Oleh: Sri Yana, Spd.I
Pegiat Dakwah

Sembilan belas negara telah memberlakukan lockdown, diakibatkan  wabah corona yang dimulai Desember hingga Maret ini.

Sebagaimana kutipan kompas.com, 17/3/2020 bahwa sebuah film horror-thriller Amerika Serikat, secara garis besar membahas bagaimana pemerintah negara menerapkan (melegalkan) apa yang kita sebut dengan aktivitas kriminal. Yang memberikan ilustrasi akan ketimpangan sosial-ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat. Terutama secara rasial, bagaimana orang kulit putih merepresentasikan sebagai orang yang berasal dari keluarga yang kaya raya. Sedangkan orang kulit hitam dan orang Latin (Meksiko) adalah masyarakat kelas-bawah.

Hal tersebut menjadikan contoh ketika lock down terjadi. Seperti diceritakan dalam film The Purge tersebut. Akan menimbulkan kriminalitas yang tinggi, bisa berupa penjarahan, pencurian, dan lain-lainnya. Jika tak terpenuhi kebutuhan pangan selama lockdown bagi orang-orang kalangan bawah. Hal ini karena semua pekerjaan ditutup, masyarakat hanya boleh isolasi atau karantina di rumah. Bagi orang-orang kaya mereka sudah memiliki persedian makanan.

Sudah sejatinya, orang-orang kaya sebaiknya berbagi kepada yang tak mampu. Karena dalam situasi tersebut, berbagi merupakan hal yang mulia untuk saling menolong sesama. Seperti kaum Anshar dan Muhajirin pada masa Rasulullah hidup, ketika di Madinah.

Mestinya ketika lockdown terjadi, pemerintah mempersiapkan segala kebutuhan pokok, berupa makanan, dan juga kesehatan bagi rakyatnya. Namun di sistem kapitalisme ini, hal tersebut masih dipertanyakan. Akankah pemerintah menyediakan itu semua? Faktanya ketika DKI Jakarta akan lockdown, Anis Baswedan sudah mempersiapkan kebutuhan pokok bagi warga Jakarta. Pada akhirnya gagal lockdown karena presiden tak mengijinkannya.

Ini lantas ditegaskan dengan pernyataan langsung dari Presiden Joko Widodo. Ia mengatakan kepala daerah tidak bisa me-lockdown kotanya karena itu sepenuhnya kebijakan pemerintah pusat.

"Kebijakan ini tidak boleh diambil oleh pemerintah daerah," katanya di Istana Bogor, Jawa Barat, Senin (16/3/2020).(tirto.id)

Sebagaimana dilansir oleh bisnis.tempo.co, 18/3/2020 bahwa pemerintah belum berencana mengambil langkah karantina total atau lockdown. Tim pakar Gugus Tugas Penanganan Virus Corona atau COVID-19, Wiku Adisasmito mengatakan langkah pembatasan gerak ini bisa berpengaruh besar terhadap roda ekonomi masyarakat.

Memang dilematis ketika wabah Covid-19 semakin hari bertambah terus hingga kini. Menyebabkan sebagian masyarakat panik. Mengakibatkan mereka akhirnya mudik dini, khawatirnya tertular virus Corona. Masyarakat pun demikian menghawatirkan tak tercukupi kebutuhan hidupnya jika lockdown benar-benar terjadi.

Seharusnya Indonesia bisa mengambil contoh dari kasus Italia. Semakin hari kian bertambah pesat jumlah yang terinfeksi virus covid-19. Akankah Indonesia lockdown ketika Covid-19 semakin merajalela?

Padahal Rasul saw. telah memberikan tuntunan sebagai berikut:

"Jika kalian mendengar wabah di suatu wilayah, janganlah kalian memasukinya. Jika terjadi wabah di tempat kalian berada, janganlah keluar darinya." (HR al-Bukhari)

Berarti Rasulullah sudah lebih dulu menerapkan lockdown atau karantina wilayah. Sedangkan kenapa pemimpin kita masih ragu? Karena  lockdown adalah ajaran Rasulullah saw. yang sudah terbukti keberhasilannya.
Wallahu a'lam bish shawab
 
Top