Oleh : Zahra Azzahi
Member AMK

Hari Perempuan Internasional atau International Womens Day (IWD) diperingati setiap tanggal 08 Maret setiap tahunnya. Perayaan Hari Perempuan Internasional dilakukan di berbagai negara dengan cara yang berbeda-beda. Umumnya dilakukan dengan pawai, dan berunjuk rasa, serta berkampanye untuk menyampaikan aspirasi. Di Jawa Barat, Hari Perempuan Internasional diperingati dengan cara menggelar kampanye di depan Gedung Sate. Sebagaimana dilansir IDN Times, Massa yang tergabung dalam Kumpulan Wanoja Ngalawan (KAWAN) yang terdiri dari mahasiswa, ibu rumah tangga, dan buruh perempuan. Secara garis besar mereka mengkampanyekan penghapusan penindasan terhadap perempuan, KDRT, menolak Omnibus law Cipta Kerja, menolak UU Ketahanan keluarga, penghapusan pasal karet UU ITE dan menuntut disahkannya RUU PKS. (IDN Times, 08/03/2020)

Hari Perempuan Internasional telah ada sejak 1908, bermula dari gerakan buruh yang menuntut kerja lebih pendek, upah yang lebih baik, dan hak untuk memilih, yang kemudian diterima oleh PBB. (BBC, 03/03/2020)

Peringatan IWD terus berlanjut, setiap tahunnya perempuan dan kelompok perempuan selalu memperingatinya dengan tema yang berbeda dari esensi yang sama, yaitu kesetaraan gender dan hubungan perempuan dalam berbagai bidang dari mulai sosial, ekonomi, budaya, hingga politik. Apabila melihat sekilas, tuntutan-tuntutan para aktivis adalah sesuatu yang lumrah. Alam Demokrasi kapitalisme memberikan hak kepada siapapun untuk menyuarakan aspirasinya. Kapitalisme memaksa perempuan untuk turut aktif berkiprah di luar rumah dengan berbagai alasan.

Kesetaraan gender semakin nyaring digaungkan karena perempuan merasa dinomorduakan dari laki-laki, merasa geraknya terpenjara karena kodratnya sebagai wanita, merasa direndahkan martabatnya dengan maraknya pelecehan seksual dan merasa ada ketidakadilan terhadap perempuan dalam berbagai bidang. Kaum feminis tak henti-hentinya menyerang budaya, norma, dan aturan agama. Mereka tak segan menyuarakan kebebasan perempuan walau bertentangan dengan ajaran agama, terutama ajaran Islam. Islam dan ajarannya dianggap kuno dan tidak berpihak pada perempuan.

Islam tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan, tidak ada yang lebih rendah atau lebih tinggi dari yang lain kecuali ketakwaannya. Sebagaimana dalam firman Allah Swt.:

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengenal” (TQS. al-Hujurat:13)

Islam menjaga perempuan dan memuliakan perempuan  dengan syariatnya, perempuan mendapatkan hak pemenuhan kebutuhan dari suami, hingga tak perlu lagi menguras tenaga dan membanting tulang untuk mencari nafkah. Perempuan tetap diberikan hak untuk terlibat dalam aktivitas sosial dan bekerja dengan syarat tidak melanggar hukum syara, demi menjaga kehormatannya. Sementara tanggung jawab laki-laki lebih besar lagi yaitu sebagai pemimpin untuk melindungi perempuan dari segala macam bahaya.

Namun, lagi-lagi Kapitalisme dan Sekularisme telah merenggut seluruh hak perempuan sesuai tuntunan syara. Ketersediaan lapangan kerja yang lebih banyak untuk kaum perempuan mau tidak mau mendorong perempuan keluar rumah untuk mencari nafkah. Hal ini pun mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah dengan dibentuknya berbagai program pemberdayaan perempuan. Perempuan dituntut untuk berperan ganda, selain sebagai Ibu Rumah Tangga perempuan juga harus mampu mencari nafkah demi memenuhui kebutuhan keluarga.

Sudah sangat jelas bahwa Islam memuliakan perempuan tanpa harus melakukan gerakan menuntut kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Yang harus dilakukan adalah kembali pada ajaran Islam secara menyeluruh, mengkaji Islam secara lebih mendalam agar tidak gagal paham dan menuduh Islam sebagai agama yang diskriminatif terhadap perempuan. Sehingga tumbuh kesadaran dalam diri setiap perempuan bahwa peran apapun yang dipilihnya adalah upaya untuk menggapai ridha Allah semata. Maka kesejahteraan dan pemenuhan hak-hak perempuan hanya akan terealisasi jika aturan Isam  terapkan dalam seluruh aspek kehidupan, sehingga tercipta masyarakat yang berpola pikir dan pola sikap Islam. Wallahu a’lam bi ash shawab
 
Top