Oleh : Neneng Sriwidianti
Pengasuh Majelis Taklim dan Member AMK

Desakan dari sebagian masyarakat untuk diterapkannya Lockdown, menuai pro kontra. Sebagian ada yang setuju untuk diterapkannya Lockdown, agar wabah ini tidak menyebar dan tidak   berjatuhan lagi korban yang meninggal baik dari masyarakat umum maupun praktisi kesehatan. Sedangkan mereka yang kontra, dikarenakan mereka khawatir kalau lockdown diterapkan , mereka tidak bisa memenuhi kebutuhannya karena harus di isolasi total di rumahnya masing-masing.

Masyarakat seperti makan buah simalakama, berdiam diri dirumah bapak mati, pergi keluar ibu mati. Sementara hari ke hari korban karena wabah ini terus bertambah. Hampir dua minggu setelah kasus virus ini muncul, pemerintah dan jajaran terkait , belum ada kesepakatan tentang pentingnya lockdown ini. Apakah harus menunggu korban lebih banyak lagi baru lockdown?

Orang positif terinfeksi virus Covid-19 disebut bertambah menjadi 686 orang pada Selasa ( 24/3). Dari jumlah itu korban meninggal mencapai 55 orang dengan jumlah yang sembuh 30 orang. "Penambahan kasus baru 107 kasus. Sehingga jumlah total korban jadi 686 kasus positif Corona," kata Juru Bicara Pemerintah untuk penanganan Covid-19 Achmad Yurianto dalam keterangan persnya di Jakarta. CNN Indonesia, selasa ( 24/3).

Dalam negara yang menerapkan sistem Kapitalis seperti Indonesia, negara pasti akan berhitung untung rugi jika hari ini melakukan lockdown. Karena kalau diberlakukan, maka negara harus mensubsidi rakyat, rakyat harus disuplai sembakonya. Denyut industri otomatis akan terhenti. Termasuk ketika penutupan sektor pariwisata,  maka pemerintah akan kehilangan sumber devisa terbesar bagi negara. Sehingga pemberlakuan lockdown bagi negara menjadi sesuatu yang sangat dihindari. Negara sekuler Kapitalis memang tidak berorientasi untuk melayani rakyatnya tetapi  menuntut rakyat untuk selalu berkorban. Ironis nian, hidup di negeri yang mayoritas muslim tetapi kebijakan penguasanya lebih kejam dari penguasa sekuler.

Negara Kapitalis hanya beretorika soal prioritas keselamatan rakyatnya tetapi karena posisi kebijakannya nyata tidak memberi jaminan. Bahkan tenaga medis sebagai garda terdepan juga tidak mendapat perhatian memadai. Perhitungan materi masih menjadi pertimbangan dominan pengambilan keputusannya. Ini semakin menegaskan kepada kita, lemahnya negara dalam memberi jaminan atas pemenuhan kebutuhan rakyat, karena ini akan berdampak kepada implikasi ekonomi, sosial dan keamanan yang tidak bisa ditanggungnya.


Islam adalah satu-satunya agama yang benar yang diturunkan oleh Zat yang Maha Sempurna, Allah Swt. Dalam Islam tidak ada satu celah pun dari kehidupan manusia yang tidak ada aturannya, termasuk dalam masalah bagaimana mengatasi sebuah wabah. Seperti yang terjadi saat ini, virus Covid-19 yang sudah menjadi pandemi  hampir di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Islam, 13 abad yang lalu sudah mengajarkan kepada kita tentang bagaimana mengatasi ketika terjadi wabah yang pandemi. Negara akan berusaha dan mengerahkan kemampuan yang ada untuk mengatasi wabah tersebut. Karena dalam Islam mencegah bahaya (mudarat) yang mengancam nyawa itu nomer satu. Karena itu Nabi bersabda :

"Hilangnya dunia lebih ringan bagi Allah, ketimbang terbunuhnya nyawa seorang Muslim."

Maka, tindakan Islam tegas dan disiplin. Dalam konteks Pandemi, haditsnya juga sudah jelas. Lockdown. Jangan memasuki wilayah Pandemi. Jangan juga keluar dari sana, kecuali untuk berobat. Jelas dan tegas. Negara (khilafah) akan melakukan lockdown dengan mengerahkan seluruh sumber daya dan potensi negara dan umat.

Dalam Islam, negara berorientasi untuk rakyat. Negara ada untuk melayani rakyat dan mengabdi pada agama. Ketakwaan yang ada pada Khalifah yang menyebabkan dia bersikap seperti itu. Ketakutan akan terganggu ekonomi atau terkait rizki, tidak membuat mereka tidak melakukan lockdown. Yang ada dalam pemikiran mereka, bagaimana rakyat terbebas dari virus yang mematikan. Karena seorang pemimpin dalam Islam meyakini, suatu saat nanti akan dimintai pertanggungjawabannya tentang rakyat yang dipimpinnya.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, bersabda :

"Imam (Khalifah) raa'in (pengatur rakyat) dan dia bertanggung jawab terhadap rakyatnya." (HR. Ahmad, Bukhari).

Ketika kebijakan lockdown diberlakukan di era khilafah tepatnya di masa Khalifah Umar, kebijakan tersebut diceritakan berjalan begitu efektif bahkan dalam beberapa hari wabah sudah mulai mereda. Ada beberapa faktor yang menjadikan lockdown dalam Islam begitu efektif. Hasilnya begitu cepat dirasakan, yang tidak ada dalam sistem Kapitalisme.

Negara dalam Islam berkewajiban memenuhi kebutuhan tiap-tiap warga negara. Negara memastikan gizi masyarakat terpenuhi dengan baik. Makanan sampai di pintu-pintu  rumah warga. Jika kebutuhan warga yang sehat begitu diperhatikannya, apalagi warga yang sakit.

Berobat dalam Islam gratis. Keberadaan rumah sakit dengan fasilitas yang mumpuni menjadi tanggung jawab negara. Dalam Islam haram berbisnis penyakit! Sehingga rumah sakit bukanlah bisnis. Masyarakat tidak perlu takut datang ke Rumah Sakit. Negara juga akan mengurus keluarga yang ditinggalkan. Bahkan dalam kondisi tertentu negara bukan saja menggratiskan biaya obat. Pasien yang sudah dinyatakan sembuh juga dikasih uang saku sebagai kompensasi sakit sekian lama tidak bekerja.

Ditambah lagi, ketakwaan individu dalam masyarakat Islam begitu tinggi. Mereka akan taat terhadap pemimpin ketika pemimpinnya menerapkan lockdown. Berbeda dengan masyarakat Kapitalis  yang orientasinya materi, kepanikan justru yang muncul dari setiap individu, karena mereka yakin negara tidak akan mengurus mereka dalam memenuhi kebutuhannya ketika lockdown diberlakukan.

Masya Allah, begitu indahnya aturan Islam ketika aturannya diterapkan secara kafah. Masihkah kita percaya kepada sistem Kapitalisme yang diterapkan saat ini?

Wahai kaum Muslim! Ketika Islam kafah  diterapkan di dalam  bingkai khilafah maka  segala problematika yang ada sekarang termasuk bencana wabah virus Covid-19, akan terpecahkan secara sempurna dan Islam rahmatan lil'alamin akan terwujud tidak akan lama lagi.
Wallahu'alam bishshawwab.
 
Top