Oleh : Sumiati 
Praktisi Pendidikan dan Member Akademi Menulis Kreatif 


Dilansir oleh Rmol, 21/03/2020. Pemerintah Kabupaten Bandung memiliki agenda yang berat di tengah wabah virus corona (Covid-19). Pasalnya, ada 7 kecamatan di Kabupaten Bandung yang kembali dikepung banjir akibat luapan Sungai Citarum. Tujuh kecamatan yang terdampak banjir tersebut adalah Dayeuhkolot, Baleendah, Bojongsoang, Majalaya, Banjaran, Katapang, dan Soreang. “Sesuai dengan catatan tim Pusdalops, di Kecamatan Dayeuhkolot banjir menimpa tiga titik. Yakni Desa Dayeuhkolot, Citeureup, dan Kelurahan Pasawahan,” ujar Erlangga, dikutip Kantor Berita Rmol Jabar, Sabtu (21/03/20020).

Sementara itu, di Kecamatan Baleendah banjir menimpa Kelurahan Andir dan Baleendah. Lalu di Kecamatan Bojongsoang menerjang Desa Bojongsoang, Bojongsari, dan Tegal Luar. “Di Kecamatan Majalaya, bencana banjir ini melanda Desa Sukamanah dan Sangiang, di Banjaran melanda Desa Kamasan, di Katapang melanda Desa Cilampeni, dan di Kecamatan Soreang melanda Desa Cingcin,” tuturnya.

Selain menimpa pemukiman penduduk, lanjut Erlangga, banjir luapan Sungai Citarum tersebut juga ikut merendam beberapa ruas jalan utama di wilayah Kabupaten Bandung. “Beberapa titik ruas jalan itu Jalan Raya Banjaran-Dayeuhkolot, Jalan Raya Ciparay-Dayeuhkolot, Jalan Andir-Katapang, Jalan Raya Metro (M Toha), dan Jalan Majalaya," tegas Erlangga.

Setiap yang menimpa kepada manusia pasti sudah ditetapkan oleh Allah. Begitu pun dengan wabah corona dan banjir yang beriringan datangnya. Jika ada di antara manusia mengeluhkan hal ini, seharusnya yang dilakukan tafakur. Adakah kelalaian dari manusia dalam hidup? Bukan mengeluh dan menyalahkan kondisi yang ada. Terlebih dengan virus corona yang datang dari hewan yang dimakan oleh manusia, sehingga virusnya menyebar kemana-mana. Manusia wajib merenunginya, kemudian mengambil ibrah agar tidak melakukan perbuatan yang Allah Swt. larang.

Begitu pun dengan banjir, tidak semata-mata banjir, jika manusia hidup sesuai aturan Allah Swt. Memberi ruang atau lahan serapan air, tidak membuang sampah sembarangan, tidak mendirikan bangunan di daerah serapan air, tidak menggunduli gunung dan lain-lain. Namun kenyataannya semua dilanggar oleh manusia hingga bencana pun tiba. Keumuman manusia tidak ingin ada bencana, tetapi mengikuti aturan Allah Swt. tidak mau. Inilah yang tidak mungkin terjadi. Karena hidup yang benar adalah sesuai dengan fitrah, baik beragama maupun menjalani kehidupan.

Satu pelajaran berharga dari sahabat Nabi ketika ada wabah. Abu Ubaidah Al-Jarrah adalah kepercayaan Nabi dalam memegang amanah, wafatnya karena tha’un yang sebelumnya sudah diminta oleh Umar untuk keluar dari Amwas, tetapi menolak dan tetap di Amwas dan menasihati manusia agar tetap tinggal seraya memberi kabar gembira bahwa tha'un adalah rahmat untuk kalian, setelah wafatnya digantikan oleh Muadz bin Jabal.

Muadz bin Jabal, pemimpinnya alim ulama pada hari kiamat nanti, yang paling paham akan halal dan haram, juga wafat karena thaun ini. Syurahbil bin Hasanah yang menaklukkan Damaskus juga wafat karena tha'un ini. (al-Bidayah wa an-Nihayah)

Amr bin Ash pun tinggal di Amwas, setelah wafatnya Mu'adz bin Jabal beliau meminta orang-orang tidak berkumpul dahulu dan berpisah-pisah, sehingga Allah angkat wabah ini.

Mereka yang disebutkan di atas adalah orang-orang saleh, para alim yang bisa jadi amal salehnya jauh di bawah mereka. Namun ketika menghadapi permasalahan wabah tetap tidak lalai dan menyepelekan, karena kaitannya dengan jiwa diri dan orang lain.

Seharusnya, dibedakan antara masalah akidah/keimanan kepada Allah dan kewajiban ikhtiar, keduanya sama wajib, akan tetapi berbeda masalahnya, sehingga membutuhkan pendalaman pemahaman yang utuh dan mendalam. Sehingga, nanti  tidak mati "konyol" karena salah mengambil sikap. Sakit memang betul dari Allah, kita makhluk Allah dan corona pun sama makhluk Allah. Islam membedakan wilayah keimanan dengan wilayah ikhtiar.

Yang terakhir adalah  doa dan dzikir yang dapat dimunajatkan kepada Allah Swt. :

سورة الفاتحة   
المعوذات (سورة الإخلاص وسورة الفلق وسورة الناس)

اَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ اَلَّذِى لاَ اِلَهَ اِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّوْمُ وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ

“Aku memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung,  tiada Tuhan selain Dia yang hidup kekal serta terus menerus mengurus (makhluk); dan aku bertobat kepada-Nya.” 

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“(Aku berlindung) dengan Nama Allah yang bersama nama-Nya tidak ada sesuatu di bumi dan di langit yang bisa membahayakan. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” 

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

"Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakan-Nya."

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ، وَالْجُنُونِ، وَالْجُذَامِ، وَمِنْ سَيِّئِ الأَسْقَامِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit sopak, gila, kusta, dan dari segala penyakit yang buruk/mengerikan lainnya."

اللَّهُمَّ إِنِّي اعوذ بِاللَّهِ مِنْ جَهْدِ الْبَلاَءِ ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ ، وَسُوءِ الْقَضَاءِ ، وَشَمَاتَةِ الأَعْدَاءِ

"Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari beratnya musibah yang tidak mampu ditanggung, dari datangnya sebab-sebab kebinasaan, dari buruknya akibat apa yang telah ditakdirkan, dan gembiranya musuh atas penderitaan yang menimpa."

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya kenikmatan yang telah Engkau berikan, dari berubahnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan, dari siksa-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan dari segala kemurkaan-Mu."

Wallaahu a'lam bishshawab.
 
Top