Oleh: Mustika Lestari
Pemerhati Remaja

Betapa memilukan, ketika menyaksikan berita yang disuguhkan media mengenai remaja hari ini. Lagi-lagi bukan karena prestasi gemilangnya, melainkan prestasi bobroknya. Misalnya saja kasus narkoba, seks bebas, pembunuhan dan sebagainya dimana pelakunya adalah para remaja belia.

Dilansir oleh pojoksatu.id (7/3/20), Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes, Heru Novianto, menjelaskan pelaku di bawah umur berinisial NF (14) membunuh teman bermainnya berinisial A (5). Awalnya, pada Kamis (5/3) korban bermain di tempat pelaku (NF) di Sawah Besar, Jakarta Pusat. Keduanya memang bertetangga dan sering bermain bersama.

“Awalnya si pelaku menyuruh korban, dek tolong ambilkan mainan di dalam bak kamar mandi,” tutur Kapolres meniru keterangan pelaku.

Di kamar mandi itu pelaku mengeksekusi sang korban hingga meninggal. Dan sehari setelah membunuh korban, pelaku menyerahkan diri ke Polsek Taman Sari. Kepada polisi, pelaku mengaku alasan ia melakukan perbuatan itu karena terinspirasi pada film yang sering ia tonton.

Sekular-liberalisme, Biang Kerusakan Generasi

Lagi-lagi masyarakat dipusingkan dengan  masalah yang tidak ada habisnya hingga saat ini. Dari masalah politik, ekonomi bahkan keluarga dan generasi. Baru saja negeri ini digegerkan dengan kasus pembunuhan yang dilakukan seorang remaja (15 tahun) terhadap temannya (5 tahun). Tentu, semua orang dibuat tercengang dengan apa yang terjadi pada generasi kita hari ini, sebagai manusia yang sedang mencari pola hidup yang paling sesuai bagi dirinya. Fatalnya, mereka mencoba-coba sesuatu tanpa memfilter baik dan buruknya sesuatu itu.

Sadis! Kiranya kata itulah yang pantas untuk menggambarkan peristiwa pembunuhan kepada balita (5 tahun) oleh seorang gadis remaja, NF (15 tahun) dimana hal ini memang kejadian nyata, bukan fiksi. Dikutip dari m.liputan6.com, terungkapnya kasus ini usai remaja tersebut mendatangi Polsek Taman Sari, pada Kamis, 5 Maret 2020. Aparat kepolisian pun bergerak. Ternyata benar, ditemukan mayat seorang balita yang disimpan NF dalam lemari. Dikabarkan, pelaku melakukan pembunuhan setelah menonton film horor dan terispirasi dari karakter yang bernama Slenderman sebagai tokoh fiksi yang muncul dalam film horor berbalut kekerasan tersebut.

Kasus remaja yang melakukan tindak kriminal pembunuhan di luar nalar bukan terjadi sekali ini saja. Terdapat kasus-kasus lainnya seperti membunuh saudaranya, teman sekelasnya, bahkan orangtuanya. Tak dapat dipungkiri, saat ini kita seringkali dihidangkan dengan tontonan kekerasan yang tidak mendidik, baik dari layar kaca maupun media sosial. Parahnya, tontonan tersebut djadikan tuntunan dalam kehidupan nyata penontonnya. Terlebih bagi remaja yang memiliki segudang rasa penasaran dan keingintahuan yang tinggi.

Memang cukup berat hidup di zaman sekarang. Berbagai kasus tindakan brutal remaja selalu menjadi konsumsi media berita setiap hari. Remaja negeri kini tengah mengalami dekadensi moral yang luar biasa. Dalam kungkungan liberalisme, kerusakan akhlak generasi pelan tapi pasti terjadi. Hal ini tidak terlepas dari kesuksesan penjajahan gaya baru oleh Barat dalam menanamkan paham kebebasan kepada masyarakat, sebagai skenario Global untuk menyuburkan kerusakan akhlak dan menyesatkan generasi Islam.

Atas nama globalisasi, remaja diseret dalam kubangan lumpur liberalisme yang menuhankan kebebasan sehingga meningkatkan gaya hidup bebas berbuat tanpa aturan mengikuti hawa nafsunya. Ditambah lagi dengan cara pandangnya yang sempit dan hedonis menjadikan hal-hal yang negatif itu sebagai hal yang lumrah. Paham kesenangan atau hura-hura dan serba boleh yang ditawarkan cenderung berlomba menikmati kesenangan duniawi tentu saja sangat menarik bagi mereka.

Tak terelakkan bahwa rusaknya moral pemuda saat ini tidak terlepas dari pengaruh globalisasi yang diperkenalkan oleh Barat, salah satunya adalah fenomena bebasnya akses informasi melalui media yang menyediakan berbagai informasi, termasuk tayangan sampah tanpa sensor dari seluruh dunia dengan menyisipkan pola kebebasan tanpa batasan. Keberadaan media dalam sistem kehidupan yang serba bebas ini, tampak memperparah adanya perbuatan dikalangan remaja, bahkan media sengaja dijadikan sebagai alat untuk menyebarkan kebebasan itu sendiri, khususnya kebebasan berekspresi. Ide seperti ini dikampanyekan secara massif dengan berbagai macam cara, baik melalui romantisme film, gaya hedonis para publik figur, kekerasan dan lain sebagainya. Hingga pada akhirnya, semua itu akan menjadi kiblat generasi muda dalam kehidupan nyata mereka.

Ditambah dengan sistem pendidikan yang demikian sekular yaitu agama hanya sebatas formalitas belaka, didominasi transfer materi, tidak ada strategi untuk menjadikan tuntunan agama dipahami dan diamalkan anak didik, sehingga berpengaruh dalam perilaku kesehariannya. Justru, agama dianggap sebagai racun penghambat kemajuan manusia, sehingga generasi yang tumbuh dalam sistem ini menjadi generasi yang jauh dari Ilahi dan tidak takut akan murka-Nya.

Sistem rusak dan merusak sekular-liberalisme yang membangun paradigma memisahkan agama dari kehidupan dan membebaskan siapapun dalam bertindak dan berpendapat, bahkan negara menjamin penganutnya dengan segala bentuk kebebasan tersebut sebagai bagian dari jaminan Hak Asasi  Manusia (HAM), maka wajar jika banyak generasi muda yang berperilaku seenaknya sendiri dengan mottonya “yang penting happy.”

Jika kita melihat kondisi hari ini, mungkin yang kita saksikan dari remaja itu sendiri sangat jauh dari prestasi. Kebanyakan dari mereka lebih memilih menghabiskan masa mudanya dengan jalan maksiat. Semakin lengkap dengan sanksi pidana ala sistem hari ini, yang diberlakukan terhadap pelaku pembunuhan atau tindakan kejahatan lainnya tidak efektif dan tidak memberikan efek jera terhadap pelaku kejahatan.

Dilansir oleh www.tirto.id- Merujuk pada kasus NF, salah satu kebijakan yang digunakan adalah Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) mengatur anak yang berhadapan dengan  hukum. Salah satunya diversi, pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peadilan pidana ke proses di luar peradilan pidana. Komisioner Bidang Anak berhadapan dengan Hukum (ABH) Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Putu Elvina menyatakan kasus pembunuhan merupakan salah satu perkara yang tidak bisa dilakukan diversi.

“ Maka upaya hukum harus mempertimbangkan kepentingan terbaik bagi anak sesuai mandat SPPA,” ucap dia ketika dihubungi Tirto, Senin (9/3/2020).

Menilik kasus ini, lanjut Putu, dengan mempertimbangkan aspek internal maupun eksternal maka anak lebih prioritas untuk dilakukan pengobatan medis maupun psikososial dalam bentuk rehabilitasi.

Ketika agama tidak boleh ikut campur dalam urusan sosial ataupun negara, cukup pada tatanan individu yang mencakup ibadah ritual saja,dampaknya bisa kita lihat hari ini yaitu tatkala Islam yang komperhensif, yang mampu memecahkan segala problematika masyarakat di tolak, sedangkan sistem ala Barat menjadi pegangan maka rusaklah negeri ini.  Hari demi hari permasalahan semakin bertambah, semakin rumit, semakin sulit untuk dipecahkan.

Dengan lemahnya sanksi yang diterapkan  menjadikan negeri ini sebagai lahan empuk bagi tumbuh suburnya benih-benih pembunuh belia sadis berikutnya. Maka persoalan dikalangan anak muda kini tidak cukup hanya menyelesaikan pada tataran sekolah, polisi ataupun psikolog sebab akar masalahnya ada pada hal yang paling mendasar, yakni sistem aturan negara hari ini, sekular-liberalisme. Untuk itu, dakwah digencarkan untuk mewujudkan pemuda yang berakhlak mulia harapan masa depan Bangsa.

Islam, Solusi Tuntas Problem Remaja

Tindak kriminal akan terus tumbuh subur dan tidak akan pernah tuntas dalam sistem sekular-liberalisme. Berbeda halnya dengan Islam yang mempunyai solusi terbaik untuk memberantas kejahatan itu hingga ke akarnya. Dalam pandangan Islam, tidak ada kebebasan secara mutlak sebagaimana liberalisme. Islam melindungi generasi dari kerusakan media dan pergaulan bebas secara kompherensif. Generasi muda dibina dengan Islam hingga terwujud ketaqwaan yang akan membentuk kepribadian Islam.

Sistem Islam dibangun atas tiga pilar penyangga utama yang akan menjamin penjagaan akhlak generasi. Pertama, Islam mengajarkan nilai-nilai tauhid dengan membina ketakwaan masing-masing individu sehingga membentuk manusia berkepribadian Islami. Di dalamnya ada proses mendidik generasi agar memiliki pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah) Islami. Dengan keimanan dan ketaqwaan tersebut, dengan sendirinya mereka mampu membentengi diri mereka dari sikap hedonis dan budaya barat yang mengutamakan hawa nafsu. Kedua, masyarakat yang dibentuk dalam sistem Islam adalah masyarakat aktif melakukan aktivitas amar ma’ruf nahi munkar dan kontrol sosial. Ketika ada indikasi pelanggaran hukum syariat oleh individu, maka masyarakat akan ikut serta mencegah, menasihati, mengingatkan, dan mengoreksi. Dengan demikian, jika ada kasus penyimpangan perilaku atau sejenisnya, maka tidak akan meluas dan tidak dibiarkan semakin parah. Ketiga, sistem Islam memiliki konsep uqubat dan sanksi tegas dalam kasus pelanggaran hukum syariat Islam. Hukum Islam bersifat mengikatdan membuat pelaku jera. Hukum Islam berfungsi sebagai penebus siksa akhirat dan pencegah terjadinya tindak kejahatan yang baru terulang kembali.

Untuk kasus pembunuhan yang disengaja ini, Islam sudah mengaturnya melalui firman Allah SWT:

“Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh.” (QS al-Isra: 33)

Demikian pula, diriwayatkan dari abu Syuraih al-Khaza’iy, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa tertumpah darahnya atau tersakiti, maka ia bisa memilih salah satu dari tiga pilihan, bisa meng-qishash, atau mengambil tebusan, atau memaafkan, jika ingin yang keempat, maka kuasailah dirinya/dibuang." (Imam Abu Dawud)

Islam hadir memelihara dan menyelamatkan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Berdasarkan hal ini, jelas pidana Islam mampu mengurangi atau bahkan menghilangkan perilaku kriminalitas karena sangat efektif menimbulkan efek jera pada pelakunya. Alhasil, tidak akan ada lagi yang tertimpa kasus serupa. Sehingga, generasi-generasi yang lahir dari peradaban Islam adalah generasi gemilang, bukan bobrok.

Lihat saja, Sultan Muhammad Al-Fatih, diusia 22 tahun mampu menaklukan konstantinopel ibukota Byzantium dikala semua Jenderal merasa putus asa. Abu Ali Al-Husein Ibnu Sina, ialah ilmuwan muslim dan filosof besar pada waktu itu, hingga kepadanya diberikan julukan Syeh Al-Rais. Istimewanya, umur 10 tahun sudah hafal Al-qur’an, usia 18 tahun sudah mampu menguasai semua ilmu yang ada pada waktu itu. Bidang keahliannya adalah ilmu Kedokteran, ilmu Fisika, Geologi dan Mineralogi.

Semua itu karena pada masa kejayaan peradaban Islam, remaja-remaja digembleng sejak dini sebagai aset umat. Dimulai dari pendidikan agama yang kuat, dididik untuk menjadi pribadi yang haus ilmu. Cinta pada Al-Qur’an, getol mempelajari, mengamalkan dan megajarkannya. Tujuannya, semata-mata mengharap ridha Allah Swt. Dan Suasana ini hanya akan terwujud jika kehidupan ini berada di bawah naungan sistem khilafah yang menerapkan Islam secara Kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Wallahu a’lam bi ash-shawwab.
 
Top