Oleh : Siti Aisah, S.Pd
Pendidik Generasi dan Member Akademi Menulis Kreatif Regional Subang

Pandemi virus Corona telah ditetapkan oleh WHO (baca: Organisasi Kesehatan Dunia) karena sudah menyebar di berbagai negara. Akhir tahun 2019 virus ini pun melumpuhkan negeri tirai bambu. Selanjutnya, tepat tanggal 3 maret 2020 Presiden Indonesia mengumumkan bahwa ada dua orang yang sudah dinyatakan positif Covid-19 ini. Tak lama setelah itu, kasus ini meningkat tajam. Hingga tulisan ini dibuat setidaknya ada 308 kasus dan 110 orang yang dinyatakan positif, sayangnya 25 orang diantaranya sudah meninggal. Namun perbandingan dengan negara tetangga yaitu Malaysia yang menyatakan 900 kasus dan 110 diantaranya positif, tapi hanya 2 orang saja sudah dinyatakan meninggal. Sedangkan Singapura kasusnya hanya sekitar 345 kasus yang positif 32 namun tidak ada pasien yang dinyatakan meninggal. (worldometer.id, 19/03/2020). Hal ini membuat Indonesia menduduki peringkat pertama di ASEAN yang beresiko terbesar akibat covid-19 ini, setelah Wuhan China yang disinyalir asal virus ini.

Pemkab Subang yang menindak lanjuti adanya Surat Edaran dari Menteri Pendidikan RI Nomor 3 tahun 2020 dan Surat Edaran Gubernur Jabar, Nomor 400/27-HukHam, tentang peningkatan kewaspadaan Virus Covid-19, menggelar Rapat Koordinasi lintas Sektor bersama Forkopimda Kab Subang, di Rumah Dinas Bupati Pemkab Subang, Minggu (15/03/2020). Selanjutnya, Bupati Subang  H. Ruhimat, memerintahkan Dinas Pendidikan Kabupaten Subang, untuk meliburkan Aktivitas Sekolah PAUD/ TK/ SD/MI/SMP/ MTS/ MAN/ SMA/ SMK. Akan tetapi diganti dengan aktifitas belajar di rumah dan meminta kepada seluruh orang tua siswa agar mengawasi dan membimbing anak-anaknya selama 2 pekan, mulai dari tanggal 16 s/d 29 Maret 2020. (telusur.co.id, 16/03/2020)

Virus Corona atau istilah covid-19 ini menjadi buah bibir yang belum habis di masyarakat. Intruksi nasional selama 14 hari yang mengganti KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) di sekolah ditiadakan, dan dialihkan ke KBM online. Hal ini langsung direkomendasikan oleh Presiden. Namun sayangnya, hingga tulisan ini dibuat hanya perkumpulan yang bersifat keagamaan dan pendidikan saja yang menjadi dampak dari covid 19 ini. Walhasil, penundaan Tabligh Akbar, pelarangan shalat berjamaah dan shalat jum’at di masjid raya pun tak terhindarkan dari dampak ini.

Begitu meluasnya, dampak makhluk Allah ini. Sehingga banyak di antara kita yang takut kepadanya tanpa takut kepada yang menciptakan. Virus kecil ini semata-mata adalah makhluk ciptaan Allah Swt, dengan adanya kejadian ini diharapkan kaum muslimin selalu bertawakal dan waspada menjaga diri. Dan tak lupa selalu menjalankan apa-apa sesuai perintah Allah Swt. Semoga hari berkabung ini segera berakhir dan tidak bisa dibiarkan lebih lama lagi.

Tinta emas peradaban islam telah menulis bagaimana sosok pemimpin Umar bin Khattab, Abu Ubaidah bin Al Jarrah, dan Amr bin Ash pada abad ke-18 H di negeri Syam yang telah memberikan teladan bagaimana seharusnya para negarawan bersikap atas musibah yang melanda rakyat. Para negarawan yang betul-betul hadir di garda terdepan dan bersama-sama rakyat menghadapi wabah. Bermufakat demi kemashlahatan rakyat berdasarkan petunjuk Rasulullah (hadis).

Di zaman Nabi, suatu wilayah yang terkena wabah penyakit menular hanya bisa diisolasi. Penghuninya tidak boleh keluar, dan orang dari luar tidak boleh masuk. Penentuan batasan yang belum jelas. Hal ini hanya ditentukan sampai wabah itu benar-benar reda atau hilang. Di masa lalu, wabah tha’un bisa merenggut jutaan jiwa. Sebagian karena penyakitnya langsung. Sebagian lainnya karena kelaparan, akibat berkurangnya pasokan makanan setelah wilayah itu diisolasi.

Perlu diketahui bahwa penyebaran Covid-19 ini sangat cepat. Namun seharusnya tidak disikapi dengan santuy atau stress berlebihan, tapi lebih kepada fokus terhadap apa yang bisa dilakukan. Sebagai seorang muslim menyikapi hal ini dengan cara menjaga agar tidak terkena yaitu dengan cara meningkatkan sistem imun dan iman. Diantaranya dengan cuci tangan secara teratur dan sesering mungkin dengan sabun  atau cairan antiseptik, ibadah ini dalam islam sudah dikenal dengan nama wudhu. Menerapkan social distancing. Yaitu Jaga jarak minimal 1 meter dengan orang batuk atau bersin. Alasannya, ketika seseorang batuk atau bersin, mereka menyemprotkan tetesan cairan kecil dari hidung atau mulut mereka yang mungkin mengandung virus. Jika terlalu dekat, kamu bisa menghirup tetesan air yang mungkin saja mengandung virus COVID-19 [World Health Organization (WHO)]. Islam pun mengajarkan etika bersin, pengucapan hamdalah dan yang mendengar pun tak lantas diam saja, akan tetapi membalas do’a semoga Allah menyayangimu, lalu dibalas doa lagi oleh orang yang bersin. Semoga engkau juga mendapatkan hal yang demikian.

Indahnya ibadah dalam islam, hingga bersin saja islam mengaturnya. Sebagai muslim semestinya bisa optimis sekaligus waspada, karena virus Corona ini  juga menyebar ke negeri-negeri muslim yang lambat mengantisipasi. Namun juga harus bersikap optimis dan meyakini bahwa setiap penyakit, Allah Swt pasti juga menurunkan obatnya. Jikalau islam tegak dalam bentuk negara, sosok pemimpin seperti Umar bin Khattab akan mengintensifkan upaya menemukan vaksin Corona, lalu setelah itu menawari Cina bantuan mengatasi pandemi Corona, selanjutnya kemudian memaksa Cina mengubah politiknya terutama atas muslim Uyghur, sehingga Cina bisa membuka pintu untuk dakwah Islam yang seluas-luasnya.

Wallahu a'lam bi-ashawab
 
Top