Oleh : Yuliyati Sambas
Komunitas Penulis Bela Islam AMK

Jika kita perhatikan di sekitar, akan didapati bahwa seseorang menemukan keimanan di dalam lubuk hatinya itu bisa melalui beragam jalan. Ada yang melalui keturunan, melalui pernikahan, lewat perantaraan mimpi, sesudah -sering- mendengan kumandang azan, dan sebagainya.

Dari semua jalan di atas, pada saat keimanan didapat tentu wajib disadari bahwa itu adalah sesuatu yang patut disyukuri.

Ketika sahabat dahulu bertanya terkait keimanan, Rasulullah saw. menjelaskan bahwa keimanan itu terangkum dalam rukun iman,

"... 'Beritahukan kepadaku tentang Iman.' Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, 'Engkau beriman kepada Allah, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, kepada para rasul-Nya, kepada hari Kiamat dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk.' Orang tadi berkata, 'Engkau benar'." (HR. Muslim, no. 8)

Iman adalah sebentuk keyakinan yang dijelaskan dengan gamblang oleh seorang ulama besar Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani sebagai: keyakinan yang disertai pembenaran yang bersifat pasti (tasdiqul jazm), sesuai dengan kenyataan yang muncul dari adanya bukti/dalil.

Keyakinan artinya bahwa iman itu wajib diyakini sepenuh hati. Sementara pembenaran yang bersifat pasti artinya bahwa di dalam keimanan itu tidak boleh ada setitik pun keraguan di dalamnya (meski hanya nol koma sekian persen).

Sesuai dengan kenyaataan diartikan bahwa apa yang diyakini memang sesuatu yang bersifat benar, bukan hoax atau tahayul dan khurafat.

Sedangkan bukti/dalil yang dijadikan penguat dalam membenarkan sebuah keimanan itu bisa berasal dari 2 jenis:

1. Dalil aqli
Yaitu dalil/bukti yang sanggup dijangkau oleh akal manusia selaku makhluk. Dapat diperhatikan dari alam semesta yang ada di sekitar kita. Misalkan ketika memikirkan terkait keberadaan Allah, maka akal akan berfikir bahwa keberadaan alam semesta, manusia juga kehidupan inilah bukti yang dapat dijangkau oleh akalnya. Karena sungguh mustahil adanya makhluk, jika tidak ada Al-Khaliq (Allah Swt.)

2. Dalil naqli
Yaitu dalil yang berasal dari rujukan yang bersifat mutlak kebenarannya. Ia adalah kitabullah Al-Qur'an dan Sunnah Nabi saw. Misalkan pada saat seseorang hendak meyakini kebenaran dan keberadaan malaikat, nabi terdahulu, jin, syurga neraka dan sebagainya.

Kenapa kita membutuhkan Al-Qur'an untuk dirujuk dalam membuktikan proses keimanan? Karena pada kenyataannya ada beberapa keimanan yang tidak dapat dijangkau oleh akal kita yang bersifat terbatas dan lemah. Seperti iman kepada perkara ghaib, kejadian di masa lalu dan masa depan (kematian, hari akhir, syurga neraka dan lain-lain).

Mengapa juga kita memerlukan Sunnah Nabi saw (Hadist) sebagai bukti dalam menjangkau keimanan? Karena sungguh apapun yang disampaikan, dicontohkan, dan ditentukan oleh Nabi Muhammad saw. semuanya berasal dari wahyu Allah juga. Bukan berasal dari hawa nafsu beliau selaku manusia.

Bahwa dipahami oleh kita semua, tanda seseorang itu dipandang telah dewasa adalah sempurnanya pembentukan akal.

Ketika akal manusia telah sempurna maka hal pertama yang wajib ia jalani adalah berfikir. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Imam Syafi'i bahwa kewajiban pertama seorang mukallaf (orang yang dikenai taklif hukum agama) itu adalah berfikir.

"Ketahuilah bahwa kewajiban pertama bagi seorang mukallaf adalah berfikir dan mencari dalil untuk ma'rifat kepada Allah Ta'ala.  Arti berfikir adalah melakukan penalaran dan perenungan kalbu dalam kondisi orang yang berfikir tersebut dituntut untuk ma'rifat kepada Allah. Dengan cara seperti itu, ia bisa sampai kepada ma'rifat terhadap hal-hal yang ghaib dari pengamatannya dengan indra  dan ini merupakan suatu keharusan. Hal ini seperti merupakan suatu kewajiban dalam bidang ushuluddin." (Fiqhul Akbar, Imam Syafi'i  hal. 16)

Memikirkan apa? Memikirkan terkait tiga pertanyaan besar atau al-'uqdatul qubra.

Jika seseorang telah sanggup menjawab tiga pertanyaan besar ini, niscaya terbukalah semua simpul permasalahan kehidupan. Dimana sebelumnya dirasa gelap tak diketahui arah tujuan. Menjadi benderang layaknya seseorang yang telah tersinari cahaya terang.

Dengan memikirkan dan menjawab ketiganya, maka keimanan seseorang akan menjadi kokoh, kuat tidak gampang untuk terbawa oleh ajakan maupun bujuk rayu syaitan atau manusia menuju kesesatan.Wallahu a'lam bi ash-shawab
 
Top