Oleh Ati Solihati, S.TP (Pemerhati masalah sosial dan member Revowriter)

 Hadits Riwayat Abu Hurairoh Ra berkata, Rasulullaah SAW bersabda :
“Sesungguhnyalah seorang pemimpin itu merupakan perisai, rakyat akan berperang di belakang serta berlindung dengannya”.

     Makna Imam (pemimpin) adalah perisai, maksudnya seperti sesuatu yang digunakan untuk berlindung. Dikatakan demikian karena seorang imam (pemimpin) akan berperan di garda terdepan dalam mencegah serangan musuh yang mengganggu kaum muslimin. Akan berperan dalam menghalangi kedzoliman dari suatu pihak kepada pihak lain. Akan menjaga kemuliaan Islam, dan masyarakat merasa aman untuk berlindung kepadanya, sekaligus juga merasa hormat dengan kewibawaan kekuasaannya.

     Namun saat ini Sang Perisai itu tidak ada. Sudah 96 tahun berlangsung, sejak runtuhnya Khilafah Islamiyah, Turki Utsmani, institusi yang telah menjadi perisai Islam dan kaum muslimin, selama kurang lebih 14 abad, pada tanggal 3 Maret 1924. Sejak saat itu, kaum muslimin hidup tanpa Imam, Sang Perisai. Tahun demi tahun, hari demi hari, kehidupan kaum muslimin semakin terpuruk, teraniaya, dan terdzolimi. Kehidupan kaum muslimin telah dirampas. Hak hidup aman, sebagai hak yang paling asasi bagi seorang manusia, telah dirampas.

     Masih lekat dalam ingatan kita, penderitaan mengenaskan yang dialami saudara-saudara kita, muslim Rohingya, yang mengalami beragam penganiayaan, hanya karena mereka merupakan kelompok minoritas muslim di Myanmar.

     Demikian juga, masih terngiang dalam telinga kita, jeritan pilu menyayat hati, dari saudara-saudara muslim kita di Uyghur, Cina. Pemerintah China secara sistemik, berniat menghapus keberadaan kaum muslimin di Uighur. Saudara-saudara kita disana, hanya memiliki dua pilihan, melepaskan keimanannya dan menjadi atheis atau dibunuh.

     Tidak jauh berbeda dengan yang dialami saudara-saudara muslim di Myanmar dan China, sekarang saudara-saudara muslim di India pun mengalami hal yang sama. Sedang panas terjadi, kerusuhan yang di New Delhi, India, berupa pembakaran masjid dan rumah-rumah warga muslim, dan tindakan kekerasan terhadap warga muslim di sana. Kerusuhan ini sendiri, dipicu oleh Undang-Undang Kewarganegaraan di Timur Delhi, yang meminggirkan warga Muslim, dan sebaliknya lebih berpihak kepada warga non muslim. Informasi terakhir, kerusuhan tersebut telah menyebabkan gugurnya 38 warga muslim.

     Demikianlah, karena tanpa Imam, Sang Perisai, kaum muslimin di berbagai belahan bumi, terlebih lagi ketika dalam bilangan minoritas, senantiasa menjadi obyek penderita. Tidak memiliki wibawa, bergaining, apalagi kekuatan. Orang-orang kafir merasa leluasa melakukakan penganiayaan demi penganiayaan. Pembantaian demi pembantaian. Karena mereka tahu, bahwa kebiadaban mereka, walaupun mungkin sesaat memunculkan kecaman dari warga dunia, tapi hanya sesaat saja. Setelah itu dunia akan diam, menutup mata dan telinga terhadap rintihan warga muslim tersebut. Riwayat mereka pun terlupakan sudah.

    Tanpa Imam, Sang Perisai, kaum muslimin dirampas hak kebebasannya untuk hidup. Hal itu menimpa mereka, hanya karena mereka muslim. Di negeri yang kita cinta ini, sekalipun tidak mengalami kebiadaban secara fisik, seperti yang dialami saudara-saudara kita di belahan bumi lain, yang merampas hak hidup, tapi kita juga mengalami perampasan, dalam bentuk lain. Sumber Daya Alam negeri kita yang melimpah ruah, telah dirampas. Hampir tidak ada lagi yang tersisa yang bisa dinikmati rakyat. Selain itu, kita pun mengalami perampasan non fisik. Di negeri dengan jumlah muslim mayoritas ini, hal yang paling asasi dalam diri kita, yaitu cara pandang kita yang hakiki tentang kehidupan telah dirampas.

     Musuh-musuh Islam terus berupaya menyimpangkan pola berpikir umat yang lurus, sehingga menyelisihi pedoman hidupnya, yaitu Kitabullaah dan sunnah RasulNya. Perampasan jenis ini jauh lebih berbahaya dari pada perampasan yang bersifat fisik. Serangannya tidak kentara. Hanya orang-orang yang terbiasa berpikir cemerlang, yang senantiasa pola pikirnya distandarkan kepada ideologi Islam, yang memiliki kepekaan terhadap serangan ini beserta bahayanya.

     Pola pikir seseorang tidak terlepas dari apa yang menjadi landasan cara pandangnya tentang hakikat kehidupan. Cara pandang ini yang dikenal dengan mabda (ideologi). Setelah Uni Sovyet, yang menjadi representasi ideologi komunisme, runtuh, saat ini yang menonjol tinggal dua ideologi, yaitu yang pertama ideologi Kapitalisme, yang diusung oleh negara adidaya saat ini, yaitu Amerika Serikat beserta sekutunya, dan diamini oleh sebagian besar negara, termasuk negeri-negeri muslim. Saat ini, ideologi Kapitalisme pun mendapat perlindungan dari lembaga-lembaga internasional, yang keberadaanya bagai perisai dan penjaga kelanggengan hegemoni ideologi ini di muka bumi.

     Yang kedua, ideologi Islam. Sekalipun ideologi Islam pernah menjadi mercusuar dunia selama hampir 14 abad, dan menguasai 2/3 bumi, namun semenjak keruntuhannya tanggal 3 maret 1924, tidak ada lagi negara yang mengemban ideologi Islam. Sehingga, kaum muslimin kehilangan perisai, penjaga, dan pelindungnya. Tidak nampak lagi kemuliaan dan kewibawaan Islam, yang selama 14 abad lalu membuat musuh-musuh Islam tidak berani mengusik kaum muslimin.

     Bahkan tatanan kehidupan Islam saat itu menjadi raw model kehidupan masyarakat dunia. Peradaban yang agung dan mulia telah menorehkan tinta emas dalam sejarah peradaban umat manusia. Peradaban yang maju dari segi sains dan teknologi. Peradaban yang menganugerahkan kesejahteraan bagi kehidupan umat manusia dan seisi alam. Peradaban yang berlimpah kemuliaan dan keberkahan dari langit dan bumi. Sebuah capaian yang tiada bandingannya.

     Namun ketika perisai itu tidak ada, kaum muslimin pun kehilangan kemuliaannya. Derita kaum muslimin pun tak pernah usai. Derita fisik maupun non fisik.

     Secara non fisik, pemikiran kaum muslimin mulai diracuni dengan pemikiran yang berasaskan sekulerisme. Aturan Allah dan RasulNya tidak boleh dipakai untuk mengatur kehidupan. Hak Allah dan RasulNya dikebiri, hanya di wilayah ibadah saja. Pemahaman-pemahaman Islam dikaburkan dari pemahamannya yang hakiki.

     Mereka berupaya menampilkan wajah Islam menurut versinya, seperti Islam inklusif, tidak eksklusif. Islam yang menghormati keragaman (pluralisme). Islam yang toleran, tidak radikal. Islam dengan kearifan lokal, Islam nusantara, bukan Arabisme.

     Fenomena penyimpangan ini semakin marak. Gelombang hijrah dari kalangan milenial akhir-akhir ini, telah membuat gerah musuh-musuh Islam. Terlebih lagi menyaksikan maraknya generasi milenial yang berhijab syar’i, dipandangnya sebagai kemunduran taraf berfikir, yang dikuasai oleh Arabisme yang mengekang kehidupan wanita. Sehingga mereka membuat event No Hijab Day.

     Pluralisme yang mereka anut, telah menghantarkan mereka sebagai pihak pembela kaum pelangi (baca: el ge be te). Pemahaman yang keliru tentang radikal, membuat mereka berani menolak konsep khilafah dan jihad, dan memandangnya sebagai ajaran kriminal.

     Islam yang berkearifan lokal, menelurkan ide lugu, mengganti ucapan salam nya umat Islam dengan salam Pancasila.

     Pemikiran-pemikiran yang berupaya meliberalkan syariat Islam ini, sangatlah berbahaya. Upaya ini bermaksud mereduksi bahkan mengebiri Syariat Islam. Syariat Islam yang semestinya diterapkan secara kaffah dalam semua aspek kehidupan, dikebiri hanya boleh mengatur masalah ibadah saja. Pluralisme akan mengantarkan pada pemahaman bahwa semua agama benar. Sehingga bisa membuat seorang muslim meragukan keimanannya terhadap islam. Label Islam radikal dan Islam moderat, bisa memunculkan perpecahan di kalangan kaum muslimin, yang sejatinya kaum muslimin itu merupakan kesatuan yang utuh.

     Demikianlah, ketika kaum muslimin tanpa perisai, kaum muslimin diserang dari berbagai penjuru kehidupan. Musuh-musuh Islam, dengan beragam cara, terus berupaya memadamkan cahaya agama Allah. Dan kita tidak boleh membiarkannya. Kita harus lebih berupaya dalam menangkal makarnya mereka. Dengan terus berdakwah di tengah-tengah umat. Meluruskan segala kekeliruan pemahaman yang ada. Menjelaskan Islam yang kaffah. Menumbuhkan kerinduan sekaligus kesadaran akan kewajiban untuk menegakkan kembali Institusi Islam yang telah hilang. Agar cahaya Islam kembali menjadi mercusuar peradaban umat manusia di muka bumi ini.

     Musuh-musuh Islam telah berupaya keras memadamkan cahaya agama Allah. Maka kita harus berupaya lebih keras lagi menyempurnakan cahaya agamaNya. Karena kita berjalan di atas jalan kebenaran. Dan berada pada jalan yang secara pasti akan meraih kemenangan.

     Sebagaimana firman Allah SWT :
"Mereka hendak memadamkan cahaya agama Allah dengan mulut-mulut mereka. Namun Allah tidak menghendaki kecuali Dia ingin menyempurnakan cahaya agamaNya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukainya. Dia lah yang telah mengutus Rasul Nya dengan petunjuk dan agama yang benar, untuk dimenangkan di atas agama-agama yang lain semuanya. Sekalipun orang-orang musyrik tidak menyukainya" . (QS At Taubah: 32-33).

Tangerang, 2 Maret 2020
 
Top