Oleh : Samsinar 
Member Akademi Menulis Kreatif

Pendidikan merupakan salah satu pilar peradaban. Baiknya sebuah peradaban adalah cerminan dari sistem pendidikan cemerlang. Buruknya sebuah peradaban juga cerminan dari buruknya sistem pendidikan. Karena sistem pendidikanlah yang mengasah ketajaman berpikir para generasi bangsa. Pendidikan bertujuan untuk mencerdaskan. Dengan pendidikan, manusia mampu membedakan baik dan buruk, benar dan salah. Dengan pendidikan pula, manusia mampu menjadi ahli kebaikan dan penebar kemaslahatan bagi orang lain. Laki-laki dan perempuan memiliki kewajiban yang sama dalam menempuh pendidikan setinggi-tingginya.

Perempuan pada hakikatnya adalah guru dan calon guru. Perempuan kelak akan menjadi guru mau tidak mau, suka atau tidak suka. Saat ia masih sendiri, maka ia menjadi guru bagi dirinya, pengalaman yang telah lalu menjadi pembelajaran baginya. Ketika telah menjadi ibu, ia akan menjadi guru bagi anak-anaknya. Bahkan ibu akan menjadi guru yang pertama dan utama bagi anak-anaknya. Karena itulah, seorang perempuan haruslah menjadi manusia pintar dan cerdas agar layak menjadi guru, setidaknya menjadi guru hebat bagi anak-anaknya. Untuk menjadi ibu yang cerdas dan hebat, seorang perempuan mesti menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Sebab, di tangannyalah kelak masa depan generasi tergenggam. Jika terlepas karena ketidakmampuannya menempuh pendidikan tinggi, lalu akan bagaimanakah nasib generasi mendatang?

Namun dalam sistem hari ini, berbagai permasalahan harus dihadapi seorang perempuan untuk menempuh pendidikan hingga ke jenjang tertinggi. Masalah yang kompleks harus dipecahkan terlebih dahulu jika ingin melanjutkan pendidikan hingga ke tingkat profesor. Meski secara global, sepanjang 25 tahun sejak BPFA 1995 sudah banyak kemajuan pada kondisi pendidikan perempuan. Namun, masalah-masalah kekerasan masih sangat rentan dialami perempuan. Selain itu, banyak pula permasalahan-permasalahan pelik lainnya yang harus dihadapi kaum perempuan dalam memperjuangkan pendidikannya.

Akibat dari pernikahan dini, orang tua dahulu masih banyak yang buta pendidikan. Tidak sedikit di antara mereka memandang bahwa perempuan tidaklah penting menempuh pendidikan terlalu tinggi. Karena menurut pandangan mereka, tugas akhir dan tugas pokok seorang perempuan adalah bekerja di rumah, mengurus rumah, anak dan suami. Mereka berpandangan bahwa untuk pekerjaan perempuan  yang hanya di rumah tersebut tak perlu ijazah hingga sampai ke jenjang S1, S2 atau S3. Namun cukup pada tingkatan 3S (SD, SMP, SMA). Sehingga, tidak sedikit orang tua yang memutuskan pendidikan anak lalu menikahkan sang anak jika sudah tamat SMA. Bahkan, tidak sedikit anak perempuan usia SMP sudah dinikahkan. Semua ini terjadi dan menimpa kaum perempuan karena kaburnya pandangan orang tua terhadap pentingnya pendidikan dalam kahidupan.

Selain itu, sulitnya ekonomi ditambah mahalnya biaya pendidikan kerap kali juga menjadi dinding penghalang bagi seorang perempuan dalam melanjutkan pendidikannya ke jenjang  strata hingga ke tingkat profesor. Jangankan hingga ke tingkat setinggi itu, tidak sedikit perempuan yang tak bisa melanjutkan pendidikan S1 dengan alasan ekonomi. Banyak generasi muda Indonesia yang putus pendidikannya pada tingkat sekolah menengah ke bawah.

Tatkala perempuan telah menempuh pendidikan tinggi pun akan menghadapi berbagai masalah. Kesibukan tingkat tinggi harus ia jalani jika ia adalah lulusan perguruan tinggi yang memutuskan bekerja di luar. Karena dalam sistem kapitalisme, perempuan terdidik dituntut untuk bekerja di luar selain menjadi ibu rumah tangga. Malu jika lulusan S1, S2, S3 hanya menjadi ibu rumah tangga saja. Padahal sungguh hal tersebut bukanlah aib. Justru dengan ilmu yang telah didapatkan dari bangku sekolah hingga mendapat gelar, dapat menjadi sangat bermanfaat baginya dalam mengurus, menjaga dan mendidik buah hati.

Perempuan berpendidikan tinggi di era kapitalis destinasinya adalah bekerja di luar rumah. Sehingga jika ia adalah perempuan yang sudah menikah harus berperan ganda. Selain menyelesaikan tugas di rumah, juga harus menuntaskan pekerjaan di luar rumah (karir). Tidak sedikit anak menjadi korban atas peran ganda ibu.

Selain itu, lingkungan di luar rumah juga tidak aman bagi perempuan. Pada 2016, 70 persen korban perdagangan orang yang terdeteksi secara global adalah wanita dan anak perempuan, sebagian besar untuk tujuan eksploitasi seksual. Selain itu, satu dari setiap 20 anak perempuan berusia 15-19 tahun, atau sekitar 13 juta anak perempuan, mengalami pemerkosaan dalam kehidupan mereka, salah satu bentuk pelecehan seksual paling kejam yang dapat dialami wanita dan anak perempuan, paparan dalam laporan yang dirilis pada Rabu (4/3) dari UNICEF, Entitas PBB untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan (UN Women), dan Plan International. (satuharapan.com, 19/03/2020)

Berbagai fakta di atas  menunjukkan bahwa solusi setara gender dalam pendidikan perempuan tidak menuntaskan semua masalah (kekerasan, ekonomi, dan lain-lain. Kesetaraan gender yang merupakan isu yang secara intensif dibicarakan sejak tahun 1975 malah menimbulkan berbagai permasalahan  lain.

Hal ini tidaklah sama dalam Islam. Pendidikan dalam Islam sangat jauh berbeda dengan pendidikan Barat yang sekuler. Pendidikan Islam dibangun di atas dasar ilmu Al-Qur'an, sebelum mempelajari ilmu-ilmu yang lain. Hal yang utama dalam pendidikan Islam adalah bagaimana melahirkan ilmuwan-ilmuwan yang zuhud, memiliki landasan niat yang benar dalam menuntut ilmu. Menuntut ilmu untuk ibadah dan semata-mata untuk mencari rida Allah ta’ala.

Dengan tujuan pendidikan yang demikian, akan lahirlah generasi yang bertakwa, cerdas, tunduk dan taat pada syariat Islam secara keseluruhan. Bukan menjadi generasi pelabrak syariat, krisis moral, lemah dan latah akan kebudayaan bangsa lain serta miskin ilmu agama. Tujuan pendidikan inilah yang akan mengantarkan umat ini menjadi mulia, memajukan masyarakat serta menjadikan ilmu pengetahuan mendatangkan berkah dan rahmat bagi umat manusia termasuk perempuan.

Islam tak membedakan pendidikan antara laki-laki dan perempuan. Masing-masing mempunyai kewajiban yang sama untuk menuntut ilmu. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.,
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.”(HR. Ibnu Majah).

Pendidikan bagi perempuan dalam pandangan Islam bukanlah untuk mengumpulkan ijazah lalu disodorkan untuk mendapatkan pekerjaan sebagaimana dalam pendidikan sekuler.
Pendidikan bagi perempuan dalam pandangan Islam bertujuan untuk membantu agar tetap berada pada koridor kemuliaan yang telah digariskan oleh Allah atasnya (perempuan). Pendidikan dimaksudkan agar menjadikan perempuan berkepribadian Islam, mengerti dan memahami tsaqofah Islam serta menguasai ilmu-ilmu tentang kehidupan. Sehingga dengan begitu seorang perempuan mampu mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi baik masalah pribadinya, maupun masalah yang dihadapi dalam keluarganya.

Wallaahu a'lam bishshawaab
 
Top