Oleh : Luluk Kiftiyah 
Member Akademi Menulis Kreatif

Virus covid-19 sudah ditetapkan menjadi Pandemi oleh WHO (World Health Organization) sejak maret 2020. WHO menetapkan pandemi covid-19 setelah penyebaran virus itu mencapai ke 114 negara. Hingga kini tercatat sudah menyebar ke 169 negara.

Di Indonesia sendiri, berdasarkan keterangan juru bicara pemerintah,  Achmad Yurianto, "Angka positif covid-19 pada Senin (16/3) adalah 134 kasus". (detiknews/18/3/20)

Setiap harinya mengalami peningkatan yang signifikan, hingga kini tercatat per tanggal 24 maret ada 686 kasus positif virus covid-19, 30 orang sembuh dan yang meninggal 55 orang.

Deputi V BIN Afini Boer mengungkap permodelan yang dibuat pemerintah terkait penyebaran virus covid-19. Puncak penyebaran infeksi virus tersebut diprediksi terjadi pada bulan Mei atau saat memasuki bulan Ramadhan.

Penyebaran covid-19 begitu mudah dan cepat, bisa lewat komputer, hp, laptop, pegangan pintu, pegangan tangga, mesin ATM, balpoin, uang, baju, dan bisa juga lewat udara. Untuk mengetahui seseorang terinfeksi atau tidak, membutuhkan waktu sekitar 14 hari. Karena itu butuh penanganan yang serius agar tidak berakibat fatal.

Namun fakta dilapangan sangat di sayangkan,  karena kurang tegasnya pemerintah dalam menjalankan kebijakkannya, yang sampai detik ini bandara di kendari masih dibuka dengan dalih TKA dari Cina adalah pekerja di Indonesia yang baru kembali. Padahal berdasarkan kesaksian dari beberapa warga setempat, mereka adalah pendatang baru, wajah-wajah baru.

Lagi-lagi rakyat dibuat kecewa dengan kebijakannya para penguasa. Seolah pemerintah kurang serius  dalam menangani wabah covid-19 ini. Ketika nyawa rakyat menjadi taruhannya, pemerintah malah itung-itungan soal untung rugi jika harus menutup TKA ke Indonesia. Rakyat dihimbau untuk tidak panik berhadapan dengan virus yang kasat mata ini, tetapi disisi lain mereka membuka lebar-lebar TKA dari Cina masuk ke Indonesia. Hal ini tentu sangat disayangkan.

Ditengah wabah covid-19 ini umat sedang diuji keimanannya. Virus covid-19 juga makhluk Allah, atas seizinnya Wabah ini ada. Dari musibah ini seharusnya bermuhasabah bahwa mudah bagi Allah untuk memporak-porandakan suatu negeri sebagai peringatan agar manusia bertakwa.

Umat dihadapkan pada wabah yang tak terlihat oleh kasat mata. Makhluk kecil yang mematikan, sehingga membuat seisi bumi ketakutan. Senjata, kekuasaan, dan kesombongan bertekuk lutut, lumpuh dihadapan kekuasaan Allah.
Saat kesombongan pada puncaknya, saat itu pula Allah hancurkan, memang begitulah sunatullahnya. Agar mereka berpikir.

Semua berlomba-lomba untuk menemukan vaksin covid-19. Terutama negara besar seperti Amerika Serikat, Jepang dan Cina. Namun belum juga menemukan titik terangnya. Saat ini yang bisa dilakukan hanyalah berikhtiar agar terhindar dari penyakit yang mengerikan.

Karena saat manusia tak mampu, hanya Allah Maha menyembuhkan, hanya Allah yang bisa mengangkat wabah ini. Seperti firman Allah SWT.

شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. ( TQS. Al Isra' : 82)

Sebagai muslim, di wajibkan ikhtiar dengan memperbanyak doa dan zikir. Berikut do'anya :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ، وَالْجُنُونِ، وَالْجُذَامِ، وَمِنْ سَيِّئِ الأَسْقَامِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit sopak, gila, kusta, dan dari segala penyakit yang buruk/mengerikan lainnya.

Islam sebagai ideologi sekaligus solusi telah mengajarkan pada masa Rasulullah, terjadi wabah yang menular dan mematikan, yaitu kusta.
Rasulullah menerapkan karantina atau isolasi pada penderita. Saat itu Rasulullah memerintahkan agar tidak dekat-dekat atau melihat para penderita kusta agar tak tertular.

Begitupun yang dicontohkan pada jaman sahabat Umar bin Khattab ra, bersama sahabatnya berjalan dari Madinah ke Syam. Saat diperbatasan mereka mendengar kabar bahwa negeri itu sedang dilanda wabah Tha'un. Sebuah penyakit menular, mengalami benjolan diseluruh tubuh kemudian pecah dan mengakibatkan pendarahan.

Umar meminta pendapat dari para sahabat Muhajirin dan Anshor, namun keduanya masih berbeda pendapat dan pandangan.

Akhirnya Umar meminta untuk memanggil para pembesar Quraisy yang berhijrah di masa pembebasan Makkah. Ternyata, tidak ada yang berdebat, kecuali dua orang saja, sehingga tampak ada jalan terang.

"Menurut kami, engkau harus mengevakuasi orang-orang itu, dan jangan biarkan mereka mendatangi wabah ini," kata salah seorang pembesar Quraisy.

Umar bin Khattab lalu memutuskan untuk kembali ke Madinah.

"Wahai Amirul Mukminin, apakah ini lari dari takdir Allah?" tanya Abu Ubaidah.

"Mestinya orang selain engkau yang mengatakan itu, wahai Abu Ubaidah. Benar, ini lari atau berpaling dari takdir Allah ke takdir Allah yang lain. Tidakkah engkau melihat, seandainya saja engkau memiliki unta dan lewat di suatu lembah dan menemukan dua tempat untamu, yang pertama subur dan yang kedua gersang. Bukankah ketika engkau memelihara unta itu di tempat yang subur, berarti itu adalah takdir Allah. Demikian juga apabila engkau memeliharanya di tempat yang gersang, apakah itu juga takdir Allah?" tanya Umar.

Abdurrahman bin Auf kemudian datang, sebelumnya dia tidak hadir dalam pertemuan itu karena dia sedang mencari dan memenuhi kebutuhannya.

Abdurrahman lalu berkata, "Saya tahu tentang masalah ini. Saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Jika kalian berada di suatu tempat (yang terserang wabah), maka janganlah kalian keluar darinya. Apabila kalian mendengar wabah itu di suatu tempat, maka janganlah kalian mendatanginya."

Inilah Islam sebagai ideologi sekaligus solusi telah mengajarkan bagaimana Rasulullah dan para Sahabat dulu mengatasi masalah demi keselamatan umat,  bukan hitung-hitungan untung dan rugi. Semoga kita semua selalu dalam lindungananNya.W Wallahua'lam bishshawab.
 
Top