Oleh: Novi Apriliani
Penulis di Komunitas Muslimah Rindu Surga

Pengesahan Amandemen Undang-Undang Kewarganegaraan India “Citizenship Amendment Bill” (CAB) yang dilakukan oleh Narendra Modi ( Perdana Menteri India ) pada Desember 2019 menjadi polemik dan memicu kerusuhan antara pemeluk Hindu dan Islam di New Delhi, India.

Parlemen India menerbitkan undang-undang yang akan memberikan kewarganegaraan India kepada para imigran , kecuali jika mereka adalah Muslim.

Undang-Undang Kewarganegaraan di India ini menjadi kontroversial karena mengizinkan pemerintah setempat memberi status kewarganegaraan terhadap imigran yang menerima persekusi di negara asalnya seperti Bangladesh, Pakistan, dan Afghanistan.

Akan tetapi, status kewarganegaraan itu hanya diberikan kepada imigran pemeluk agama Hindu, Kristen, dan agama minoritas lainnya selain Islam.

Akibat kontroversi Undang-Undang “CAB” tersebut yang sangat jelas mendiskriminasi umat Islam, maka dari itu beberapa umat Islam yang berada di India berunjuk rasa untuk melakukan aksi protes. Namun kelompok Ekstrimis Hindu yang mendukung Undang-Undang tersebut tidak terima dengan aksi protes yang dilakukan umat muslim si India, sehinggga kerusuhan pun tak terelakan.

Kelompok ekstrimis Hindu yang mendukung dengan kebijakan yang diterbitkan oleh Narendra Modi itu melancarkan berbagai serangan kepada kaum muslim di India.
Mereka membakar kendaraan, masjid, toko-toko milik umat Islam bahkan sampai menyiksa (memukuli ) orang-orang Islam yang berada disana.

Akibat rusuh dan pembantaian di ibu kota India itu, pemandangan kota kini meninggalkan petak-petak bekas puing, sehingga  tampak seperti zona perang.
Itu terlihat dengan  masjid-masjid yang terbakar, toko-toko dan bangunan-bangunan lain, pecahan kaca dan kendaraan yang hangus.

Saudara kita muslim di India diserang karena kemuslimannya.
Sementara itu, ormas Islam dan penguasa muslim masih bersikap basa-basi sebagaimana rekomendasi dalam kerangka diplomasi Barat, jauh dari menunjukkan sikap pembelaan utuh sebagai sesama muslim.

Padahal sudah seharusnya kita sebagai saudara sesama muslim, terlebih Indonesia merupakan negeri kaum muslimin terbesar harus berempati dan berkontribusi dalam memberikan bantuan kepada sesama saudara muslim lainnya yang sedang terdzolimi atau sedang terampas hak-haknya.

Rasulullah shollallahu a’laihi wasallam bersabda :
 ''Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling mencintai, saling menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh, bila ada salah satu anggota tubuh mengaduh kesakitan, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakannya, yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.'' (HR Bukhari dan Muslim).

Hadits tersebut mengajarkan kita dua hal yaitu :

Pertama, kaum mukmin merupakan satu tubuh yang saling terkait dan menyatu.
Penyakit yang terdapat pada sebagian mereka akan dapat berpengaruh kepada bagian lainnya bila tidak ada pencegahan dan sebaliknya.

Kedua, karena satu tubuh, kaum mukmin semestinya secara otomatis dapat merasakan penderitaan dan kesulitan yang dirasakan saudaranya yang lain. Seraya ia berupaya agar penderitaan dan kesulitannya itu berkurang hingga hilang sama sekali.

Umat butuh akan sosok pemimpin negara yang sigap ketika mendengar ada rakyatnya yang tersiksa, yang akan senantiasa menjaga dan melindungi seluruh rakyatnya dari berbagai ancaman dan bahaya.

Dan juga perlunya peran serta Negara yang mampu untuk menjadi Perisai ( pelindung ) bagi umat muslim di seluruh dunia. Tidak hanya untuk melindungi umat muslim di dalam negeri tetapi juga di negara-negara lain yang dimana terdapat penindasan terhadap kaum muslim.

Peran Negara sebagai perisai (pelindung ) umat sebenarnya telah dicontohkan pada masa pemerintahan Rasulullah Shollallahu a’laihi Wasallam yang dilanjutkan oleh para sahabat pada masa dahulu, yang segala aturannya berpegang pada aturan-aturan syariat islam sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an dan sebagaimana yang telah di contohkan oleh Rasulullah Shollallahu a’laihi Wasallam.
Serta telah terbukti kegelimangan masa pemerintahan yang berpegang pada aturan-aturan syariat islam tersebut dapat menguasai hampir 2/3 dunia.

Agar penindasan dan tingkat diskriminasi terhadap umat muslim berkurang drastis, sudah selakyaknya kita kembali pada aturan-aturan syariat islam dalam bernegara ini.
Dan juga agar rahmatan lil a’lamin dapat terwujud dimuka bumi ini.

.. Wallahu a’lam bish-shawab ..
 
Top