Oleh : Zakiyya
Ibu Rumah tangga dan Pegiat Dakwah


"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan." (TQS al-Maidah: 90)

Minuman keras beralkohol adalah minuman yang mengandung etanol. Etanol adalah bahan psikoaktif dan mengkonsumsinya menyebabkan penurunan kesadaran. Alkohol adalah zat yang paling sering disalahgunakan manusia. Alkohol diperoleh atas peragian/fermentasi madu, gula, sari buah atau umbi-umbian. Dari peragian tersebut dapat diperoleh alkohol sampai 15 persen, tetapi dengan proses penyulingan (destilasi) dapat dihasilkan kadar alkohol yang lebih tinggi bahkan sampai mencapai 100 persen. Kadar alkohol dalam darah maksimum dicapai 30-90 menit setelah diserap, alkohol/etanol disebarluaskan ke seluruh jaringan dan cairan tubuh. Dengan peningkatan kadar alkohol dalam darah, orang akan menjadi euforia, namun dengan penurunannya, orang tersebut menjadi depresi. Di berbagai negara, penjualan minuman keras beralkohol dibatasi ke sejumlah kalangan saja, umumnya orang-orang yang telah melewati batas usia tertentu.

Seperti dilansir oleh radarnusantara.com, Masih banyak ditemukannya warga masyarakat yang mengkonsumsi miras (minuman keras). Membuat warga masyarakat sekitar menjadi resah. Maka untuk mengantisipasi, mencegah serta mewujudkan wilayah Cileunyi yang bersih dari minuman keras (miras). Secara rutin, Polsek Cileunyi Polresta Bandung dengan menerjunkan Satuan Unit Reskrim Polsek Cileunyi Polresta Bandung kembali melakukan giat Ops pekat miras, Sabtu (15/02/2020). Beberapa miras atau minuman keras tersebut berhasil disita dari beberapa toko jamu yang beroperasi di wilayah Cileunyi, namun pihaknya akan terus melakukan upaya dan pencegahan untuk menciptakan wilayah Kabupaten Bandung khususnya Cileunyi yang tetap kondusif serta terbebas dari zona bahaya miras.

Minuman keras atau miras masih menjadi polemik di negeri ini. Memang, pemerintah berusaha merazia toko-toko miras dan jamu yang menjual minuman keras. Namun apakah dengan begitu miras akan hilang dari negeri ini? Hal ini karena pemberantasan miras tidak cukup hanya merazia pedagang-pedagang kecil saja tapi juga secara sistemik wajib hingga menyentuh para produsen (pabrik). Minuman keras memang merupakan salahsatu biang terjadinya kejahatan. Lihat saja betapa banyak  kejahatan terjadi disebabkan oleh minuman keras. Tak sedikit kasus pembunuhan, pemerkosaan hingga perampokan pada awalnya terjadi disebabkan oleh minuman keras ini. Dan para pelaku kejahatan ini kebanyakan adalah para remaja. Tentu saja hal ini meresahkan karena remaja yang merupakan generasi penerus, malah tercekoki oleh miras yang menyebabkan kerusakan moral. Mau dibawa kemana negeri ini jika generasi penerus kerap kali disibukkan dengan kegiatan-kegiatan yang tidak berguna ,sia-sia bahkan cenderung merusak?

Sistem kapitalis sekuler saat ini hanya memberantas miras secara parsial bukan global. Meskipun dirazia namun tidak akan memberangus seluruhnya karena pabrik-pabrik besar penghasil miras ini masih mendapat ijin pemerintah untuk berproduksi. Selama mereka membayar pajak dan pemerintah mendapat keuntungan, pabrik-pabrik tersebut akan terus berjalan. Padahal jika saja pemerintah mau memikirkan sedikit tentang kepentingan rakyatnya daripada keuntungan pribadi, maka moral rakyat akan terselamatkan. Namun sayang, hal tersebut tidak mungkin akan terwujud selama sistem kapitalis-sekuler masih merajai negeri ini. Itulah ciri sistem kapitalis sekuler, selama mendapat keuntungan maka apapun dihalalkan meski merusak moral generasi penerus.

Islam mengatur segala jenis aspek kehidupan manusia tak terkecuali makanan dan minuman. Dalam Islam ada beberapa makanan dan minuman yang diharamkan karena mudharatnya lebih besar daripada manfaatnya. Beberapa jenis makanan yang diharamkan di antaranya adalah daging babi, darah, bangkai hewan dan lain sebagainya. Sementara minuman yang diharamkan adalah minuman keras atau lebih dikenal dengan minuman beralkohol. Zat etanol yang terdapat dalam minuman keras dapat menekan sistem saraf pusat dan membuat seseorang hilang kendali atau kesadarannya. Dalam Islam, istilah minuman keras dikenal dengan nama khamr  yang dalam bahasa Arab berarti menutupi akal dan menghilangkannya.

Kebiasaan meminum miras sebenarnya telah ada jauh sebelum zaman Rasulullah saw. Pada waktu Rasulullah saw diutus, masyarakat saat itu memiliki kebiasaan meminum khamr. Akibatnya perilaku mereka pun sangat jauh bertentangan dengan agama Islam yang dibawa Rasulullah saw. Oleh karena itulah Allah Swt. menurunkan ayat:
"Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi, katakanlah, pada keduanya terdapat dosa besar dan manfaat bagi manusia, tapi mudharatnya lebih besar daripada manfaat." (QS al-Baqarah : 219)
Bahaya yang ditimbulkan miras tidak hanya dalam jangka pendek saja melainkan dalam jangka waktu yang panjang. Organ hati yang berfungsi menetralisir racun dapat mengalami kerusakan jika seseorang terus menerus mengonsumsi alkohol. Tidak sedikit orang yang meninggal akibat miras seperti yang sering kita lihat di media massa tentang orang yang mati setelah mengonsumsi oplosan atau miras yang dicampur zat lain. Oleh sebab itulah Islam menganjurkan umatnya untuk menjauhi miras dan berdosalah mereka yang meminumnya. Islam sendiri mengibaratkan miras sebagai air kencing setan dan tentunya sama dengan kotoran.
Meminum khamr atau mengonsumsi benda-benda yang memabukkan merupakan dosa besar dalam pandangan syariah Islam. Pelakunya berhak untuk dihukum berat. Menurut jumhur ulama, orang yang ketahuan minum khamr wajib dihukum dan hukuman atas peminum khamr ini adalah hukum hudud, sehingga tidak boleh diganti dengan cara yang lain, mengingat hukum hudud itu segala ketentuannya datang langsung dari Allah Swt. Dalam hal ini ketentuan dari Allah untuk orang  yang minum khamr, mabuk atau tidak mabuk adalah dicambuk, sebagaiman sabda Rasulullah saw.:
"Orang yang minum khamr maka cambuklah." (HR. Muttafaqun 'alaih)

Banyak umat Islam yang kurang ilmu dan lemah keyakinannya beranggapan bahwa cambuk itu tidak manusiawi. Padahal selain lebih murah biayanya, efek jeranya pasti lebih jauh mengena. Apalagi bila hukuman itu bukan hanya bersifat fisik, tetapi juga bersifat psikis, yaitu dicambuk di muka umum, bahkan kalau perlu diliput secara live oleh beberapa stasiun televisi. Ada sedikit perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam menentukan jumlah pukulan. Jumhur ulama sepakat bahwa peminum khamr bentuk hukumannya adalah dicambuk sebanyak 80 kali. Pendapat ini didasarkan pada  perkataan Sayyidina Ali ra.,
"Bila seorang minum khamr maka akan mabuk. Bila mabuk maka meracau. Bila meracau maka tidak ingat. Dan hukumannya adalah 80 kali cambuk." (HR. Ad-Daruquthni, Malik)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Ali ra. berkata:
"Rasulullah saw mencambuk peminum khamr sebanyak 40 kali. Abu bakar juga 40 kali sedangkan Utsman 80 kali. Kesemuanya adalah sunnah. Tapi yang ini (80 kali) lebih aku sukai." (HR. Muslim)

Sedangkan Imam asy Syafi'i  berpendapat bahwa hukumannya adalah cambuk 40 kali. Jumhur ulama tidak membedakan antara orang yang mabuk dengan orang yang minum khamr tanpa mabuk, keduanya tetap wajib dikenai hukuman. Produsen dan pengedar khamr selayaknya dijatuhi sanksi yang lebih keras dari peminumnya karena keberadaan mereka lebih besar dan lebih luas bahayanya bagi masyarakat. Dengan syariah seperti itu, masyarakat bisa diselamatkan dari ancaman yang timbul akibat khamr atau miras. Semua itu hanya akan terwujud jika syariah diterapkan secara menyeluruh. Di bawah naungan daulah khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Wallahu a'lam bi shawab.

 
Top