Oleh : Yanyan Berlian
Pendidik Generasi Khoiru Ummah, Member AMK

"Kami tetap bekerja untuk kalian, kalian tetap di rumah untuk kami."

Begitulah curahan hati para tenaga medis dalam rangka mengajak masyarakat Indonesia membatasi jarak fisik dan tidak keluar rumah untuk mencegah penyebaran potensi corona melalui ruang publik.

Dalam kasus wabah virus corona saat ini, garda terdepan yang menanganinya adalah para tenaga medis. Mereka tak kenal lelah melayani pasien yang terdampak virus corona. Bahkan, beberapa orang tenaga medis telah syahid dalam menangani kasus corona ini. Disebabkan kurangnya alat pelindung diri (APD) dan fasilitas lainnya dalam menangani pasien terdampak virus corona.

Wabah virus corona ini seharusnya memberikan banyak pelajaran bagi kita. Jelas, bencana tidak bisa dilepaskan dari kemaksiatan manusia. Karenanya, semua harus bertaubat. Meninggalkan perkara yang diharamkan Allah Swt., dan melaksanakan yang diperintahkan-Nya. Bencana juga bisa merupakan ujian dari Allah Swt., untuk kita bersabar.

Tidak cukup dengan bertaubat dan bersabar, tapi harus ada ikhtiar untuk menghindari, mengobati, dan menghilangkannya. Terkait dengan wabah, Rasulullah saw. memerintahkan kita untuk tidak dekat-dekat atau melihat orang yang mengidap penyakit kusta atau lepra. Dari Ibnu Abbas, Rasulullah saw. bersabda, "Jangan kamu terus menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta." (HR. Bukhari)

Bahkan, Rasulullah saw. bersabda, "Jauhilah penyakit kusta sebagaimana engkau lari dari kejaran singa." (HR. Ahmad)

Rasulullah saw. juga memperingatkan umatnya untuk melakukan isolasi atau lock down dalam istilah sekarang, jika terjadi wabah di satu tempat. Yang dari luar tidak boleh masuk, yang ada di daerah yang terkena wabah dilarang keluar. Rasulullah saw. bersabda, "Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi, jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR. Bukhari)

Bagaimana kesiapan tenaga medis ketika masa kekhilafahan dalam menghadapi virus mematikan?

Pada masa pemerintahan Khalifah al-Muqtadir Billah, sebuah wabah epidemi berskala besar menyerang rakyat yang berada dalam wilayah Abbasiyah. Situasi ini memaksa khalifah membuka rumah sakit di dalam penjara untuk mengobati pasien yang berasal dari kalangan narapidana.

Demi mengatasi epidemi itu, khalifah menunjuk ratusan dokter untuk berkeliling ke desa-desa dengan apotek berjalan, yang nantinya akan melayani dan mengobati orang-orang desa yang sakit.

Ketika ada orang yang tidak mempunyai keahlian dalam bidang medis, memanfaatkan kesempatan itu untuk mencari keuntungan pribadi, maka terjadi kasus malapraktik yang merugikan masyarakat. Kasus ini segera diselesaikan oleh Sinan, Kepala Departemen Kesehatan, diperintahkan oleh khalifah pada 931 M untuk menguji semua dokter lalu memberikan sertifikat kepada mereka yang bisa lulus.

Karena itu, sistem tes kemahiran medis diperkenalkan dan lebih dari 860 orang lulus tes di Baghdad saja dan mulai praktik mereka. Fasilitas medis juga dikirim dan disebar ke daerah yang jauh dari ibukota Abbasiyah. Setidaknya, 34 rumah sakit sudah tersebar di seluruh dunia Islam selama kekhilafahan Abbasiyah pada abad ke-11. (Hospital in Medieval Islam, tt:4)

Khilafah Abbasiyah berhasil menyelesaikan berbagai krisis kesehatan dengan baik. Menyediakan berbagai layanan tanpa biaya. Praktisi medis dibayar tinggi oleh khalifah. Begitu gemilangnya Islam saat itu. Dan Islam akan kembali gemilang sesuai dengan janji Allah Swt. dan kabar gembira dari Rasulullah saw.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top