Oleh : Nibrazin Nabila
Pendidik dan pegiat dakwah

Siapa tak kenal tiktok, aplikasi yang sedang digandrungi saat ini. Peminatnya tidak hanya oleh kaum millenial saja, tapi  anak-anak, ibu-ibu bahkan pejabat menyukai aplikasi ini. Tiktok memberikan special effect yang unik dan menarik yang dapat digunakan oleh penggunanya dengan mudah, sehingga dapat membuat video pendek dan dapat dipamerkan kepada teman-teman atau pengguna lainnya. Tiktok menyuguhkan berbagai musik yang asik yang membuat penggunanya dapat melakukan performanya dengan tarian, ekspresi dan gerakan. Tidak heran jika eksistensi aplikasi ini kian melejit.

Apalagi ketika merebak wabah virus Corona seperti saat ini. Pemerintah Indonesia sudah memberikan anjuran untuk berdiam diri dirumah guna mencegah penyebaran virus corona. Tetap dirumah dan menjaga jarak sosial menjadi hal yang baru bagi sebagian orang yang kita kenal dengan  social distancing. Kondisi ini tidak jarang  membuat bosan sehingga mereka beralih ke aplikasi media sosial untuk berbagi hiburan ditengah pandemic virus Corona yang sedang berlangsung, salah satunya yaitu Tiktok. Mereka merasakan kepuasan tersendiri dengan bermain Tiktok, selain pengusir jenuh juga sebagai ajang eksis di dunia media sosial.

sistem kapitalis dengan ide  liberalisme, telah menggiring masyarakat untuk berperilaku bebas baik dalam berpendapat, beragama, juga berekspresi. Bermain Tiktok adalah wujud kebebasan seseorang dalam berekspresi. Tanpa berpikir sisi baik atau buruknya perbuatan, sejauh mendatangkan manfaatnya pasti dilaksanakan. Penguasa dalam sistem kapitalis nyatanya telah gagal dalam membangun mental bangsa. Generasi muda dicekoki dengan virus liberalisasi yang membuat para generasi muda bebas dalam berbuat. Maraknya Tiktok tidak jarang menimbulkan kelalaian, bahkan  Para pejabat publik termasuk petinggi kampus turut latah menggunakan aplikasi ini. Mereka berpendapat bahwa ini hanya sebatas hiburan dan senang-senang saja, tidak merugikan bahkan berdampak positif karena membuat orang banyak terhibur.

Generasi muda yang hidup dimasa millenial ini adalah generasi labil. Generasi yang haus figuritas Figur idola mereka pun jadi beralih kepada artis tiktok yang penampilannya kece, fashion trendi, rambut warna-warni, ataupun oppa-oppa korea. Mereka berlomba-lomba meraih eksistensi diri, supaya menjadi viral dan terkenal hingga lupa bahwa mereka diawasi Sang Pencipta. Generasi Muslim pun kehilangan jati dirinya, mereka lebih suka meniru kebudayaan-kebudayaan barat hingga melupakan Tuhannya. Keyakinan mereka terhadap Allah nyaris terkikis habis. Mereka tidak merasa harus meneladani Rasulullah Saw yang  akan memberi syafaat kepada mereka kelak di akhirat.

Era liberalisme ini adalah era rusak. Demi viral dan terkenal, mereka terus eksis dengan melakukan hal-hal konyol seperti  tarian tiktok. Padahal Islam telah menetapkan  bahwa dunia ini hanya permainan dan senda gurau belaka. Semua tak lebih sekedaf tipuan dunia yang akan menyengsarakan baik di dunia  juga di akhirat. Seperti dalam QS. Ali Imran ayat 185,Allah berfirman yang artinya: “Dan sesungguhnya, pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan dalam syurga maka sungguh beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”.

Jika mereka menganggap tiktok adalah media hiburan yang menyenangkan, sebenarnya ada yang lebih menyenangkan dari joget-joget atau sekedar lucu-lucuan yaitu mengkaji dan membaca Al-Quran. Tidak perlu bergerak banyak, cukup duduk, baca dan mentadabburinya, iman kita pun akan meningkat dan juga berpahala. Juga harus diperhatikan khususnya Muslimah, tentang rasa malu. Dialah mahkotanya seorang wanita. Jika rasa malu dalam diri kita perlahan memudar, tak malukah dengan gelar  "Muslim” yang melekat pada diri kita?

"Malu dan Iman itu bergandengan bersama, bila salah satunya diangkat maka yang lainpun akan terangkat.” (HR. Al-Hakim).
Wallahu a’lam bis shawwab.
 
Top