sama-sama dimuliakan. Tidak memandang salah satu diantara keduanya pihak paling tinggi.
Dalam Islam, perempuan tidak diwajibkan mencari nafkah. Kewajiban ini hanya untuk kaum laki-laki saja. Negara wajib memberikan peluang berupa lowongan pekerjaan untuk laki-laki seluas-luasnya. Sebaliknya perempuan, fitrahnya di rumah  menjadi ummu warobatul bait dan madrasatul ula yakni pengurus dan pengatur urusan rumah tangga dan mendidik para putra-putrinya di rumah.
Laki-laki maupun perempuan dianugrahkan berupa potensi Naluri seks yang tujuannya bereproduksi. Akan tetapi, tidak menjadikan perempuan sebagai pelayan pemuas birahi kaum laki-laki. Islam sangat menjaga kehormatan ini. Sehingga, kaum perempuan sebagaimana halnya laki-laki wajib terikat kepada syariat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, termasuk dalam menggunakan naluri seks dan organ reproduksinya,

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (TQS. al-Ahzab [33]: 36)

Sejatinya fitrah seorang perempuan adakalanya ia merasakan kehamilan, melahirkan dan menyusui. Islam memberikan perhatian khusus akan hal ini, seperti halnya wanita pada fase tadi tidak diwajibkan berpuasa di bulan Ramadhan dan membolehkan menggantinya di hari lain demi kesehatan dirinya.
Islam tidak memandang kesetaraan gender. Sejauh ini hal demikian bukanlah sebuah permasalahan yang harus memposisikan antara laki-laki dan perempuan itu sama dalam hal pekerjaan. Sesungguhnya, ini hanyalah akal-akalan orang-orang penganut sistem kapitalis saja. Mereka memadang bahwa perempuan bisa bekerja seperti halnya laki-laki dalam menyelesaikan pekerjaannya dan dapat digaji lebih rendah dari laki-laki. Selain itu, mereka pun memanfaatkan kelembutan perempuan yang cenderung tidak protes saat dizalimi dan minim melakukan aksi frontal seperti para pekerja laki-laki.

Tinta sejarah telah menorehkan masa keemasan Islam, dimana perempuan begitu dimuliakan dan sebagai aset negara dalam mencetak generasi yang mampu memberikan konstribusi terbaik untuk agama dan negaranya. Selama 13 abad lamanya  perempuan dijaga jiwa dan raganya oleh negara yakni Daulah Khilafah. Akan tetapi, 99 tahun lamanya khilafah runtuh, selama itu pula perempuan ditindas dan dirampas kehormataannya.

Untuk itu, sekarang saatnya mengembalikan fitrah perempuan dengan berjuang menegakkan kembali khilafah sebagai janji Allah dan bisharah Rasulullah. Karena, sistem kapitalisme tidak mampu melakukan hal ini.
Wallahu a´lam bishawab
 
Top