Oleh : Elfia Prihastuti
Praktisi Pendidikan

"Aduh lebih enak kerja kalau seperti ini. Tiap hari ngurusin tugas sekolah anak, satunya belum selesai lainnya sudah teriak-teriak."

"Nggak enak belajar sama ibu, galak, enak sama bu guru di sekolah."

Itulah keluh-keluh yang sering kita dengar akhir-akhir ini. Seperti dilansir Republika.co.id, sejumlah provinsi mulai Senin (16/3/2020) meliburkan sekolah dari jenjang TK, SD, SMP, dan SMA hingga senin (30/3/2020). Langkah ini diambil untuk mengantisipasi menyebarnya Virus Corona jenis baru atau Covid19 di lingkungan pendidikan.

Sebagai gantinya, pembelajaran yang biasanya dilakukan di sekolah diubah menjadi di rumah. Siswa tetap mengerjakan semua tugas sekolah  meski berada di rumah. Orangtua yang juga bekerja dari rumah diminta untuk mengawasi proses belajar anak selama berada di rumah.

Kondisi ini tak urung membuat orangtua terutama ibu menjadi super sibuk dan nyaris stres. Begitu juga dengan anak-anak, banyak yang merasa tidak nyaman belajar di rumah bersama ibu mereka, karena sudah terbiasa belajar bersama guru di sekolah.

Parahnya, dari pihak Kemendikbud terlihat belum siap menghadapi keadaan ini. Meski Mendikbud Nadiem Makarim mengatakan, pihaknya mendukung kebijakan pemerintah daerah (Pemda) yang meliburkan sekolah karena khawatir dengan penyebaran Covid-19. Menurut Nadiem, keselamatan peserta didik dan guru menjadi yang utama.

Ketidak siapan Kemendikbud, dinyatakan oleh Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti dalam keterangan tertulis pada Rabu (18/3/2020) bahwa
"KPAI menyayangkan Kemendikbud dan dinas-dinas pendidikan tidak melakukan edukasi terlebih dahulu kepada para guru dan sekolah ketika ada kebijakan belajar di rumah selama 14 hari. Kalau sudah ada persiapan maka semestinya tidak terjadi penumpukan tugas yang justru memberatkan anak-anak."

Inilah fenomena yang terjadi di dunia pendidikan akibat mewabahnya Covid-19.

Hal tersebut tidak akan terjadi jika sejak awal negara telah mengoptimalkan perannya mempersiapkan kaum perempuan yang kelak akan menjadi ibu serta mempunyai peran sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak. Namun sistem kapitalisme sekuler telah sukses menjadikan perempuan sebagai roda penggerak ekonomi. Hal ini mengharuskan mereka banyak beraktivitas di ranah publik daripada di ranah domestik. Pada gilirannya membuat kaum ibu kehilangan waktunya memberikan pendidikan optimal pada anak-anak mereka. Akhirnya para ibu hanya mengandalkan pendidikan anaknya di bangku sekolah.

Maka sungguh sangat wajar jika pendidikan untuk para perempuan pun diarahkan untuk berkarir di ruang publik. Sedang wawasan dan pendidikan tentang bagaimana menjadi ibu yang mampu mencetak generasi dan mengatur rumah tangga tidak pernah tersentuh oleh negara.

Oleh karena itu, jadilah para ibu hari ini ibu yang tidak mempunyai persiapan yang matang sejak sebelum bergelar ibu. Maka ketika Allah Swt menganugerahkan anak, yang terpikir di benaknya hanya bagaimana memenuhi kebutuhan pendidikan anak melalui pendidikan  formal. Sehingga dicarilah sekolah terbaik bagi anak menurutnya. Maka biasanya sekolah yang dipilih adalah yang dapat menjanjikan kesuksesan secara materi. Tanpa disadari, sebenarnya para ibulah bersama sang ayah yang seharusnya  lebih banyak mengambil peran itu bukan sekolah.

Setidaknya di masa pandemi covid-19 ini memperlihatkan pada kita tentang enggannya para ibu menapaki perannya sebagai pendidik pertama dan utama. Mereka lebih nyaman berkarir di luar rumah daripada di rumah.

Sementara dalam Islam, karir tertinggi bagi perempuan adalah menjadi seorang ibu. Ibu adalah rumah bagi anak sebelum anak-anak dilahirkan. Ibu adalah pengajar yang memberi nasehat tentang petunjuk kehidupan ketika seorang anak membutuhkan bimbingannya. Ibu merupakan orang pertama yang menjadi contoh dalam pendidikan bagi keluarga serta melindungi anak-anaknya dari kobaran api neraka. Sebagaimana Allah berfirman :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. at Tahrim : 6)

Dari ayat di atas perintah itu ditujukan kepada keluarga. Namun dalam hal ini sosok ibulah yang menjadi prioritas utama dalam mendidik anak dalam keluarga. Sehingga anak bisa tumbuh menjadi muslim yang taat dan terhindar dari api neraka. Sebagaimana diungkapkan oleh seorang penyair ternama Hafiz Ibrahim dalam syairnya:

"Ibu adalah madrasah (sekolah), bila engkau menyiapkan berarti engkau menyiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya."

Jadi sangat jelas bahwa ibu adalah madrasah pertama yang akan memberi qudwah (teladan) bagi sikap, perilaku dan kepribadian anak.

Tentu menjadikan peran ibu sebagai madrasah ula bagi anak-anak tidak akan kita dapati pada sistem kapitalisme sekuler yang mengarahkan perempuan menjadi penopang ekonomi negara. Berbeda dengan sistem Islam yang tujuannya menghantarkan perempuan (ibu) sebagai pencetak generasi. Maka negara akan memfasilitasi dan menjadikan sistem pendidikan memberikan bekal pada semua perempuan untuk menjadi seorang pendidik. Karena kelanjutan serta masa depan negara dan dunia berada di tangan para generasinya. Para ibulah yang akan membentuknya melalui perannya sebagai madrasatul ula. Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top