Oleh : Indriani Mulyanti, Amd Keb
Bidan Dan Member Akademi Menulis Kreatif

Virus Corona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) adalah virus yang menyerang sistem pernafasan . Corona atau covid-19 penyakit menular berbahaya yang telah banyak menelan ribuan korban jiwa. Wabahnya sudah menyebar dengan cepat menjadi pandemi dunia, mewabah di 192 negara termasuk di Indonesia.  Berdasarkan data Worldmeters, jumlah kasus global per 23 Maret 2020 adalah  342.407 kasus. Dari total kasus tersebut, jumlah kematian mencapai 14.753 kasus, sementara 99.041 kasus di antaranya sembuh.

Kasus Corona pertama resmi diumumkan oleh pemerintah Indonesia tanggal 2 Maret 2020. Saat itu ada dua orang yang dinyatakan postif Corona, berasal dari Depok. Setiap hari kasus Corona bertambah makin tak terkendali,  sehingga pemerintah mengumumkan wabah Corona sebagai bencana nasional.

Dilansir CNNIndonesia.com (23/03/2020) bahwa jumlah pasien positif terinfeksi Virus Corona (Covid-19)  di hari ke-21 adalah 579 orang, korban meninggal 49 orang, dan kasus yang sembuh 30 pasien.
"Jumlah kasus bertambah 65 dari data kemarin. Sehingga total kasus hari ini menjadi 579 orang," ucap juru bicara pemerintah dalam penanganan Corona Achmad Yurianto saat konferensi pers di Jakarta yang disiarkan langsung.
Berdasarkan data terkini dari Pusat Informasi dan Koordinasi Covid-19 Jawa Barat (PIKOBAR JABAR), tanggal 23 Maret 2020 ada 59 orang positif Corona, 5 orang sembuh dan 9 orang meninggal. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyatakan ada tujuh daerah yang termasuk zona merah penyebaran Corona/ Covid-19 yaitu Kota Depok, Kota Bekasi, Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kabupaten Cirebon, Kota Bandung, dan Kabupaten Bandung.
Dengan penularan Corona yang sangat cepat, maka pemerintah menganjurkan masyarakat untuk diam di rumah, melakukan social distancing (jaga jarak dengan orang sakit) dan menghindari keramaian. Salah satu langkah yang diambil pemerintah adalah meliburkan sekolah selama dua pekan, dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan surat edaran berupa fatwa penyelenggaraan ibadah saat pandemi virus corona atau covid-19.
Ironisnya di tengah wabah Corona, serta  himbauan dari pemerintah agar masyarakat beraktifitas di rumah saja, masih banyak rakyat yang beraktifitas seperti biasa di luar rumah tanpa memakai Alat Perlindungan Diri (APD).

Dilansir galamedianews.com (23/03/2020) bahwa ribuan buruh pabrik tekstil dan garmen di Kabupaten Bandung hingga Selasa (17/3/2020) masih tetap bekerja di tengah penyebaran ancaman virus Corona atau Covid-19. Pelayanan publik di desa-desa dan kecamatan di wilayah Bandung Timur berjalan normal tak ada hambatan atau tak terganggu, masyarakat berdatangan ke kantor-kantor desa, kecamatan dan kantor polisi. Termasuk ke puskesmas. Banyak masyarakat yang terpaksa tetap bekerja di luar rumah demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Ketika ditanya mengapa mereka tetap nekat bekerja keluar rumah di tengah wabah? Jawabannya membuat miris "lebih baik mati di luar rumah saat mencari nafkah, daripada diam di rumah, sekeluarga mati kelaparan". Padahal mereka sangat beresiko terkena Corona , sebab wabah Corona merupakan penyakit menular yang bisa menginfeksi siapapun hanya dalam hitungan menit. Setelah ditelusuri mereka sangat ingin diam di rumah menghindari wabah, tapi ada kebutuhan pokok keluarga yang harus tetap terpenuhi. Khususnya Di Jawa Barat hingga kini belum ada himbauan dari penguasa kepada para perusahaan untuk meliburkan para buruh pabrik.

Kasus Covid-19 tidak boleh kita anggap sepele. Karena jika seseorang terkena penyakit ini dan tidak mendapatkan perawatan medis yang intensif, jiwa orang tersebut akan melayang hanya dalam hitungan hari. Jadi setiap warga negara harus berikhtiar semaksimal mungkin untuk tidak terpapar oleh virus ini.

Adapun negara bertanggung jawab untuk melindungi setiap nyawa rakyatnya. Mengatasi wabah ini dengan cepat dan cara yang paling efektif.
Upaya Pemerintah dalam menanggulangi wabah dilakukan sebagai berikut:

1. Melakukan tes masif covid-19. Pemerintah memilih untuk melakukan tes masif covid-19 untuk mengendalikan wabah ini. Tes ini bertujuan mencari peta persebaran COVID-19 dan memutus rantai penyebaran agar bisa dilakukan tindak lanjut medis. Sayangnya tes ini tidak untuk seluruh warga, hanya dilakukakan untuk kalangan memiliki resiko tinggi, di antaranya: pertama, Kategori A yakni masyarakat dengan risiko tertular paling tinggi seperti Orang Dalam Pemantauan (ODP) yang baru tiba dari luar negeri, Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dan keluarga, tetangga, dan temannya, serta petugas kesehatan di rumah sakit yang menangani COVID-19.
Kedua, kategori B yaitu masyarakat dengan profesi yang interaksi sosialnya rawan tertular.
Ketiga, Kategori C meliputi masyarakat luas yang memiliki gejala sakit yang diduga penyakit COVID-19.

2. Himbauan Social Distancing/Physical Distancing.
Social distancing  atau menjaga jarak adalah serangkaian tindakan pengendalian infeksi nonfarmasi yang dimaksudkan untuk menghentikan atau memperlambat penyebaran penyakit menular. Tujuan dari pembatasan sosial adalah untuk mengurangi kemungkinan kontak antara orang terinfeksi dan orang lain yang tidak terinfeksi. Sehingga dapat meminimalkan penularan penyakit, morbiditas, dan terutama, kematian.

3. Menyiapkan obat-obatan
Presiden Joko Widodo mengumumkan akan membeli dua jenis obat untuk menangani wabah virus Corona Covid-19 di Indonesia. Obat bernama Avigan dan Kloroquin disebut bermanfaat untuk menyembuhkan pasien Covid-19.
Avigan merupakan obat antivirus yang dikembangkan oleh Toyama Chemical of Japan demi melawan banyak virus RNA. Pada Februari 2020, obat ini dipakai oleh Tiongkok untuk pengobatan eksperimental COVID-19.
Sementara kloroquin adalah obat yang sudah ada di Indonesia yang biasa digunakan sebagai obat malaria. Kloroquin dianggap sebagai obat yang dipercaya mampu menyembuhkan pasien COVID-19. Di Indonesia obat itu telah diproduksi secara massal oleh PT Kimia Farma.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien yang menerima obat ditetapkan negatif dalam waktu yang relatif singkat, selain itu gejala pneumonia juga sangat berkurang. Kedua obat tersebut digunakan untuk mengobati pasien yang sudah positif terkena covid-19. Bukan obat untuk mencegah virus Corona.

4. Menyediakan Rumah Sakit Darurat Penanganan Corona Covid-19. Presiden Joko Widodo atau Jokowi meresmikan Wisma Atlet Kemayoran menjadi Rumah Sakit Darurat Penanganan Corona Covid-19 pada hari Senin, 23 Maret 2020. RS Darurat COVID-19 untuk pasien positif virus Corona yang sakit ringan. Hal itu dilakukan agar rumah sakit rujukan Corona bisa fokus untuk menangani pasien COVID-19 yang kondisinya berat.
Dari 10 tower di Wisma Atlet Kemayoran, Kementerian PUPR menyiapkan 4 tower untuk RS Darurat yakni tower 1, 3, 6 dan 7 yang semuanya berada di Blok D10. Tower 6 secara utuh mulai lantai 1 hingga 24 akan digunakan sebagai ruang rawat inap pasien. Kapasitas yang tersedia adalah 650 unit dan dapat menampung 1.750 orang. Satu kamar diperkirakan dapat menampung dua hingga tiga orang pasien.

Dari semua langkah penanggulangan wabah Corona yang telah ditetapkan, pemerintah berharap bisa menekan kasus penyebaran  corona. Namun di lapangan penambahan kasus Corona terus meroket, setiap hari bertambah sekitar 60-70kasus. Kematian akibat virus corona di Indonesia lebih tinggi ketimbang Italia. Di Italia tingkat kematian akibat Corona 9,25% sedangkan di Indonesia mencapai 9,33%. Lalu bagaimana Islam mencegah dan mengatasi wabah penyakit menular?

Solusi Islam Mengatasi Wabah
Di bidang preventif/pencegahan:

1. Menjaga makanan halal dan toyyib (baik) merupakan dua kriteria yang harus dipenuhi oleh seorang muslim ketika memilih makanan, dan kaum muslimin dilarang berlebih-lebihan dalam memenuhi rasa laparnya. Selain memastikan makanan itu halal dan layak untuk dimakan, makanan yang  dikonsumsi pun tidak boleh yang dapt menimbulkan madharat terhadap tubuh. Maka hewan seperti tikus, ular, kelelawar, buaya, dan lainnya sangat dilarang untuk dikonsumsi karena tidak layak untuk dimakan. Allah Swt. memerintahkan kaum muslim untuk mencukupkan diri dengan mengonsumsi makanan halal dan toyyib saja. Allah Swt. telah berfirman:

فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا

"Makanlah oleh kalian rezeki yang halal lagi baik yang telah Allah karuniakan kepada kalian." (TQS an-Nahl [16]: 114)

2. Menjaga kebersihan.
Islam adalah agama yang sangat menjaga kebersihan. Setiap muslim harus senantiasa menjaga dirinya dan lingkungan selalu bersih. Karena jika kotor akan sangat mudah mengundang wabah penyakit. kaum muslim dianjurkan untuk mejaga wudhu, bersiwak, mandi, bercukur,dan lain-lain. Tujuannya agar umat manusia menjadi orang yang sehat dan kuat. Rasulullah Saw bersabda:

“Seorang mukmin yang kuat (fisik, mental, jiwa, dan raga) lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan.” (HR Muslim)

3. Pola hidup sehat ala Rasulullah
Rasulullah saw. memberikan suri teladan yang baik dalam semua aspek kehidupan, termasuk dalam di bidang kesehatan. Beliau terbiasa menjalankan pola hidup sehat sehingga memiliki daya tahan tubuh yang kuat, dan  jarang sakit.

Berikut ini beberapa tips pola sehat yang dilakukan Rasulullah saw. agar stamina tubuh tetap prima, yaitu: sering shaum, tidak bergadang (melainkan biasakan tidur lebih awal dan cepat bangun), rajin olahraga, gemar berjalan kaki, tidak mudah marah, menjaga pola makan, dan menjaga kebersihan.

Di bidang kuratif/pengobatan, dilakukan dengan jalan:

1. Metode karantina ketika ada wabah.
Rasulullah juga pernah memperingatkan umatnya untuk jangan mendekati wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya, jika sedang berada di tempat yang terkena wabah, mereka dilarang untuk keluar. Beliau bersabda:

“Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah tersebut. Sebaliknya jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu” (HR. Al-Bukhari).

Pada masa Khalifah Umar bin Khatab juga pernah terjadi wabah penyakit menular Thaun (PES) di Syam. Lalu Khalifah Umar memberlakukan lockdown/karantina sesuai dengan hadis di atas.

Itulah metode karantina yang sudah terbukti bisa mencegah penyebaran wabah penyakit menular agar tidak semakin meluas. Mencegah orang sakit dalam waktu yang bersamaan sehingga setiap orang sakit memungkinkan untuk mendapatkan perawatan yang memadai.

Pada kasus Corona yang sudah menjadi PANDEMI (wabah global) maka lockdown harus segera diterapkan. Sesuai isi hadis, jangan memasuki wilayah pandemi. Jangan juga keluar dari sana, kecuali untuk berobat. Jelas, dan tegas. Selama masa karantina negara  wajib memenuhi semua kebutuhan rakyatnya, baik kebutuhan pangan, fasilitas kesehatan, dan menjamin keamanan semua petuga kesehatan selama bertugas.

2. Negara menjadi garda terdepan menanggulangi wabah. Negara sebagai pelindung rakyat, harus menjadi perisai menangkal semua marabahaya. Ketika ada wabah yang menyebar di suatu wilayah maka pemerintah harus gerak cepat mengambil keputusan. Jangan sampai lambatnya pemerintah dalam mengambil kebijakan, membuat rakyat menjadi korban. Karena menyelamatkan satu nyawa rakyat , jauh lebih berharga dari apapun.
Nabi Muhammad saw. bersabda:

لزوال الدنيا أهون عند الله من قتل المرء المسلم

“Hilangnya dunia lebih ringan bagi Allah, ketimbang terbunuhnya nyawa seorang Muslim.” (al-hadis)

Hadirnya pemerintah adalah untuk melayani rakyat. Sungguh sangat zalim jika di saat wabah merebak, penguasa justru lalai dalam tugasnya. Malah memberi kesan bahwa rakyat harus mandiri mengurus semua kebutuhannya sendiri. Untuk mengatasi wabah tidak bisa dilakukan secara individu atau lembaga masyarakat semata. Tapi perlu peran dari pemerintah yang memberikan satu komando. Sehingga seluruh elemen masyarakat dan aparatur pemerintah saling bahu membahu melawan corona. Semoga wabah ini segera berakhir di tanah air dan di seluruh penjuru dunia. Aamiin.
Wallahu'alam bishshawab
 
Top